Doa untuk Berkencan dengan Kuntilanak

“Astaga. Untung kamu enggak mati!” Begitu ujar ibu tercinta usai mendengar saya bercerita. Saya sudah menyaksikan ibu geleng-geleng tidak percaya sejak saya baru memulai menuturkan kisah yang mengagumkan itu. Di tengah cerita, wajah ibu saya terlihat khawatir, bahkan ibu berkali-kali menyayangkan kenapa saya tidak bercerita dari dulu-dulu. Tampak jelas ia sangat ketakutan kehilangan anaknya yang tampan dan paling berbakti ini. Kehilangan apa saja boleh. Kehilangan saya? Ibu seolah kehilangan dunia seisinya. Begitu kata-kata yang saya baca dari mata ibu yang teduh itu.

Saya selalu tertarik dengan dunia hantu dan segala cerita seputarannya. Bagi saya, dunia hantu adalah dunia yang seru. Dunia di mana ada Om Jin dan Jun, sahabatnya. Atau berisi Tuyul-Tuyul konyol di sekeliling Mbak Yul. Sejak kecil, saat kami masih ingusan dan belum bisa kencing lurus sambil menggambar mural di Sekolah Dasar, kami punya tradisi saling bercerita pengalaman horor masing-masing.

Ada teman saya yang menemukan pisang satu sisir subuh hari di halamannya, rangkaian pisang itu seolah tersenyum dan memamerkan gigi yang susunannya sama dengan milik teman saya itu. Ada teman saya yang melihat manusia cebol sebesar botol air mineral dengan telinga panjang menjulang dan mata yang membara. Ada yang dikejar monyet putih hingga depan rumah. Mendengar cerita mengagumkan itu, saya selalu hanya bisa melongo. Ada yang sedang main sore hari lalu diculik nenek tua dengan buah dada menjuntai sebesar Pepaya Bangkok Purba, ia dipaksa makan apel yang dikerumuni ulat. Lanjutkan membaca