Doa untuk Berkencan dengan Kuntilanak

“Astaga. Untung kamu enggak mati!” Begitu ujar ibu tercinta usai mendengar saya bercerita. Saya sudah menyaksikan ibu geleng-geleng tidak percaya sejak saya baru memulai menuturkan kisah yang mengagumkan itu. Di tengah cerita, wajah ibu saya terlihat khawatir, bahkan ibu berkali-kali menyayangkan kenapa saya tidak bercerita dari dulu-dulu. Tampak jelas ia sangat ketakutan kehilangan anaknya yang tampan dan paling berbakti ini. Kehilangan apa saja boleh. Kehilangan saya? Ibu seolah kehilangan dunia seisinya. Begitu kata-kata yang saya baca dari mata ibu yang teduh itu.

Saya selalu tertarik dengan dunia hantu dan segala cerita seputarannya. Bagi saya, dunia hantu adalah dunia yang seru. Dunia di mana ada Om Jin dan Jun, sahabatnya. Atau berisi Tuyul-Tuyul konyol di sekeliling Mbak Yul. Sejak kecil, saat kami masih ingusan dan belum bisa kencing lurus sambil menggambar mural di Sekolah Dasar, kami punya tradisi saling bercerita pengalaman horor masing-masing.

Ada teman saya yang menemukan pisang satu sisir subuh hari di halamannya, rangkaian pisang itu seolah tersenyum dan memamerkan gigi yang susunannya sama dengan milik teman saya itu. Ada teman saya yang melihat manusia cebol sebesar botol air mineral dengan telinga panjang menjulang dan mata yang membara. Ada yang dikejar monyet putih hingga depan rumah. Mendengar cerita mengagumkan itu, saya selalu hanya bisa melongo. Ada yang sedang main sore hari lalu diculik nenek tua dengan buah dada menjuntai sebesar Pepaya Bangkok Purba, ia dipaksa makan apel yang dikerumuni ulat.

Sial… kapan saya bisa pamer kalau saya punya pengalaman menegangkan begitu?! Makin keren hantunya, makin busungkan dada teman-teman saya. Saya tahu beberapa dari mereka pembual ulung. Tapi demi mendengar cerita hantu, saya seolah diajak ke dunia yang asing, penuh petualangan mengagumkan. Penuh bunga-bunga yang bisa menari maju-mundur-cantik. Saya pasang kuping dengan saksama dan bolak-balik menganga.

Saya mungkin keliru dan bodoh. Tapi gara-gara sering memaki, begitu cemburu pada bocah-bocah tengil itu, saya putuskan berdoa saja. Ya Allah… kalau Kau benar Mahakuasa, tunjukkanlah hamba-Mu ini hantu yang nyata. Tak perlu aneh-aneh dan menakutkan. Jin yang cantik kaya Jinny oh Jinny tak mengapa. Yang pintar nyanyi dan suaranya seksi kaya Pinkan Mambo pun saya tak menolak. Yang penting bisa lihat hantu. Asal jangan hantunya jalan-jalan ke Prancis, naik karpet terbang dan minta dijemput di bandara. Kabulkanlah doa hamba. Amin.

Melihat saya yang tak punya stok cerita hantu, suatu hari doa saya yang mengancam dan tidak tahu diri itu dikabulkan. Tuhan memang Maha Pemurah. Peristiwa ini yang kemudian membuka tabir dalam diri saya. “Sekali lihat hantu, di mana pun, kamu akan melihatnya lagi”, begitu mitosnya. “Ada satu lubang dalam tubuhmu yang ketika terbuka, tidak akan bisa ditutup kembali.” Barangkali Tuhan ingin berfirman: Dasar lu manusia lemah, ini Gua kasi melimpah, melebihi yang kamu minta!

Pengalaman menyeramkan yang membuat ibu saya geleng-geleng, jauh hari disebabkan oleh pertemuan dan kencan pertama terencana dengan seorang kuntilanak.

Alkisah. “Kalau kamu mandi, kamu akan diganggu kunti itu,” ucap senior saya suatu malam sepulang kemah. Kami baru pulang berkemah Pramuka dari hutan Sesaot di Lombok Barat. Kami pulang kemalaman dan memutuskan menginap di sekre saja. Malam itu tidak ada yang berani mandi. Saya justru semangat. Inilah waktunya! Saya mandi, sikat gigi dan sudah wangi. Bersiap kencan dengan si Kunti.

Baru saja terlelap saya dikagetkan oleh teriakan dan makian kawan-kawan saya yang sedang main kartu di ruang depan. Semua nama penghuni kebun binatang keluar dari mulut mereka. Katanya mereka diganggu setan, semua tunggang-langgang seperti gerombolan anak ayam mendengarkan petasan.

Ruangan depan kosong. Penakut semua. Diam-diam saya gembira, rupanya omongan senior saya itu benar juga. Ayo Kunti… muncullah. Saya ingin lihat wajahmu. Tak kunjung muncul. Saya pun terlelap. Dan lagi-lagi saya bangun kaget. “Waduh. Parah! Aku ditunggangi!” Dua kawan tidur yang tersisa di samping saya ikut ngacir. Tinggallah saya sendiri di tempat seram itu. Selain rumah saya jauh, saya tidak punya kendaraan, dan memang berniat bertemu si kunti di sini.

Saya terbangun lagi, kali ini disebabkan oleh suara lirih yang asing. Angin kencang, dingin masuk dari celah jendela kaca.

Saya menyaksikan sesosok bayang putih datang dari pohon beringin luar bangunan. Bergerak perlahan menembus tembok, pelan… pelan… bergerak mendekati saya. Saya yang tidur terlentang menyaksikan semuanya dengan saksama. Sesosok bayangan itu berdiri tepat di atas tulang kering saya. Saya menggigil dan terkesima. Saya memandangi wajahnya. Jantung saya berdegup kencang, ia menunduk, menatap saya. Matanya sayu di balik rambut menjuntai di wajahnya.

Tidak ada suara. Saya memandangnya lamaaaa sekali. Kami berhadapan dan duel mata di ruangan angker itu. Melihat saya yang tak berkedip, ia bergeser pelan. Kakinya tidak terlihat menyentuh tanah. Ia bergeser pelan lalu hilang menembus tembok menuju kamar mandi. Saya yang kaget kemudian berlari ke kamar mandi ingin mengejarnya. Ia hilang. Angin berembus dingin, pohon-pohon dekat jembatan di belakang bangunan melambai-lambai. Barangkali Kunti masih grogi, kembali ke sana dan sudah lelah begadang.

Saya gembira. Gila! Cita-cita saya punya cerita hantu yang keren terwujud akhirnya. Besok saya akan dengan sangat congkak membuka cerita, dengan menambahkan tudingan pengecut pada semua teman Pramuka SMA saya yang kabur malam itu. Merdeka sekali rasanya. Sebelum tidur pulas, saya menemukan sebuah koin 500 perak ada di samping bantal saya. Jangan dipakai uangnyaaaaa… Saya mendengar suara seseorang dari balik kamar mandi.

Kamu mungkin terkencing-kencing kalau berhadapan langsung dengan Kunti sejenis itu. Wajahnya putih pucat seperti berbedak sekenanya dengan tepung kanji, rambut panjang menjuntai dan saya rasakan kakinya yang dingin menyentuh kaki saya. Seandainya ia tersenyum atau tertawa, atau mendekat ingin mencium saya, saya mungkin akan berak di celana. Suzana dalam Malam Satu Suro tidak ada apa-apanya. Dan Kaka Deraj tidak mungkin bisa meniru sosok itu dalam filmnya.

Tapi bukan ini cerita yang membuat ibu saya geleng-geleng. Suatu malam saya masih dalam bus perjalanan ke Jogja. Usai menyeberang Selat Bali menuju Jawa, di seputaran Banyuwangi, orang-orang sudah terlelap. Mungkin gelombang laut yang begitu ganas sudah membuat semua orang kelelahan dan mengantuk. Hanya tersisa saya dan sopirnya yang terjaga. Jogja masih jauh, masih 12 jam lebih perjalanan. Saya baru saja memutuskan akan tidur, hingga sesuatu yang mengagetkan muncul di depan saya.

Seorang nenek tua berpakaian serbahitam dengan wajah peot dan pucat langsung muncul tepat di depan wajah saya. Saya kaget bukan kepalang. Ia menyentuh bahu saya dan berbisik. Ucapannya seolah keluar dari lubang neraka paling gelap. Napasnya yang panas terasa di wajah saya. Sementara punggung saya terasa beku akibat cengkeramannya.

“Maaasss. Tolong saya, Maaaas.” Ia memelas dan mengajak saya segera berlari. Saya menoleh sekeliling, orang-orang masih tidur dan si nenek tua kembali memohon: “Masss. Tolong, Maaas.” Saya menggeleng dan tak tahu harus berucap apa. Nenek itu menarik tangan saya. Saya yang tak bisa menolak terbius dan mengikuti langkahnya. Kami berlari kencang ke arah sopir. Belum habis penasaran saya, bagaimana bisa kami lari dari bus yang berjalan kencang ini, ia melompat dan tiba-tiba kaca depan bus pecah menjadi jalan lurus membentang. Semua putih. Tidak ada apa-apa kecuali sebuah bangunan besaaaaar di ujung jalan.

“Ayo, Maaaasss. Cepaaaat…” Nenek itu menyeret saya kembali. Saya tidak tahu apa yang mengejar kami. Ketika saya sudah kepanasan berkeringat, kami sudah berada di depan gerbang sebuah bangunan yang sangat megah. Ini mungkin surga, ucap saya dalam hati. Nenek itu mengajak saya masuk. Saya menolak sekuat tenaga. Saya mau ke Jogja dan bangunan ini jelas bukan kampus saya! Gadis-gadis di Babarsari akan sedih kalau saya tak kunjung datang.
Akhirnya nenek itu berlari masuk sendiri. Dari dalam gerbang yang segera tertutup, ia melambai meminta saya ikut. “Ayo, Maaaas…” Ia berteriak mengucapkan satu kalimat. Kalimat yang tak mungkin saya lupakan sampai kapan pun.

Wajahnya yang tua renta itu seolah mengabarkan mahaduka paling sunyi. Ia memanggil nama saya seolah melolong, membuat bulu-bulu di badan saya berdiri. Saya tidak mau. Saya harus ke Jogja dan cari pacar di kampus!

Ketika saya balik badan, sesosok makhluk besar seram dan gundul menghadang saya. Ia menyeringai membuka mulutnya. Kamu boleh segan dengan seringai Agus Mulyadi, tapi kamu bisa mencret melihat gigi makhluk ini. Kepalanya plontos dan wajahnya dipenuhi brewok. Sekilas saya membayangkan Surya Paloh yang diplonco dan ditonjoki kawan-kawannya waktu baru belajar nakal. Matanya merah menyala. Badannya menguarkan bau dan hawa panas luar biasa. Lebih seram dari bapak kos di awal bulan yang pura-pura batuk saat kamu keluar dari kamar dengan niat tulus ikhlas berangkat kuliah.

Ia lompat menerkam saya dan ingin menelan saya hidup-hidup, memasukkannya dalam perut yang tambun dan mungkin berisi cacing sebesar paralon PDAM. Saya berteriak ketakutan!

Tiba-tiba saya menemukan diri saya berkeringat duduk tergoyang di atas kursi bus antarprovinsi. Saya toleh kiri-kanan orang-orang sibuk dengan dirinya. Sebagian molor dan mungkin mabok darat. Badan saya dipenuhi tusukan duri rasanya. Saya tahu saya tidak bermimpi. Saya ingat betul detail peristiwa itu, meskipun peristiwa itu sudah hampir sepuluh tahun yang lalu.

Dan tentu saja saya percaya, sebab nenek tua itu sesekali masih menemui saya: berpapasan di jalan secara berulang-ulang. Bahkan  beberapa waktu lalu ia muncul dua kali. Ia datang selalu ketika saya janjian atau mau menemui Kepala suku Mojok: Puthut EA. Terakhir kali, sebuah malam ketika Mas Puthut sedang merayakan ulang tahunnya. Seminggu yang lalu. Entah maksudnya apa.[]

__________________
Catatan: Tulisan adalah versi awal dari “Tentang Kuntilanak dan Nenek Tua yang Selalu Muncul Setiap Saya Bertemu Puthut EA” yang pernah dimuat di situs mojok.com

Comments