kebun tembakaumu

kemiskinan, katamu
datang dari balik piring-piring nasi pagi kita
ia adalah langkah
dari perjalanan kita menuju kesatuan semesta
bagaimana kemiskinan bisa kau ceritakan kembali
jika piringmu sudah tidak ada lagi
hanya tangan menjuntai
lelah mencari sisa
semua cita-cita

tiga kali maulid
barisan tembakaumu
menanti berkali-kali

ia dibakar dalam gulungan kertas telpon
tanpa ada aroma keringatmu
mengharumkannya

maulid berlalu
sapi-sapi telah tumbang
telah dipotong dan dimasak
menjadi lauk
yang hanya berakhir basi di mangkukmu
tak ada keringat tanganmu
tak ada kecipak mulutmu
tak ada tawamu lagi
tak ada tawa teman-temanmu menghabiskannya

dari tanah yang jauh kau mencoba mencari aromanya
tapi hanya kau temukan rasa yang berbeda
dari rasa rokok ujicoba masa kecilmu
dulu itu

maulid berlalu
kemiskinan dan kebodohan
kehilangan dan kesunyian
menjelma menjadi kamu
menjelma menjadi asap tembakaumu
menjelma menjadi rancak suara gendang
yang tersisa di telingamu

pohon-pohon tembakaumu sudah mengering
rumah-rumah dibangun di sampingnya
jalan-jalan baru menjulur di depannya

dulu, keringatmu ada di sana
terbakar
menguap menuju matahari
membakarnya abadi
sebagaimana neraka yang menyala
memakan segalanya
membagi perih dan sakit
yang tak tertangguhkan rasanya

2016

Comments