sisa sisa segalanya

“siapa yang berhak mewakili suaraku,
jika kalian pergi
dan aku
kehilangan kata-kata
untuk mencegahnya?”

siapa yang berhak mewakili semua kehilanganku
jika tak pernah ada lagi siapapun
melintas di depan beranda rumah
sambil menyebutkan namaku?

kita telah mencoba kembali
merapatkan kembali jarak kaki kita
memutar roda mendekat
ke alamat rumah masing-masing
tapi tak pernah kutemukan lagi
cahaya mata yang sama
berpendar
dari balik
celah mata-matamu

di pantai yang sama
pantai yang pernah kita datangi itu, dulu
gerimis, angin laut,
tak membawa sehirup pun
aroma tubuh kecil kita
padaku
karang dalam dadaku
tak meninggalkan jejak kaki seorang pun
semuanya pergi, terhapus
dan tenggelam oleh karat garam
kemiskinan cintaku

rinjani tetap menjulang
sebagai mana rasa sakit
tak pernah bisa runtuh
sebagaimana dendam
sama sekali tak pernah bisa padam
tapi aku kini bukan gunung menjulang
aku bukan danau suci itu lagi

waktu mengubah rambutku
menjadi rambut yang berbeda
dengan rambut yang bisa kau usap dulu
dada ini bukan lagi tanah
di mana kau tanamkan
segala harapan dan mimpimu

kita telah mencoba kembali
berkali-kali
mencoba pulang
lebih dari angka
yang bisa kita ingat dengan cepat

tapi begitulah, tak ada yang bisa dicatat bersama
sebagaimana tak ada lagi
yang bisa direncanakan
pada hari-hari selanjutnya

2016

Comments