Tentang irwanbajang

Editor, Penulis dan Pekerja Buku. Juru Masak Pedas Ultraortodoks!

kebun tembakaumu

kemiskinan, katamu
datang dari balik piring-piring nasi pagi kita
ia adalah langkah
dari perjalanan kita menuju kesatuan semesta
bagaimana kemiskinan bisa kau ceritakan kembali
jika piringmu sudah tidak ada lagi
hanya tangan menjuntai
lelah mencari sisa
semua cita-cita

tiga kali maulid
barisan tembakaumu
menanti berkali-kali

ia dibakar dalam gulungan kertas telpon
tanpa ada aroma keringatmu
mengharumkannya

maulid berlalu
sapi-sapi telah tumbang
telah dipotong dan dimasak
menjadi lauk
yang hanya berakhir basi di mangkukmu
tak ada keringat tanganmu
tak ada kecipak mulutmu
tak ada tawamu lagi
tak ada tawa teman-temanmu menghabiskannya

dari tanah yang jauh kau mencoba mencari aromanya
tapi hanya kau temukan rasa yang berbeda
dari rasa rokok ujicoba masa kecilmu
dulu itu

maulid berlalu
kemiskinan dan kebodohan
kehilangan dan kesunyian
menjelma menjadi kamu
menjelma menjadi asap tembakaumu
menjelma menjadi rancak suara gendang
yang tersisa di telingamu

pohon-pohon tembakaumu sudah mengering
rumah-rumah dibangun di sampingnya
jalan-jalan baru menjulur di depannya

dulu, keringatmu ada di sana
terbakar
menguap menuju matahari
membakarnya abadi
sebagaimana neraka yang menyala
memakan segalanya
membagi perih dan sakit
yang tak tertangguhkan rasanya

2016

cerita sebuah puisi

cerita-cerita itu mendatangimu
menggoyang tempat tidurmu
membalik bantalmu
ia masuk dalam kepala
dan mengganggumu
memintamu menulis
dan menceritakan kembali

cerita-cerita mendadatangimu
sebagaimana suara nenek
menceritakan tanah yang asing
dengan nama nama asing
untuk tidur kita
yang akan membawa berpetualang
masuk dalam dunia yang asing pula

cerita-cerita mendatangimu
jika kau tak bisa menghindar
dari bidikan peluru cinta ke dadamu,
kesakitan panjang
akan bertahan abadi
dalam darahmu
neraka datang
dari peluru
yang menembus
jantungmu

di setiap ujung jalan pemberhentianmu
puisiku mengawasi dengan mata curiga
kapan kau kembali ke dalam cerita?
ke dalam pelukan masa-masa muda itu?

maka berlalulah tahun-tahun beku itu
tahun ketika kakiku tersesat
di gerbong-gerbong kereta
tahun ketika tanganku gemetar
menyentuh benda lain
selain jemarimu

2016

rahasia sebuah puisi

di balik kertas-kertas berdebu ini
telah kutulis segala rahasia

tentangmu tentangku
kuabadikan selamanya
meski tak seorang pun
selain dirimu
kelak akan membacanya

aku, matahari
redup di ambang batas zaman
hanya padamu kutuliskan
semua yang mampu kucatat dan kenangkan
bacalah, bacalah
dapatkan semua kesedihanku
kehilangan jejak kehidupanmu

telah kucatat sebagai rahasia
yang hanya kita catat
sebagai bukti
kita pernah hidup bersama
di dunia yang singkat
dan segera mengabur
dalam pelarian yang singkat ini
2015

1000 tahun melupakanmu

mana mungkin
seribu tahun
aku melupakanmu
sementara rinduku
hidup jutaan tahun
sebelum tanah ini dibangun
lalu dihapus dan dihilangkan

hatiku bukan ranting tua lagi
hatiku kini rotan
kau bisa melengkungkannya
tapi ia tak bisa kau patahkan

suara gendang beleq
telah lewat di seberang jalan
butiran nasi dan sambal
telah basi di tangan

seumpama tanah sendiri
yang tak bisa lagi
kita pertahankan
tangan kita telah lumpuh dan gemetar
angin api meniupnya
membakarnya dalam panas neraka
dan kutukan waktu

suara gendang telah lewat di seberang
suara orang berpesta telah usai
dan gulungan tembakau terakhir
telah diembuskan

pada waktu itulah aku kembalikan segalanya
merelakan yang pergi biarlah pergi
merelakan yang berlalu biarlah hanya jadi bahasa baru

hatiku akar pohon tua
keluar dari tanah dan tak bisa diluruskan
tak bisa dimasukkan

tak ada lagi kisah-kisah hantu di sana
tak ada lagi keramat sesaji
dipasang bersama nyala api
di bawahnya

cerita-cerita telah habis
suara hantu telah hilang
suara tawa kita
suara ketakutan kita
bahkan sudah tidak menggema lagi
kecuali
dalam kepala kita
sesekali saja
ketika kita mencoba menggali
tersebab sesuatu
yang tak terencana sebelumnya
2016

sisa sisa segalanya

“siapa yang berhak mewakili suaraku,
jika kalian pergi
dan aku
kehilangan kata-kata
untuk mencegahnya?”

siapa yang berhak mewakili semua kehilanganku
jika tak pernah ada lagi siapapun
melintas di depan beranda rumah
sambil menyebutkan namaku?

kita telah mencoba kembali
merapatkan kembali jarak kaki kita
memutar roda mendekat
ke alamat rumah masing-masing
tapi tak pernah kutemukan lagi
cahaya mata yang sama
berpendar
dari balik
celah mata-matamu

di pantai yang sama
pantai yang pernah kita datangi itu, dulu
gerimis, angin laut,
tak membawa sehirup pun
aroma tubuh kecil kita
padaku
karang dalam dadaku
tak meninggalkan jejak kaki seorang pun
semuanya pergi, terhapus
dan tenggelam oleh karat garam
kemiskinan cintaku

rinjani tetap menjulang
sebagai mana rasa sakit
tak pernah bisa runtuh
sebagaimana dendam
sama sekali tak pernah bisa padam
tapi aku kini bukan gunung menjulang
aku bukan danau suci itu lagi

waktu mengubah rambutku
menjadi rambut yang berbeda
dengan rambut yang bisa kau usap dulu
dada ini bukan lagi tanah
di mana kau tanamkan
segala harapan dan mimpimu

kita telah mencoba kembali
berkali-kali
mencoba pulang
lebih dari angka
yang bisa kita ingat dengan cepat

tapi begitulah, tak ada yang bisa dicatat bersama
sebagaimana tak ada lagi
yang bisa direncanakan
pada hari-hari selanjutnya

2016