Menjual Buku Tanpa Toko Buku?

Bisakah menjual buku online, tanpa toko, tapi hasilnya maksimal, oplahnya banyak seperti toko buku? Pertanyaan inilah yang ditanyakan Adhe, salah seorang tokoh perbukuan Jogja. Ia mengajukan pertanyaan ini pada dirinya sendiri dan pada kawan-kawan lainnya dalam beberapa sesi Jungkringan Buku yang dihelat beberapa insan perbukuan Jogja beberapa minggu belakangan ini.

Menurut saya, bisa. Sangat bisa bahkan. Dalam beberapa kasus–tapi bukan di Indonesia ya–angka penjualan ebook bahkan sudah melampaui penjualan buku fisik sejak 2012 lalu. Angka penjualan buku fisik online juga naik drastis. Untuk kasus kedua ini tak perlu riset mendalam, sebab Adhe dan kawan-kawan penjual lainnya sudah merasakan sendiri power penjualan online yang mereka kelola. Meskipun angkanya baru 300 eksemplar dan merambat pelan sampai mentok di angka 500, angka ini cukup menggembirakan bagi mereka. Wong ada kemungkinan baru di dunia maya aja sudah luar biasa banget to daripada jaman bahela dulu.

Saya punya gambaran begini:
Kita butuh sebuah marketplace khusus menjual buku yang kita inginkan. Anggap aja namanya JURAGAN BUKU, biar gampang disingkat JB. Kita bisa meniru dan modifikasi marketplace yang sudah ada, OLX, Bukalapak, Tokopedia, Lazada dsb. Bukankah di dunia buku juga ada istilah ATM, Amati, Tiru, Modifikasi. Nah, di JB, penerbit/penjual menjadi member yang bisa mengunggah sendiri buku dagangannya. Pengiriman tetap dari kantor atau rumah masing-masing. Jadi nggak ribet harus membuat gudang distribusi. Semua sistem sudah ditanam di sana, pembayaran dilayani robot. JB adalah galeri dan alat promo semata.

Bagaimana mendatangkan pembeli yang banyak? Mudah saja. Saya percaya bahwa sebuah usaha patungan yang dikelola banyak orang otomatis memiliki banyak mulut dan tangan sebagai marketing. Jika ada 10 pelapak, maka jika pelanggan masing-masing digiring belaja ke sana, angka pengunjung akan berlipat juga. Makin banyak lapak, makin banyak jaringan pelanggan mereka yang bisa dibawa belanja di sana. Ya sederhananya kayak mall atau pujasera, pembeli dengan kecenderungan masing-masing akan berdatangan di satu lokasi dan punya kemungkinan belanja lebih di lapak lainnya.

Untuk mendatangkan pengunjung yang baru, JB tidak didesain untuk menjual saja, tapi juga sebagai wadah interaksi pembaca, penjual dan pembeli. Sesekali kita lepas ebook gratis, misalnya ebook tentang resensi, merawat buku atau menulis. Atau bisa saja membagikan PDF 10% halaman awal/halaman tertentu sebuah buku sebagai bahan promo. Kita buat juga portal untuk chat haha hihi.

Dari mana Marketplace hidup? O tentu banyak. Tidak usah memikirkan rabat dari penjual. Penjual akan saling bersaing memberikan diskon pada pembeli, jadi jangan dimintai rabat lagi. Dana pengelolaan bisa dari iuran tiap member, atau jika dirasa rempong, marketplace biasanya untung dari kode unik pembelian. Marketplace bisa menambahkan 3 digit rupiah, misalnya 973 rupiah pada tiap transaksi. Kode unik ini diasumsikan menjadi keuntungan/biaya administrasi. Semua dibicarakan di awal biar nggak jadi riba dan masuk neraka.

Dan jangan salah, link, file yang bisa didownload juga bisa menghasilkan uang jika diklik. Dari situ biaya perawatan bisa didapatkan.

Tentunya memang nggak akan segampang konsep ini, kita butuh webmaster yang handal, orang yang bisa mengurus kerjasama dengan bank, kontak ekspedisi dan lain sebagainya. Yang jelas, membuat sebuah wadah seperti ini tidak akan seribet dan semahal membuat sebuah gudang bersama bagi para pelapak yang ingin menaikkan oplah penjualan yang selama ini mentok.

Kalau toh ribet, ya sudah kita berpikir simpel aja. Sebuah warung makan kecil yang enak mungkin memang tak perlu buka cabang atau memperluas warungnya. Ia hanya cukup meracik makanan enak, lalu membiarkan pembeli yang kehabisan datang lebih awal di hari berikutnya. Jadi ya kalau wes mentok di angak 300, yo gawe buku yang lain buat pembeli yang udah ngantri.

Rahasia Dapur Indie Book Corner

Grafik ini adalah grafik penjualan online kami via www.bukuindie.com/ (salah satu penerbitan yang saya kelola selama satu tahun di 2014. Terjadi lonjakan pembelian online di awal tahun, lalu secara merata turun dan naik lagi di bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun. Dari grafik ini (dan dari laporan real) kami bisa belajar banyak, bahwa minat pembelian online di Indonesia, terutama di web kami lumayan tinggi, meskipun fluktuatif.

Setelah saya analisa, turun naiknya angka pembelian buku ternyata disebabkan oleh satu sebab utama: buku baru terbit. Setiap satu judul buku baru terbit, pembelian meningkat dalam 1-3 minggu, pembelian menurun lagi di minggu keempat dan akan naik drastis lagi ketika ada buku baru.

Artinya, 3 minggu pertama terbit adalah waktu terbaik bagi penjualan setiap buku. Selanjutnya, popularitas buku tersebut mulai menurun dan cenderung stabil di angka sedikit sejak minggu keempat dan seterusnya. Fenomena ini terjadi di hampir semua buku yang kami terbitkan. Beberapa buku tetap terjual setiap minggunya jika terus diromosikan dan secara konten memang menarik bagi calon pembacanya. Sebenarnya ada juga beberapa buku yang penjualannya terus naik, buku ini biasanya punya kualitas lebih dibanding yang lain, atau penulisnya juga gencar mempromosikan buku dan dirinya.

Itu hanya pengantar dan gambaran singkat saja.

**

Awal tahun 2014, usai #PasarBukuIndie, kami melakukan rapat agak serius menyikapi beberapa fenomena buku dan pengalaman kami di beberapa tahun sebelumnya. Beberapa kesepakatan penting kami turunkan, di antaranya sbb:

1. Fokus penjualan buku kami berada di internet dan kami spesifikkan di website www.bukuindie.com.

Beberapa calon pembeli memang agak susah dan belum terbiasa belanja di website. Mereka lebih suka belanja via DM Twitter atau Inbox Facebook. Dalam skala yang kecil, proses ini tidak jadi masalah bagi kami, tapi jadi ribet jika terjadi dalam angka penjualan yang lumayan banyak. Maka dari itu, sebisa mungkin mereka digiring belanja di web, kalau susah, ya sudah kami terima aja daripada nggak jadi beli. Hehe.

2. Kami tidak lagi menjual buku di Toko Buku Besar. Semua perangkat penjualan kami fokuskan di penjualan online web. Toko-toko buku komunitas, toko buku alternatif masih tetap diajak kerjasama. Jika terpaksa harus menjual buku di toko buku besar, maka itu tak lebih dari kewajiban promo dan disebabkan oleh kondisi dan keadaan tertentu yang sifatnya sangat berbeda dengan konsep di atas.

Dengan demikian, rabat mahabesar dari toko buku bisa kami alokasikan ke diskon buat pembeli dan tambahan royalti buat penulis. Royalti penulis yang kami terbitkan bukunya bisa jauh lebih besar dari 10%, ini demi kebahagiaan para penulis.

Kami berniat berinvestasi agak besar di website. Menjadikannya tempat belajar dan menerbitkan tulisan. Juga sebagai tempat belaja yang asik, gampang dan menggembirakan.

Begitulah kira-kira.

Musyawarah Agung Buku Indie

Dengan hormat, Radio Buku bersama Indonesia Buku, Warung Arsip, dan para penggerak festival literasi akan menghelat Booklovers Festival pada 23 April–23 Mei 2014. Sehubungan dengan acara tersebut, kami mengundang saudara/i untuk berpartisipasi dalam Musyawarah Agung Buku Indie, sebagai rangkaian Booklovers Festival, yang akan dilaksanakan pada:

  • Hari, tanggal: Sabtu, 17 Mei 2014
  • Waktu: Pukul 14.00–17.30 WIB
  • Tempat: Bale Black Box, Jl. Sewon Indah No. 1 (pojok barat perpustakaan kampus Institut Seni Indonesia)

Bersama ini kami lampirkan peta lokasi acara, poster dan beberapa hal lain untuk memudahkan Anda berpartisipasi. Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasi, kami sampaikan terima kasih.

Sewon, 21 April 2014

Hormat kami,

Fairuzul Mumtaz, Ketua Pelaksana

TOR: MUSYAWARAH AGUNG BUKU INDIE

Runtuhnya rezim diktator totalitarian Suharto bersama Orde Barunya telah menjadi pembuka keran kebebasan dalam segala hal. Media-media baru muncul dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mereka muncul dari sekelompok aktivis pers yang selama ini takut bersuara, dibungkam dan disingkirkan kekuasaan. Wacana apa saja bergulir semaunya, deras, sekehendak siapa saja orang-orang yang berada di belakang media tersebut. Wacana-wacana yang selama Orba dianggap tabu dan susah mendapat tempat untuk dibicarakan segera hadir memenuhi ruang publik, menjadi perbicangan yang intens bagi orang-orang yang tertarik di bidangnya.  Peralihan orde ini berimbas pada kemunculan kelompok diskusi, partai politik baru, radio, televisi dan salah satunya adalah penerbitan buku. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Tikungan, Ruang Transit Komunitas Literasi

“Rumah baca tak harus hanya identik dengan meminjam dan mengembalikan buku. Lebih dari itu, Tikungan dibuat untuk ruang belajar bersama, diskusi, publikasi, pameran, pemetaan komunitas, pembangunan jaringan sekaligus ruang transit bagi penulis, seniman dan komunitas di seluruh Indonesia.”

tikungan 2Jika kamu seorang penulis, seniman, grup band atau pelukis, maka datanglah ke Rumah Baca Tikungan di Jember. Datanglah dan buat acara di sana! Rumah baca ini tidak seperti rumah baca kebanyakan. Banyak aktivitas sosial yang berlangsung di dalamnya. Tikungan ingin menghapus mitos bahwa rumah baca adalah tempat yang membosankan, berisi banyak buku yang hanya pasrah untuk dibaca dan dikembalikan ke raknya jika sudah selesai dibaca.

Mulai membangun dan menjaga hidup sebuah komunitas literasi di sebuah daerah tentu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi komunitas ini dihuni beragam kepala di dalamnya. “Selalu ada sebuah titik temu jika kita mau berpikir dan bekerjasama”, selogan semacam inilah yang menjadi titik awal keberangkatan beberapa anak muda di Jember Jawa Timur melakukan kegiatannya. Titik temu itu adalah buku dan ilmu pengetahuan. Dari dua titik ini mereka berangkat, membangun sebuah ruang yang mereka beri nama Tikungan, lengkapnya Kelompok Belajar Tikungan. Dari kelompok belajar itu kemudian dibentuk lagi sebuah ruang lain yang lebih fokus pada pendidikan, komunitas ini bernama Rumah Baca Tikungan.

“Kelompok Belajar Tikungan adalah kelompok yang ingin mempopulerkan budaya literasi di Kabupaten Jember.” ucap Arys Aditya, salah satu pentolan Tikungan.

Dalam komunitas ini, para anggota tidak terikat dengan mekanisme struktur yang baku. Komunitas dijalankan secara egaliter tanpa struktur, seperti ketua, wakil lengkap dengan divisi-divisinya. Komunitas hanya diisi beberapa koordinator kelompok studi. Mirip dengan ruang kuliah yang banyak belajar disiplin ilmu, Tikungan menjalankan program studi dengan cakupan yang beragam. Kelompok studi dipilah sesuai minat dan kecenderungan dari para awaknya. Ada  Studi Sastra, Teologi, Seni Pertunjukan, Filsafat Politik, Kedaulatan Ekonomi, Linguistik dan Bahasa, Perubahan Sosial, serta Lingkungan Hidup. Tentu saja studinya tidak terlalu formal dengan jadwal dan dosen yang tetap. Masing masing koordinator mencari pemateri, mencari data, riset dengan tim dan menentukan waktu serta ruang yang pas untuk kegiatannya. Intinya adalah belajar bersama.

“Kami sering bekerjasama dengan penerbit dalam penulisan buku, juga dengan penulis untuk melakukan bedah buku,” sambung Arys Aditya yang juga baru menerbitkan buku pada bulan Juli 2013 lalu. Selain rutin memublikasikan media, buletin, mereka juga kerap mengadakan kerjasama dengan beberapa penulis atau sastrawan. Berada di sebuah daerah geografis “Tapal Kuda” Jawa Timur, Tikungan menjadi semacam tempat transit bagi banyak komunitas. Komunitas sastra, musik, seni rupa dan lain sebagainya di seluruh Indonesia kerap datang dan difasilitasi penuh oleh Tikungan. Sebagai wadah literasi, Tikungan pun kerap menyusun agenda yang bisa dikerjakan bersama, seperti bedah buku, pameran, seni musik, seni tradisi dan lain sebagainya.

“Agenda terakhir kemarin adalah bedah buku penulis dari Tikungan dan penulis dari Jogja. Sebelum-sebelumnya, banyak juga penulis yang transit di sini dan berdiskusi,” sambung Arys. “Selanjutnya akan jalan lagi agenda lain seperti pemutaran film, pameran foto, grafis, kelas cerpen, essai, puisi dan usaha residensi.”

Irwan Bajang

*Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Tikungan: Tak Harus Lurus “Rumah Baca Tak Biasa Anak-Anak Muda Jember”

tikungan 1 Tak harus lurus! Itulah semboyan yang dipakai sekumpulan anak muda Jember Jawa Timur  ketika membangun sebuah rumah baca di daerah mereka. Rumah baca yang tak biasa.

Bermula dari percakapan di warung kopi; saling berbagi informasi buku dan saling pinjam buku, muncul niatan untuk membuat sebuah rumah baca sederhana yang dapat diakses dengan mekanisme lebih terbuka dan leluasa. Niatan ini mendapatkan muaranya ketika di sela-sela rehat Konsolidasi Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Universitas Sunan Ampel, Surabaya, Junuari 2009, Eri Irawan, yang juga alumni Pers Mahasiswa Jember memberikan sejumlah masukan dan tawaran terkait pendirian rumah baca. Pulang dari Surabaya, mereka berkumpul dan segera mendeklarasikan berdirinya Tikungan.

Kebanyakan Anggota yang terlibat memang pengurus PPMI. Selain aktif di dunia jurnalistik, para pendirinya juga kerap melakukan usaha pembacaan ulang terhadap budaya literasi di Jember. “Jadi pas. Rumah baca jadi semakin penting.” Ujar Arys Aditya, salah satu anggota aktif Tikungan.

Koleksi buku pertama dikirim sendiri oleh Eri Irawan (dan masih berlajut hingga kini). Jumlahnya memang tak terlampau banyak, tetapi sudah cukup untuk memulai sebuah rumah baca sederhana. Selain sumbangan anggota, buku-buku juga mulai berdatangan dari jaringan lain dan para donatur buku. Buku-buku tersebut dibuatkan rak yang bebas diakses banyak orang. Termasuk penduduk sekitar, termasuk anak-anak yang bermain setiap hari di sana.

Pada perkembangan berikutnya, Tikungan tak lagi dihuni hanya oleh kelompok jurnalis kampus semata. Ada banyak kepala lain yang mulai bergabung, lintas jurusan, lintas latar belakang. Dengan beragamnya manusia di sana, beragam juga hal yang bisa dilakukan.

Tak mudah mendirikan sebuah rumah baca yang memberikan garansi bahwa di dalamnya ada proses pertukaran gagasan, ada pencarian bersama dan sebagainya, yang tidak sekadar proses meminjam dan mengembalikan buku. Kiranya itulah yang membedakan rumah baca dengan, perpustakaan kampus atau tempat penyewaaan komik dan novel kebanyakan. Buku-buku dicari bersama, dibaca bersama, diulas bersama, juga dirawat bersama. Niatan menjadi rumah baca yang berbeda, “tak harus lurus” seperti selogan mereka inilah yang pada akhirnya membawa Tikungan menjadi rumah baca yang lain. Diskusi, riset, belajar, bedah buku, penerbitan, pameran, dokumentasi dan studi-studi kecil sudah mulai berjalan dari komunitas ini. Mereka juga membangun jaringan kuat dengan komunitas lain di seluruh Indonesia.

Irwan Bajang

* Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Catatan Ganti Tahun: Buku, Polemik dan Gosip Dunia Perbukuan 2013

gabungMenjelang akhir tahun 2012 saya mendapat kabar baik dari banyak teman di dunia perbukuan. Akan banyak buku bagus terbit di tahun 2013. Faktanya memang begitu. 2013 bagi saya secara pribadi adalah tahun di mana buku tak pernah seramai dan semeriah ini dirayakan. Bertaburannya buku dan animo penulis yang melonjak bisa dibuktikan dengan mendatangi toko buku dan selalu ada buku yang baru. Facebook, twitter , blog dan portal-portal tulis-menulis diriuhkan dengan buku-buku dari penulis yang baru saja rilis. Ajang lomba penulisan dipenuhi oleh penulis baru. Ramai. Ramai sekali. Sepanjang tahun. Seperti ramainya poster-poster politisi yang ngebet ingin sekali diperhatikan di seluruh ruas jalan Indonesia. Tanpa terkecuali.

Banyak buku bagus terbit, meskipun beberapa gosip yang saya tunggu realisasinya tak kunjung juga terbukti. Eka Kurniawan konon akan menerbitkan buku tahun 2013. Tapi toh akhirnya cuma konon. Puthut EA kabarnya juga akan menerbitkan buku fiksi lagi, entah novel atau kumpulan cerpen, tapi nihil. Beberapa buku Puthut yang terbit adalah buku nonfiksi. Kabar yang baik. Tapi sesungguhnya saya menunggu fiksinya. Cerpen-cerpennya sudah lama saya tunggu. Eka Kurniawan berhenti dari riuh sosial media dengan menonaktifkan akun-akunnya. Saya kira akan ada buku yang terbit, tapi nyatanya belum juga. Buku ketiga trilogi Sepatu Dahlan konon juga akan terbit, tapi nyatanya belum. Beberapa penulis muda yang saya sukai karyanya juga berencana seperti itu, tapi akhirnya kandas atas nama revisi, rasa malas dan hal-hal lain yang tak terjelaskan.

Riuhnya buku di tahun 2013 akan saya coba rangkum dalam tulisan ini. Bukan hanya buku yang terbit, tapi beberapa hal yang melingkupi dunia perbukuan. Isyu, gosip dan beberapa polemik buku.

Sebelumnya, saya ingin melakukan konfirmasi awal: Bahwa tentu saya tak bisa menulis semua buku yang penting dan tidak penting di tahun 2013. Beberapa catatan di bawah ini hanyalah catatan pribadi dari buku-buku yang saya ikuti. Data buku yang tampil juga hanya buku yang saya baca. Saya tak mau menambahkan buku yang masih saya raba-raba. (Pengecualian untuk beberapa buku yang belum saya baca akan saya berikan keterangan.) Demikian.

Buku-Buku yang Merah dan Marah

  • Edisi 5 Tahun bemipoetra 

Tahun buku 2013 yang panas ditandai dengan munculnya terbitan Edisi Lengkap 5 Tahun Jurnal Sastra boemipoetra. Buku ini menjadi genderang baru lagi perang lama yang nyaris tidak pernah antiklimaks. Sejak 2007 bahkan sebelumnya, boemipoetra melakukan serangan terhadap Salihara. Komunitas yang berbeda dan dianggap menjadi pusat kanonisasi sastra terbesar yang harus dihancurkan dominasinya. Lanjutkan membaca