Bermain Layout Ebook

Belakangan saya rajin baca dan belanja ebook. Terutama di google play. Walaupun sehari-hari saya bekerja di dunia buku cetak, saya tidak bisa menolak bahwa memang ada beberapa hal yang ditawarkan ebook dan tidak saya dapatkan di buku cetak. Harga jauh lebih murah, bisa baca di mana saja dan kapan saja, kecuali saat renang dan berkubang, atau sudah terlelap tidur. Ada fitur pencarian kata atau bagian tertentu, bisa diubah warna kertasnya, bisa diubah ukuran fontnya dan masih banyak lagi kelebihan lain. Tentu sebaliknya, ada banyak hal dari buku cetak yang tak bisa digantikan ebook. Terutama bagi pembaca buku aliran ultraortodoks.

Belakangan, aktivitas membaca saya memang kerap terganggu. Bekerja di dunia buku membuat saya selalu cerewet bukan hanya pada konten, tapi juga penyajian. Bagaimana sampul, bagaimana layout dan apa font yang dipakai. Sial. Hal-hal ini tidak penting banget bagi pembaca sejenis saya 6 tahun yang lalu!

Setahun belakangan saya mulai bermain ebook. Sementara baru fokus di google play. Alasannya jelas. Upload naskah segampang posting blog, dan buku bisa dipasarkan berbarengan dengan semua aplikasi android. Jika ada orang mau mengunduh game Clash of Clan atau Duel Otak, si ebook bisa nyangkut dan siapa tahu bisa dibeli. Jadi kalau Anda sedang main di goole play, ketik saja nama saya dan beli bukunya. Hehehe. Lanjutkan membaca

Memahami dan Menghafal Mantra Tata Letak Sebuah Buku

Ketika penulis membuat sendiri tata letak atau layout bukunya, sering kali mereka tidak menciptakan tata letak yang terbaik. Hal ini karena keterbatasan yang ia miliki. Memang tidak semua penulis wajib bisa desain dan layout buku, sebab tugas utama penulis adalah mati-matian membuat tulisan yang bagus. Tapi jika mereka bisa, hal ini akan menambah nilai bagi dirinya sendiri, terlebih di era media dan penerbitan buku yang makin melesat ini.

Di era media terbaru seperti saat ini, seorang penulis tak hanya butuh kemampuan menulis, ia perlu sedikitnya tahu tentang publikasi; membuat dan menulis blog untuk menyapa pembacanya, atau bermain di  media sosial untuk publikasi dan berinteraksi dengan khalayak dunia tulis menulis.

Dalam hal publikasi buku, selain menerbitkan buku di penerbit, seorang penulis juga bisa menjadi penerbit bagi dirinya. Sebenarnya penulis bisa memanfaatkan jasa-jasa freelance yang tersedia, atau jika bukunya diterbitkan di penerbit umum, mereka bahkan tak perlu memikirka hal-hal teknis itu. Tapi toh tidak ada salahnya jika penulis mencoba belajar. Dalam situasi tertentu, saya yakin akan berguna. Sesekali juga penulis perlu membuat ebook atau PDF yang bisa ia bagikan di blog untuk mengundang makin banyak pembaca. Nah, sedikit pemahaman dasar tentang tata letak akan membuat pekerjaannya lebih mudah. Lanjutkan membaca

Menulis Fiksi: Permainan 10 Kata Pertama

Ada kalanya kita bingung harus memulai menulis dari mana. Tidak peduli penulis pemula atau penulis profesional yang bahkan telah melakukan kegiatan menulis secara rutin setiap hari. Bagi penulis fiksi, baik itu cerpen, maupun novel, menemukan ide cerita belumlah cukup sebagai modal menulis. Kadangkala penulis fiksi sudah mendapatkan ide, plot dan siapa saja tokoh yang akan ia mainkan dalam tulisannya. Namun, kerap kali penulis bingung harus memulai dari mana. Dari awal, akhir, atau tengah-tengah. Mau menyuguhkan narasai dulu, dialog, konflik atau bahkan menempatkan penutup di awal cerita.

Kebuntuan semacam ini bisa jadi sangat mengganggu. Seorang penulis bisa diam di tempat, menatap layar komputer yang kosong, menggerakkan jemarinya yang sudah mulai gatal, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil diketik. Bisa jadi ini ciri awal munculnya penyakit penulis yang bisa disebut writers block. Lanjutkan membaca

Menerbitkan Buku Secara Mandiri

SETELAH menulis, penulis tentu saja harus memublikasikan tulisannya. Ada banyak pilihan ketika kita selesai menulis. Mengirimnya ke media, memublikasikannya ke blogatau website pribadi, atau menerbitkannya menjadi buku.

Untuk memublikasikan ke media, biasanya penulis mengirim ke koran, majalah, jurnal atau media apa saja. Untuk cerpen dan puisi biasanya dikirim ke koran atau majalah. Skenario dikirim ke Production House dan novel dikrim ke penerbit. Dari sanalah sumber penghasilan para penulis.

Honor di koran bervariasi. Koran lokal membayar Rp300.000,- sampai Rp600.000-, sementara koran nasional membayar lebih dari itu, bahkan angkanya bisa menembus Rp1.200.000,-. Majalah tentu membayar lebih. Sementara jika menulis novel, penulis biasanya dibayar dengan royalti. Royalti dihitung dari harga jual buku dan dibayarkan berkala, sebulan, tiga bulan ataun enam bulanan, tergantung kontrak. Atau dengan sistem jual putus, yakni sebuah naskah dibeli kontan dan dibayar penuh sesuai kesepakatan.

Selain itu, banyak juga penulis yang mengupayakan sendiri untuk menerbitkan karyanya. Mereka biasanya mendesain, mengedit dan mencetak lalu menyebarkan bukunya sendiri atau bersama tim. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova karya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, nah, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan bukunya sendiri.

Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing, baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping CD audio tersebut. Selain itu, penjualannya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi, karena makin banyak tersedianyakamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis misalnya, karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tersebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik. Di banyak negara, praktik self publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self publishing semakin dipenuhi oleh anggota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri, beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalti penulis pemula hingga 10%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulis marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal best seller. Karena itu, ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Penerbitan buku secara mandiri atau self publish (saya lebih senang menyebutnya indie), memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia.

Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah teknologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak misspersepsi tentang buku indie atau self publishSelf publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipakai jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut.

Setidaknya, saya menangkap ada praktik atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hal yang tak disadari oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan, buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicuci, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati lebih.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan dalam penerbitan sebuah buku:

1. Penyuntingan/Editing

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal.

Banyak orang beranggapan mengedit naskah hanyalah sebuah upaya membenarkan ejaan. Anggapan ini sangat keliru. Sebab mengedit naskah bukan hanya semata membenarkan, tapi juga mengoreksi secara utuh sebuah tulisan. Menjadikan tulisan itu sebisa mungkin menjadi tulisan sempurna yang tak bisa lagi direcoki dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; emang iya? Masa sih? Ngaco nih buku! dan lain sebagainya. Beberapa hal penting dalam penyuntingan buku setidaknya termaktub dalam poin-poin sebagai berikut:

  1. Restrukturisasi kalimat yang kacau,
  2. Koherensi kalimat dan pengecekan logika bahasa,
  3. Pemantapan gagasan,
  4. Pengaturan plot, penempatan ulang ide secara rapi dan tertata,
  5. Pengecekan fakta,
  6. Pengecekan catatan referensi,
  7. Dll.

Dalam beberapa kasus, terutama dalam skala penerbitan besar, seorang editor bahkan merancang juga konsep, ukuran buku, sudut pandang penulisan, pemilihanfont, rencana cover dan rencana distribusi serta pemasaran. Juga termasuk pembangunan isu serta koordinasi timbal balik antara penulis dan penerbitnya. Pada bagian  inilah, peran penting seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layoutcoverproof, cetak, promosi, dan distribusi.

2. Penyelarasan Aksara/Proof Reading

Penyelaras aksara atau biasa disebut proof reading adalah tahap lanjutan dari editing buku. Ibarat mengecat sebuah motor atau mobil, bagian ini adalah bagian penghalusan, clearing, sehingga hasilnya makin mengilap, tidak ada bagian cat yang tak rata dan sebagainya.

Dalam penyuntingan, proof reading mengoreksi ulang hasil seorang editor. Mengecek kembali ejaan yang masih keliru, penulisan catatan kaki, hypenation atau pemenggalan kalimat, dan beberapa hal yang terlihat sepele lainnya. Posisi ini sangat vital, sebab seorang editor tentu tak luput dari kesalahan lain yang ia kerjakan. Proof reading menekan kemungkinan kesalahan yang tak diharapkan.

Seorang proof reader bahkan kadang membaca secara terbalik kalimat-kalimat dalam sebuah naskah buku agar ia bisa benar-benar konsentrasi memeriksanya kata per kata.

3. Tata Letak/Layout

Tata letak menyangkut bagaimana sebuah buku dirancang isinya, ukuran font, mau rata kiri kanan atau rata kiri saja, format quote, dan lain sebagainya. Dalam proses ini jugalah sebuah tulisan dirancang semenarik mungkin tanpa mengabaikan bagaimana konsep isi. Tata letak juga memasukkan gambar, foto, ilustrasi dan tabel untuk mendukung beberapa fakta sebuah buku. Tugas layouter atau setter adalah menjadikan buku nyaman untuk dilihat dan dibaca.

4. Pembuatan Sampul/Cover

Please Judge a Book with It’s Cover! Buku dengan cover yang asal-asalan adalah buku yang dibuat tidak sepenuh hati dan tidak serius. Sebuah cover harus dirancang sebagus mungkin, proporsi warna yang pas, perwakilan sebuah gagasan besar, juga sebagai ciri khas seorang penulis atau sebuah penerbitan. Cover bisa dibuat manual dengan skets, lukisan atau dengan software grafis seperti corel draw, photoshop atauadobe ilustrator.

5. Cetak

Tahap berikutnya adalah menyetak buku. Tahap ini jangan dianggap sepele. Pada tahap inilah sebuah penerbitan atau seorang publisher buku indie harus bergerilya mencari partner yang pas dan seimbang. Sebuah buku yang disusun dengan bagus kan tidak mungkin bagus jika eksekusi akhirnya tidak maksimal. Pilihan jenis kertas,cover, laminasi dan penjilidan yang rapi akan membuat prestise sebuah buku juga akan naik.

6. Distribusi dan Promosi

Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku, kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi, seperti buku foto ataudiary yang diniatkan untuk kalangan sendiri atau terbatas.

Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proofcover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.

Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita sendiri? Gampang! Teknologi sudah berkembang sangat pesat. Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebookebook akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggaldownload dan baca. Canggih! Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita hanya tinggal telepon dan pesan, maka buku akan segera di tangan.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebooktwitter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu sms atau telepon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca. Simpel sekali!

Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda. Banyak penyedia blog gratis,bloggertumblr dan wordpress adalah yang paling popular. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup mengeluarkan beberapa uang Anda untuk memesan domain website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda sukai, http://www.bukusaya.commisalnya, atau http://www.namasasayasiapa.com. Sangat gampang.

Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti kafe, distro, toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau dalam tenggat waktu tertentu. Tapi jika Anda tak mau repot, Anda juga bisa memajang buku Anda di toko buku langsung. Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN buku saja. Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau menggunakan jasa distributor untuk pemasaran yang lebih jauh dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari harga netto buku, atau 50%-65% untuk memakai jasa distributor.

***

 

Ketika memutuskan self publish, beberapa fase di atas tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus ketimbang penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktik self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja profesional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

 

@IrwanBajang

(Curhat Editor) Menguasai Bahasa Menulis Fiksi

Apa jadinya jika seorang pendekar pedang tak paham karakter pedang yang ia gunakan? Tak paham bagaimana tajam, berat dan ukuran pedangnya? Tidak mengerti bagaimana mengayun, menusuk dan menyabet ke arah musuh?

Belakangan ini saya makin banyak mengedit beberapa novel dan cerpen. Sebagian bagus, sebagian lagi nggak terlalu bagus. Dari kegiatan ini, setidaknya saya bisa menyimpulkan satu hal: Kendala terbesar yang dihadapi penulis adalah rata-rata mereka memiliki penguasaan yang tidak bagus terhadap bahasa. Padahal, bahasa adalah senjata atau perangkat wajib bagi penulis dalam bekerja menghasilkan karyanya.

Masalah ini menjadi akut ketika seorang penulis menulis tanpa banyak membaca. Tanpa membaca, logika bertutur mustahil akan bagus. Keadaan paling kacau adalah ketika penulis tak paham bagaimana meletakkan titik atau koma dalam kutipan dialog tokohnya. Padahal, bagi saya,  ini adalah jurus dasar menulis. Seorang penulis harus paham bagaimana menulis yang baik. Kalau malas belajar EYD, setidaknya belajarlah dari buku yang sudah terbit dan disunting dengan baik. Minimal, bagimana menulis tanda kutip dan titik koma dalam dialog.

Bayangkan, ada penulis yang menulis titik setelah tanda kutip di satu dialog,  dan menulisnya di dalam tanda kutip pada dialog lain. Ah, ini keterlaluan! Tidak konsisten dan seolah meraba-raba bagaimana menulis tanda baca yang benar. Belum lagi penggunaan titik yang kebanyakan, tanda tanya dan tanda seru yang melimpah ruah. Hei, menulis untuk umum itu tidak boleh disamakan dengan menulis diary!

Itu baru kesalahan umum dan terjadi pada tingkat dasar sekali dalam menulis. Belum lagi dengan masalah efektifitas kalimat, pemborosan kata dan logika bercerita. Ayolah, editor itu bukan penyempurna tulisan, tapi teman mengobrol dan kosnsultasi bagi penulis. Penulis harus belajar dan belajar!

Jika membaca, seorang penulis tidak lagi hanya menjadi pembaca pasif seperti orang yang bekerja bukan sebagai penulis. Penulis membaca sambil bekerja, pekerjaannya adalah belajar dan menganalisa bacaannya.
Dalam beberapa situasi, penulis bisa disamakan dengan pendekar. Pendekar yang tak paham dengan pedangnya bisa saja menjadi ancaman bagi orang lain dan dirinya sendiri. Paham senjata, paham perangkat, baru bekerja.
Good Luck! @irwanbajang