Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu (Unduh Gratis)

white_hors_by_kruffka

 

Love of my life, you’ve hurt me / You’ve broken my heart and now you leave me / Love of my life, can’t you see? *

Tidakkah kau lihat. Bagaimana luka ini kau hadirkan sebab sebuah kepergian? Kau menyuruhku pulang. Tapi telah kau siapkan bagiku sebuah cara yang sakit untuk sebuah kematian.

Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku selalu membayangkan menunggang kuda. Melintasi jalan-jalan berumput kering, belok kiri di sebuah jalan penuh semak. Turun naik pada bukit-bukit berbatu. Lalu di bukit ketujuh, aku akan melihat rumahmu di bukit seberang. Di sanalah aku akan datang. Di sana kau tinggal dengan anjing kecilmu. Kau hidup di sana, bersama sebuah sumur di belakang rumah yang setia, sebuah pancuran, dan sebuah kolam berisi anak-anak ikan emas yang manis.

Aku membayangkan diriku si penunggang kuda dari desa yang jauh. Hanya berbekal keinginan dan kerinduan, aku mendatangimu.

Lalu aku membayangkan kau keluar. Menatapku dari balik jendelamu. Kau mengganti pakaian, mengenakan pakaian terbaikmu. Mengikat rambut, lalu menutupnya dengan selendang tenun warisan ibumu. Kau berias sebisa kau mampu. Sebentar lagi kudaku akan tiba. Dan demi mendengar derap kudaku datang dari kejauhan, kau akan keluar. Menyiapkan pelukan terhangat untukku. Lanjutkan membaca

November yang Basah, Desember yang Lembab

November yang basah telah usai, dan inilah aku, aku yang akan menghadap pada bulan di ujung tahun.

Seperti biasa, kita akan merutuki waktu yang selalu terasa berlalu cepat. Dan aku, adalah orang yang selalu merasa banyak sekali telah tertinggal. Tertinggal oleh laju waktu, tertinggal banyak jejak, tertinggal oleh kenangan dan tertinggal ratusan harapan. Bagaimana harus kuceritakan padamu? Adakah bahasa yang layak, adakah kalimat yang jangkau? Lihatlah, inilah aku: manusia yang kehilangan diri. Manusia yang berjalan menyusuri malam yang patah hati, dan hari-hari yang basah oleh harapan! Seperti November yang basah, Desember yang lembab, dan tahun-tahun yang akan segera dijelang banyak orang.

Di luar, seperti biasa, hujan membasahi Desember yang lembab. Orang-orang berkejaran menarik jemuran, membawanya masuk rumah, membiarkannya berangin-angin di ruang tengah. Mereka akan segera berkumpul. Di meja ada teko dan cangkir-cangkir teh hangat. Mereka lalu menyalakan televisi, menertawai mimpi, menghiba pada iklan-iklan. Dan begitulah, aku tetap di simpang jalan ini, berteduh sembari menghimpun tenaga. Tapi tak pernah lepas dari kerinduan.

Desember yang lembab, meneteskan hujan bercampur kenangan. Sementara aku, hanya bisa mengigaumu dalam rasa kehilangan yang makin dalam. Lanjutkan membaca

Kafe: Manusia Pejalan

Aku sedang duduk di sebuah meja kafe. Setengah batang rokok di tangan akan habis dalam dua atau tiga kali hisap lagi, dan aku tak ingin segera menghabiskannya.

Orang-orang di sekelilingku, mereka berbicara masing-masing, dalam topik yang asing, suara yang samar dan tak ingin aku ketahui. Apa yang harus kulakukan di tengah bising dan hiruk mereka ini? Buku? Beberapa lembar baru saja aku mulai, tapi begitulah, aku adalah seorang pembosan. Kuhisap lagi setengah rokokku, sisa dua hisapan lagi. Sementara kopi di gelas putih di atas mejaku akan segera tandas dalam satu atau dua teguk. Aku tidak ingin beranjak. Aku tidak ingin mengakhiri duduk sore di kafe ini. Kukeluarkan biskuit bekal jalan-jalanku dari dalam tas. Kunikmati sendirian. Kuhisap lagi hisapan terakhir sebelum hisapan penghabisan.

Apa yang pantas dirindukan oleh aku, seorang pejalan jauh, selain nama-nama kota, belokan jalan dan wajah-wajah asing manusia yang kutemui dalam perjalanan. Hidupku dari hotel ke hotel murah pinggir kota, tepi pantai, atau losmen-losmen dekat terminal singgah, stasiun atau pelabuhan. Kekasih? Jangan kau tanya! Aku banyak menyimpan cinta, tapi cinta yang sebatas harap. Aku lelaki pergi, yang tak tahu dan selalu ragu untuk mengurai lalu menyimpan cinta. Adakah cinta yang pantas untuk seorang pejalan abadi layaknya aku ini? Adakah satu saja nama yang abadi untuk seorang lelaki pergi?

Ini adalah hisapan rokok terakhir. Kututup bukuku dan kumasukkan dalam tas, biar kubaca lagi nanti ketika aku ingin. Kopiku juga sudah tegukan terakhir. Cepat sekali si waktu. Adakah memang yang bisa menghambat laju waktu? Kopi yang mendingin dan akan tandas, rokok yang sudah habis? Ah, waktu. Jika aku punya banyak uang, ingin rasanya membeli waktu. Biar kusimpan sendiri, kupakai semauku.

Sore mulai turun. Daun bringin di samping kafe telah berhenti berguguran, sebab panas dan matahari harus berpindah ke belahan dunia lain. Kubayar segelas kopi, lalu kulanjutkan perjalanan. Aku lelaki pergi, manusia pejalan, bahasaku kaki dan rumahku jalan.

Jogjakarta, November 2012

*Tulisan ini pernah saya posting di blog yang lama. www.sketsabajang.blogspot.com/ Sebab pindah ke blog ini, beberapa tulisan lama saya muat kembali di sini. Sebagai dokumentasi, juga pengingat bagi saya sendiri.

 

UFO!

 Itulah yang membuatku takut. Ia datang begitu tiba-tiba.

Sesuatu yang datang cepat, biasanya akan pergi dengan cepat pula.

Ia datang padaku ketika aku sedang asik di depan televisi, menonton berita yang itu-itu saja. Korupsi, suap-menyuap, demonstrasi mahasiswa, penembakan oleh aparat, perceraian dan pernikahan artis sinetron. Juga presiden yang hobi sekali menyanyi dan merias diri. Saat itulah dan di situlah ia datang. Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam. Ia hanya tersenyum. Lalu duduk manis di sampingku.

“Siapa namamu?”

Ia diam.

“Siapa namamu?”

“…”

Ia diam saja. Mungkin masih takut padaku. Mungkin ia tak gampang bergaul. Atau mungkin juga ia tak terbiasa berbicara dengan orang asing. Kubiarkan saja ia diam. Melamun sendiri. Bermain dengan pikirannya sendiri.

Sebenarnya aku juga lebih suka berdiam diri. Menghabiskan banyak rokok sambil menonton televisi. Aku tahu, tak ada yang menarik lagi di televisi. Bahkan jauh sebelum ini; televisi memang tak pernah membuat sesuatu yang berarti. Bagiku terutama. Tapi bagaimana lagi, dingin malam ini membuatku malas ke luar, menemui teman di warung kopi, berbincang hingga pagi. Malam ini dingin. Dan menghangatkan diri dengan selimut di depan televisi adalah pilihan yang paling bisa aku ambil.

“Hei. Siapa namamu. Jangan diam saja.” Ia masih saja bergeming. Menelungkupkan dirinya di lantai karpet berdebu dan ikut menonton televisi.

“Baiklah, kalau kau tidak mau diberi nama, biar aku carikan nama untukmu. Setuju?”

“…”

“Ah, dasar kau ini! Baiklah, hmmm, namamu… hmmm”

“…”

“UFO! Ya, namamu UFO!”

Ia tersenyum, mengedipkan mata beberapa kali. Aku tak tahu apakah ia menolak atau menerima. Setuju atau tidak. Hidungnya yang kecil tidak terlihat kembang kempis. Matanya, oh mata yang aku sukai, bagai bintang utara saat pukul setengah empat pagi. Mata itu menatapku sayu, berkedip sesekali dan suka terpejam agak lama, kira-kira hitungan satu sampai sepuluh anak kecil yang belajar berhitung.

“Kamu datang tak diundang, datang tiba-tiba. Dari itulah aku namakan kamu UFO! Kamu paham?” ia hanya tersenyum, sedikit sekali. “Ah, kau ini. Tapi sudahlah. Temani saja aku malam ini. Datanglah kapan pun kau mau. Meskipun tiba-tiba, tapi jangan pergi mendadak, aku tak suka kehilangan,” ucapku meyakinkannya. “Kalau kau mau pergi, jangan lupa pamit, ya?” Ia mengangguk. Tersenyum dan menatapku. Isyarat matanya menunjukkan, ia sepakat.

Ia yang manis, patut menerima nama yang manis. UFO! Bukankan nama itu nama yang bagus? Manis, manis dan sungguh manis.

Di luar, hujan turun deras, memercik ke jendela, membasahi daun dan batang pohon. Dingin. UFO, tertidur pulas di dekatku. Di bawah kakiku. Lanjutkan membaca