Selamat Tahun Baru, Denny JA

Selamat tahun baru 2016, Denny JA, King Maker yang tak pernah salah. Anda mungkin tidak sempat membaca tulisan dan ucapan selamat dari saya ini. Tidak mengapa, kalaupun tidak Anda baca, anggap saja saya sedang menulis untuk diri saya sendiri. Atau siapa saja yang berkenan membacanya.

Ketika kalimat-kalimat ini saya tuliskan, Anda mungkin sedang merayakan gemerlap tahun baru, entah di mana. Mungkin di luar negeri bersama keluarga, mengusir penat usai rapat panjang akhir tahun dengan tim di kantor Anda. Tahun baru, sebagaimana harapan semua orang, Anda pasti punya harapan yang besar akan kebaikan, kesehatan, kebahagiaan, bisnis yang lancar, karir yang makin gemilang. Seperti juga harapan Anda, saya juga berharap itu bagi diri saya sendiri.

Ketika tulisan ini saya mulai, mungkin Anda juga sedang kecewa. Ada ribuan trompet yang dianggap menistakan agama sedang disita. Para penjual terompet terpaksa bermuramdurja dan tahun baru mereka tidak bahagia. Anda mungkin ikut merasakan duka mereka. Sebab sebagai mana semua orang tahu, Anda pembela manusia dan kemanusiaan. Pembela gigih gerakan antidiskriminasi dan pendukung demokrasi. Semoga Anda tetap konsisten dan tidak pernah kehabisan tenaga untuk itu semua. Lanjutkan membaca

Badai Senjakala Media Cetak Memang Sudah Dekat, Kapten Bre Redana

Usai membaca Inikah Senjakala Kami… tulisan Bre Redana yang saya dapatkan dari tautan dinding facebook seorang teman, saya segera menjentikkan jari ke tombol share tulisan tersebut. Tak lupa saya sisipkan tulisan pendek untuk ngeksis sekaligus sebagai status facebook saya; “Ya gimana nggak ditinggalkan, esai di koran ini bahkan tidak ngomong apa-apa. Astaga! Bahkan di titik krusial ketika sedang membicarakan senjakala dan ketertinggalan dirinya sendiri. Parah.”

Tulisan pendek tersebut mungkin terkesan emosional. Dan saya akui memang iya. Meskipun sebenarnya status pendek itu lebih pantas saya klaim—karena itu tulisan saya sendiri—sebagai sebuah bentuk rasa heran dan ketidakpercayaan. Kok bisa tulisan seperti itu dimuat di kolom ‘khusus’ sebuah koran nasional dan di hari minggu pula. Hari di mana konon koran tidak selaku hari biasanya, sehingga koran minggu perlu ditambahkan rubrik sastra, rubrik hahahihi selebririti dan foto-foto yang aduhai jepretannya. Saya heran, di samping isi esainya yang menurut saya tidak berbicara secara tajam, tulisan ini ditulis oleh seorang seorang penulis cum jurnalis yang sudah malang melintang publikasi di koran cetak. Dan sialnya lagi, tulisan buruk ini ada di hari minggu. Hari di mana lebih enak bangun siang lalu sarapan yang enak dibanding baca koran. Apalagi kalau tidak langganan dan harus keluar ke perempatan.

Oh ya, kalau Anda belum tahu, saya baca tulisan ini di koran minggu edisi cetak yang didaringkan. Jadi bisa dibaca malam hari, sebab layar ponsel pintar tidak mungkin dijadikan bungkus pecel. Aha! Lanjutkan membaca

Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

denny jaSeno Gumira Ajidarma adalah seorang cerpenis dan jurnalis. Ia pernah menerbitkan buku Ketika Jurnalistime Dibungkam, Sastra Harus Bicara.  Di buku itu, Seno sedang ingin memberi sebuah solusi, bahwa sastra bisa menjadi cara ungkap akan fakta yang ada, fakta yang tabu disampaikan secara jurnalistik di era Orde Baru. Orde Baru menekan jurnalis dan media dengan represi. Jika mengancam, tangkap jurnalisnya, bubarkan medianya. Maka selain menampung kegelisahan para jurnalis, Seno ingin bilang bahwa sastra bisa menjadi solusi yang aman, sebab sastra—dengan caranya sendiri—lebih bisa menyentuh dan memperingati. Atau dengan alasan yang gampang, jika Suharto marah, seorang bisa berlindung dengan berujar, ini kan fiksi, Jendral.

Tentu saja maksud saya tak sesederhana itu. Ada banyak dimensi lain dalam dunia sastra yang bisa dipakai untuk membuat sebuah kritik. Memuat sebuah keluh kesah dan protes sekaligus. Jurus yang ditawarkan Seno tak semuanya terbukti aman. Dengan menulis fiksi satire, meskipun fiksi, seorang sastrawan bisa tetap diciduk, dibuang dan dipenjarakan. Sastra adalah cara lain berbicara tentang fakta. Di antara garis batas fakta dan fiksi itulah sastra bermain dengan cara yang unik. Dengan cara sastra.

Meskipun menulis cerpen dan lebih banyak berangkat dari temuan kerja jurnalistiknya di lapangan, cerpen Seno tetap tidak bisa disebut “Cerpen Jurnalistik”. Kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius tetaplah kumpulan cerpen, bukan kumpulan cerpen jurnalistik. Jurnalistik tetaplah jurnalistik dan cerpen tetaplah cerpen. Setahu saya, belum ada juga kritikus yang melakukan percobaan kritik dan menghasilkan sebuah genre “sastra baru” dari dua obyek tulisan tersebut. Dan saya rasa memang tak perlu ada. Karena Seno adalah cerpenis ketika menulis cerpen, dan ia adalah jurnalis ketika membuat tulisan jurnalistik. Kedua identitas itu berbeda dan tak bisa disatukan.

Hal ini senada dengan kemunculan dan populernya jurnalisme sastrawai. Juranlisme ini tak bisa disebut sastra, meskipun ia mengombinasikan tulisan jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Dua hal ini tidak sama. Kecuali kita membuat generalisasi ngawur tentang jurnalisme campur sastra, seperti kita mencampur bensin dengan oli, lalu memberi label baru “bensin oplosan”. Lanjutkan membaca

Lupakan Orang Tua yang Miskin, Bodoh dan Sombong Itu

Ada banyak cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan mengapa kita harus memaki.

Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.

Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.

Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.

Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.

Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.

Weslah. Gitu aja.

Jogjakarta, 4 Januari 2013.

*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.

Hei Penulis, Akun Twittermu Bukan Nama Penamu!

Twitter-writerPada situasi politik yang mencekam, memakai namamu sendiri untuk mengkritik lalimnya sebuah kekuasaan bukanlah cara yang bijaksana. Tindakan cerobohmu itu adalah jalan bebas hambatan menuju  bunuh diri yang sia-sia. Mata-mata segera melaporkanmu. Pasukan khusus menculikmu. Lalu selesailah. Namamu hanya diingat orang-orang terdekat. Kekasihmu, teman kontrakanmu atau teman berbagi bau napas di pangkal corong megaphone-mu. Dalam tradisi pemberontakan, penyaruan selalu dan sangat penting. Maka dalam tradisi ‘media perlawanan bawah tanah’, nama pena menjadi hukum wajib bagimu. Nasibmu ditentukan oleh kelihaianmu membelah diri.

Di era Suharto, kau mungkin tak banyak tahu, penulis-penulis Indonesia mana saja yang menyembunyikan identitasnya. Maka kepopuleran dan nama yang harum bukan target utama mereka. Karya dibaca, gagasan ditimbang dan diperhatikan adalah tujuan utamanya.

Dalam dunia seni dan sastra atau penulisan kreatif lainnya, mereka bisa menggunakan berbagai nama untuk genre atau gaya menulis yang berbeda. Tiap-tiap karya ditandai dengan nama yang berbeda pula. Saat menulis, mereka seolah memecah diri menjadi beberapa manusia. Diri yang lain menulis puisi, diri yang lain lagi menulis tentang tuhan, filsafat dan agama. Sementara alter ego menulis novel mesum atau bacaan liar berbeda.

Mungkin kau tak tahu siapa Yapi Tambayong, Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel,  nama-nama itu adalah nama samaran, seorang penulis bernama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Seorang penulis lintas genre yang sampai sekarang paling dikenal dengan nama; Remy Silado, bukan nama aslinya. Bukan nama pemberian bapak ibunya. Lanjutkan membaca

PANTAI PINK: Ceceran Bahan Bangunan Surga di Lombok Selatan

Muara di dekat Pantai Rambang. Di sana kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Obyek wisata paling terkenal di Lombok Timur barangkali adalah Gunung Rinjani, sebab di Sembalun Lawang yang terletak di kabupaten inilah jalan masuk menuju puncak bagi pendaki Rinjani berada. Selain itu, sepanjang jalan menuju Sembalun akan banyak ditemui  plang menuju air terjun, mata air, kolam renang, pemandian dan wisata air lainnya. Sebut saja Otak Kokoq, Lemor, Joben, Pemandian Pesanggrahan sebagai contoh wisata air yang ada di sana. Tapi kali ini, perjalanan saya adalah menyusur pantai sepanjang jalur timur ke selatan Lombok, bukan wisata air tawar, tapi air asin, laut dan pantai.

Kali ini saya sebagai tuan rumah membawa banyak sekali tamu, teman kantor dan teman kampus yang sudah lama sekali merencanakan perjalanan ke Lombok. Tiga orang sudah melanjutkan perjalanan ke Bali, usai mereka berlibur bersama di Gili Trawangan Lombok Barat. Kali ini, bersama lima teman lainnya, saya menyiapkan sepeda motor untuk berangkat. Maklum, jalur yang ditempuh lumayan akan panjang. Tak ada jeep, motor matic dan bebekpun jadi!

Usai sarapan makan tradisional dari pasar dekat terminal Pancor, kami pun melajukan sepeda motor kami. Perjalanan yang sempat terhenti akibat ban bocor sempat mencemaskan. Perjalan akan jauh dan jalan yang dilalui akan lama; berpasir, berdebu dan berbatu. Tapi karena tekad yang sudah membara, kami pasrahkan semuanya pada tukang tambal ban dan bensin eceran yang semoga banyak kami temui di jalan nanti.

Perjalanan dimulai, melalui kota Selong, tembus ke Klayu dan melewati Tanjung, kami melewati Pantai Suryawangi, Pantai Labuhan Haji dan Pantai Rambang. Di Rambang, sebuah kawasan pantai yang sebagiannya dipakai sebagai landasan udara bagi Angkatan Udara, kami sempat singgah. Gersang dan panas memang. Namun pantai yang bersih, tidak begitu bergelombang membuat kami menyempatkan istirahat dan menikmati suasana di sana. Inilah Rambang, sebuah pantai dengan beberapa pohon bakau dan karang-karang di ujungnya. Pasir putih dan hitam agak tercampur. Pohon-pohon meranggas karena panas. Kami minum air dari botol yang kami bawa dan mengambil foto untuk bernarsis ria sejenak. Berfoto di muara yang mirip danau kecil dekat pantai. Setidaknya nanti bisa dipajang di dinding facebook atau sekadar untuk membuat iri teman yang tak ikut perjalanan ke Lombok. Lanjutkan membaca