Ibu Sayur dan 10.000 Buku yang Ingin Ia Lepas

Saya punya langganan seorang penjual sayur dekat rumah. Sudah sekitar tiga tahun saya belanja di warungnya. Sejak ia masih berjualan di emperan sebuah ruko, sejak ia hamil besar dan hingga kini ia berjualan di rumahnya. Anaknya juga sudah besar, sudah bisa berjalan dan bicara. Namanya Bu Yani, ia adalah sosok penjual sayur yang rajin dan ramah, tak jarang kalau sedang belanja, saya terjebak di antara ibu-ibu yang sedang belanja sayur di sana. Sebagai laki-laki kadang saya agak rikuh. Apa aya, dapur harus tetap ngebul biar saya bisa bermain dan memasak. Maklum, waktu awal berlangganan, saya hanya hidup dengan kucing-kucing di rumah.

Bu Yani sempat bertanya pekerjaan saya apa. Mungkin karena saya kelihatan selo sekali, belanja kadang agak siang, kadang juga sore atau malam. Ia heran, kok ada pengangguran yang rajin beli sayur di tempatnya. Ketika saya jawab pekerjaan saya penulis, dia tampak terkesima. Lalu ia bercerita tentang hobinya membaca, koleksi bukunya dan bagaimana ia mendidik anaknya untuk suka juga membaca. Rupanya dia punya cerita yang panjang tentang dunia yang saya geluti. Bu Yani punya lebih dari 10.000 koleksi buku di rumahnya. Ia sempat membuat sebuah persewaan buku di Jogja. Karena sering berpindah rumah, kini usaha persewaan bukunya tidak berjalan lagi. Kini buku-buku tersebut tersimpan rapi di ruang tengahnya. Ruang tengahnya sudah serupa perpustakaan di mana anak-anaknya bermain. Lanjutkan membaca

Kisah Laptop Tercinta

Alkisah, beberapa hari belakangan ini laptop saya tercinta mulai bertingkah. Berkali-kali mati sendiri, dan nyala lagi diselingi tampilan blue screen. Hal ini membuat saya panik. Beberapa kerjaan tertunda. Mood sering berubah lantaran lagi asik pakai laptop, cusssss, mati. Jujur saya sedih dan khawatir.

Laptop ini merknya HP, seri Pavilion g6. Seri ini lumayan dahsyat kalau sekadar untuk main game, desain, layout, nonton film, apalagi hanya mengetik dan menyunting naskah. Sudah lebih dari cukup bagi saya yang nggak neko-neko main aplikasi aneh. Saya cukup punya corel, indesign, sotosop dan ms office. Sempurna sudah.
Laptop ini berjasa banyak sekali, skripsi saya rampung di laptop ini. 1 buku puisi yang cukup saya sukai, 1 naskah souvenir perkawinan, 1 naskah mahar nikah saya rampungkan, sunting, layout dan desain di laptop ini. Juga 1 naskah buku di mana saya jadi co-writer. Sisanya pekerjaan harian penerbitan, draft naskah, tulisan untuk antologi, dan postingan di blog. Jasa laptop ini tiada tara, semua biaya hidup saya 3 tahun belakangan saya dapatkan lewat layarnya.

Laptop dengan warna merah kesukaan saya ini saya dapatkan dari adik saya. Dia beli sewaktu membawakan saya hadiah Kindle sepulang dari kerjanya di kapal pesiar. Ketika akan balik ke Amerika, saya minta laptopnya. Kegedean buatmu, bro. Buatku aja. Tak bayar deh. Dia setuju. Lalu laptopnya saya bayar usai mampir di ATM ketika akan mengantarnya ke badara. Saya bayar tunai. Sebagai kakak yang baik dan tersayang, laptop ini cukup saya bayar seperempat harga saja. Haha.

Skripsi rampung, semua rampung. Saya makin sayang laptop ini. Layarnya lebar, ramnya besar. Kalau saya keluarkan di depan teman, mereka selalu bilang latop saya besar sekali. Saya balas, laptop ini enak buat kerja,terutama layout buku.

Barusan laptop ini mati lagi. Kerjaan saya tertunda lagi. Sebagai orang yang setia, susah bagi saya untuk nyaman memakai perangkat yang lain. Saya agak susah menyesuaikan diri, saya nggak suka ganti barang kalau nggak butuh sekali. Saya belum tahu harus bagaimana, saya nggak berniat menjual latop ini dan mengganti dengan yang lain. Selain belum ada anggaran, saya juga masih ragu dan malas berkenalan dengan perangkat baru lagi.
Kalau ada teman yang tahu solusi mengobati laptop ini, saya mohon sarannya. Saya sudah bawa ke 3 tukang servis, mereka bilang gak ada masalah. Saya bawa ke servis resmi, hasilnya juga sama.

Kalau pun nanti mentok tak ada jalan keluar, mungkin saya akan cari pengganti laptop baru, lalu membiarkan laptop tercinta ini jadi barang museum di ruang kerja saya.

Duh!

Rahasia Dapur Indie Book Corner

Grafik ini adalah grafik penjualan online kami via www.bukuindie.com/ (salah satu penerbitan yang saya kelola selama satu tahun di 2014. Terjadi lonjakan pembelian online di awal tahun, lalu secara merata turun dan naik lagi di bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun. Dari grafik ini (dan dari laporan real) kami bisa belajar banyak, bahwa minat pembelian online di Indonesia, terutama di web kami lumayan tinggi, meskipun fluktuatif.

Setelah saya analisa, turun naiknya angka pembelian buku ternyata disebabkan oleh satu sebab utama: buku baru terbit. Setiap satu judul buku baru terbit, pembelian meningkat dalam 1-3 minggu, pembelian menurun lagi di minggu keempat dan akan naik drastis lagi ketika ada buku baru.

Artinya, 3 minggu pertama terbit adalah waktu terbaik bagi penjualan setiap buku. Selanjutnya, popularitas buku tersebut mulai menurun dan cenderung stabil di angka sedikit sejak minggu keempat dan seterusnya. Fenomena ini terjadi di hampir semua buku yang kami terbitkan. Beberapa buku tetap terjual setiap minggunya jika terus diromosikan dan secara konten memang menarik bagi calon pembacanya. Sebenarnya ada juga beberapa buku yang penjualannya terus naik, buku ini biasanya punya kualitas lebih dibanding yang lain, atau penulisnya juga gencar mempromosikan buku dan dirinya.

Itu hanya pengantar dan gambaran singkat saja.

**

Awal tahun 2014, usai #PasarBukuIndie, kami melakukan rapat agak serius menyikapi beberapa fenomena buku dan pengalaman kami di beberapa tahun sebelumnya. Beberapa kesepakatan penting kami turunkan, di antaranya sbb:

1. Fokus penjualan buku kami berada di internet dan kami spesifikkan di website www.bukuindie.com.

Beberapa calon pembeli memang agak susah dan belum terbiasa belanja di website. Mereka lebih suka belanja via DM Twitter atau Inbox Facebook. Dalam skala yang kecil, proses ini tidak jadi masalah bagi kami, tapi jadi ribet jika terjadi dalam angka penjualan yang lumayan banyak. Maka dari itu, sebisa mungkin mereka digiring belanja di web, kalau susah, ya sudah kami terima aja daripada nggak jadi beli. Hehe.

2. Kami tidak lagi menjual buku di Toko Buku Besar. Semua perangkat penjualan kami fokuskan di penjualan online web. Toko-toko buku komunitas, toko buku alternatif masih tetap diajak kerjasama. Jika terpaksa harus menjual buku di toko buku besar, maka itu tak lebih dari kewajiban promo dan disebabkan oleh kondisi dan keadaan tertentu yang sifatnya sangat berbeda dengan konsep di atas.

Dengan demikian, rabat mahabesar dari toko buku bisa kami alokasikan ke diskon buat pembeli dan tambahan royalti buat penulis. Royalti penulis yang kami terbitkan bukunya bisa jauh lebih besar dari 10%, ini demi kebahagiaan para penulis.

Kami berniat berinvestasi agak besar di website. Menjadikannya tempat belajar dan menerbitkan tulisan. Juga sebagai tempat belaja yang asik, gampang dan menggembirakan.

Begitulah kira-kira.

Kucing Alien

kucing alienBeberapa hari yang lalu, saat pulang ke rumah, kami menemukan rumah dalam keadaan gelap gulita. Kaget juga rasanya. Ternyata listrik rumah kami mati, padahal rumah tetangga lainnya tidak terlihat ada masalah. Saya agak panik, ada yang korslet, pikir saya. Saya segera mencari kunci pintu depan di dalam tas saya.Di depan rumah, seperti biasa sudah berkumpul kucing-kucing. Mereka terbiasa menyambut kami pulang. Tapi ada yang aneh, biasanya mereka segera berlari ke depan pintu, menunggu saya membuka pintu. Atau kalau tidak sabaran, mereka lompat masuk lewat jendela yang sengaja selalu kami buka. Mereka masih berkumpul, ternyata mengerumuni sebuah benda. Saya perhatikan, ternyata ada kucing asing. Wah, ada tamu baru rupanya.

Kucing baru ini saya taksir usianya 3 bulanan, sama dengan 4 anak kucing kecil kami yang sedang mengepungnya itu. Kedatangannya yang entah dari mana, tampaknya tidak begitu menyenangkan bagi para tuan rumah. Dan lampu rumah yang padam semua di rumah kami membuat saya curiga. Kucing apa ini? Apakah ia alien? Apakah tubuhnya mengandung ion-ion aneh, elektromagnetik, gravitasi, pocari swet? Atau, ia jelmaan seorang prajurit yang dikutuk jadi kucing lantaran suka pada istri tuannya? Batin saya bertanya-tanya. Pikiran saya menyusun banyak kecurigaan tanpa saya sadari.

Ketika kami buka pintu, ia membuntuti para kucing sebayanya. Ikut masuk rumah. Si tamu asing ini berlaku layaknya bukan kucing asing. Ia ikut makan, ikut tiduran, ikut minum dengan nyaman dan santai. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan dan geraman empat kucing kecil lainnya. Seolah dia sedang pakai headset sambil mendengar Bob Marley nyanyi Buffalow Soldier. Duh, gayamu, cing!

Kami punya dua kucing besar. Rudi, induk dari semua kucing di rumah, satu lagi Wiwi, jantan usia enam bulan. Tentu saja Wiwi adalah anak Rudi. Anak gelombang ketiga kalau saya tidak salah ingat. Wiwi punya 4 saudara, lahir 2 hari setelah Pemilu. Nama mereka berempat adalah Jo-Ko-Wi dan Prabowo. Wiwi satu-satunya jantan yang kami miliki sampai agak besar. Jojo dan Koko diadopsi seorang temannya teman, dan Prabowo mati disrepet mobil. Wiwilah yang menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaannya pada si tamu asing tak diundang, alien ini. Ia mengaum mengusir, tapi si tamu asing cuek-cuek kucing. Ia malah mengambil alih bantal kecil tempat biasa para kucing berebut tempat tidur. Sebagai jantan paling berwibawa, Wiwi menyiapkan sebuah cara agar ia dihormati, si alien harus hormat padanya, sebagaimana 4 adik kecilnya menghormati Wiwi!

Kucing tamu ini agak unik memang. Warnanya putih polos, tapi dari kepala sampai ujung ekornya ada garis kuning keemasan. Garis lurus, melintang membelah punggungnya. Beberapa hari ini ia seperti pemilik rumah, manja pada kami, menggesek-gesekkan kepalanya di kaki, ikut lari kalau kami pindah tempat duduk. Tentu saja para kucing marah. Semalam, Wiwi menggamparnya, mirip adegan tamparan di sinetron-sinetron. Wiwi mau makan, si kucing alien mendekat dan ingin bergabung, kemarahan Wiwi memuncak. Seperti memberi peringatan, oi jangan sembrono koe! Wiwi menaikkan kaki kiri depannya, menggampar si alien. Alih-alih pergi, si alien cuma duduk memandangi Wiwi. Kalem. Peringatan pertama dari pejantan tuan rumah tak mempan. Tak dihiraukan.

Malam ini Wiwi berkelakuan aneh. Sebagai kucing jantan dewasa satu satunya, ia jarang sekali bermanja ria pada siapapun. Paling mentok hanya main tali dengan adik-adiknya. Maklumlah, ia ingin jadi sosok kepala keluarga, mengingat bapaknya cuma numpang buang berahi, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Rudi menjadi emak single parent yang galak dan perkasa.

Malam ini Wiwi manja sekali, ikut naik ke kamar dan goleran di keset. Saya ke kamar mandi, ia juga ikut. Ia menggosok gosokkan badannya di kaki saya saat saya duduk. Ada apa ini? Apakah dia mau kawin? Saya agak curiga, tapi toh usianya baru saja 6 bulan, masih terlalu belia untuk belajar kawin. Kucing biasa berahi menjelang usia satu tahun.

Tiba tiba terdengar suara lengkingan. Saya lari ke arah suara. Astaga! Si alien sudah terjerembab di bawah karpet. Bulu Wiwi berdiri semua, ia mengaum, matanya nyalang ke arah alien. Tak perlu jadi ahli kucing untuk paham bahwa Wiwi sedang dalam gejolak emosi, naluri berkelahinya keluar dan ia dapat mangsa yang tepat. Saya melerainya, mengusap-usap kepalanya, sambil berbisik, jangan, Wiwi. Kasian, dia cuma anak kecil. Tapi percuma, Wiwi sudah kadung muntab. Si alien dihajar sekali lagi sampai mental ke pintu. Duh kasian, Wiwi saya tarik dan saya berusaha menjauhkan alien darinya. Alien tampak sedih. Nampaknya malam ini ia mulai sadar bahwa ia tidak disukai. Kasian juga, saya belai dia, dia seolah ingin mengadu. Aku salah apa, mas? Kok dia jahat banget. Hikz. Saya jadi haru sendiri. Mungkin alien mau pulang, tapi ia tak tahu ke mana, ia tersesat di rumah ini. Ia terdampar di tengah gerombolan kucing yang tidak menyukai berbagi bersama kucing yang rada sok cool. Duh, dunia hewan memang aneh!

Saya sebenarnya tidak nyaman juga dengan si alien, kelakuannya terlalu manja. Padahal ia bukanlah siapa-siapa di tengah kami. Ia bahkan membuat para kucing ilfeel dan jarang pulang, jarang makan dan tidur di rumah. Si alien seperti pendatang baru yang igin menguasai. Saya kasiahan padanya, tapi saya juga kasihan pada kucing-kucing lain yang tak merasa nyaman dengan kehadirannya.

Tidak mungkin saya membuangnya. Memeliharanya juga jadi simalakama. Ia tak tahu diri, meskipun ia nampak memang lebih pintar dari kucing kami yang lain. Sebagai tamu, ia tahu di mana pasir tempat eek, tapi ia juga sembrono karena dengan tenang melenggang menuju bak air kecil tempat para penghuni rumah minum bersama. Ia melenggang tanpa menghiraukan pandangan sinis dan curiga para penghuni tempat numpangnya.

Saya tidak mungkin membuangnya, kasian, dia hanyalah kucing 3 bulan yang belum paham sopan santun dan tidak punya alamat untuk saya antar pulang. Tapi saya juga punya 6 kucing, agak repot juga kalau nambah satu lagi. Duh, alien.

 

Jogjakarta, Februari 2015

Kurban dan 2 Hal Lain yang Keren Dalam Islam

6279848391_b6d68323c2_b
Ada tiga hal yang paling saya sukai menjadi pemeluk agama islam. 1. Hari Raya Kurban, 2. Puasa Ramadhan, dan 3. Surat Al-Kafirun.

Pada Hari Raya Kurban, saya selalu merasa diajarkan berbagi, mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk orang-orang baik ataupun jahat di sekeliling kita. Saya suka sekali melihat orang berkumpul di Masjid, bekerjasama mengurus pangan lalu membaginya secara adil dan merata ke semua rumah di sekeliling Masjid itu. Tanpa terkecuali. Keyakinan dan kehidupan sosial, juga urusan perut dan keberlangsungan hidup terlihat membaur pada prosesi ini.

Kisah tentang Ibrahim dan Ismail yang tersohor itu merupakan salah satu kisah yang paling saya sukai, baik dalam kisah Quran, atau dibandingkan dengan kisah lain semacam dongeng, cerpen atau novel. Saya sering membayangkan diri saya sebagai Ibrahim, bapak baik yang suatu hari mendapat kejutan istimewa: Menyembelih anaknya sebagai bukti keimanan pada Tuhan yang saya yakini. Pada pemikiran rasional, dan jika saya berada di posisi itu, saya pasti akan menolak. Bagaimana mungkin saya harus menyembelih anak saya, ada banyak sapi, kambing atau unta yang bisa saya sembelih. Kenapa harus anak saya?

Saya akan bersikeras menolak perintah itu. Bagi saya, Tuhan tidak rasional. Adakah Tuhan yang meminta membunuh? Adakah Tuhan gila yang menguji keimanan dengan tantangan yang bahkan Ia sendiri tidak menyukainya? Tapi Ibrahim bukan saya, dan saya juga buka dia. Ibrahim yang tulus ikhlas menerima Tantangan itu. Ia menerima dan mempersembahkan anaknya ke hadirat Tuhan yang sama-sama ia sayangi.

Saya seringkali memikirkan ulang cerita Kurban ini, terlebih menjelang atau ketika hari raya begini. Saya kerap bertanya, inikah rasionalitas sesungguhnya yang sedang diajarkan Tuhan pada umat manusia? Barangkali Tuhan sedang ingin berkata: Hai Ibrahim, Aku tidak mungkin memintamu membunuh anakmu, itu tidak masuk akal. Aku hanya sedang memintamu mengorbankan hartamu untuk orang lain. Maka digantilah Ismail dengan domba dan menjadi cikal-bakal perayaan Hari Raya Kurban hingga saat ini. Penggantian ini juga sekaligus memutus sejarah banyak peradaban manusia yang mengorbankan darah dan atau jiwa manusia terhadap apa yang mereka puja. Ritual Kurban sebagaimana dilakukan banyak kepercaan purba berhasil diubah peristiwa ini menjadi ritual sosial. Kurban itu utuk diri dan masyarakat, bukan untuk sesuatu yang dipuja.

Mungkin Ibrahim waktu itu tidak berpikir ke arah demikian, atau ia tahu tapi ia tak bisa menolak dengan alasan keimanan. Mungkin juga ini adalah cerita yang ingin mengajarkan banyak hal pada kita. Bahwa setiap pemeluk yang taat, wajib menuruti perintah Tuhan yang ia junjung. Dalam kadar inilah, keimanan memang sesuatu hal yang kadang–menurut saya–memang tak perlu rasionalitas. Di sinilah rasionalitas dan spiritualitas kerap berjalan berbeda arah. Ada banyak hal dalam pilihan keyakinan tidak membutuhkan rasionalitas, kita yakin dan kita menunjukkan keyakinan itu dengan tindakan.

Pada Puasa, saya merasa masuk ke bagian paling dalam dari diri saya. Kejujuran. Saya merasa tak ada yang tahu saya puasa atau tidak, begitu juga tak ada yang bisa memaksa saya untuk berpuasa. Puasa adalah urusan paling pribadi, tidak bisa dibagi. Seseorang bisa saja bilang ia sedang berpuasa, tapi makan di warung yang agak jauh. Momentum sahur dan berbuka memiliki kenangan dan sentuhan spiritual yang sangat berbeda di bandingkan momentum-momentum lain dalam keseharian. Dua-duanya bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dan keduanya juga punya rasa masing-masing.

Ibadah, ketuhanan dan agama memang sering menjadi ritual pilihan paling pribadi. Kita bisa beribadah ramai-ramai, kita bisa beribadah sendirian. Membangun sebuah hubungan paling pribadi dengan Yang Mahamengetahui.

Dan pada Surat Al-Kafirun, saya paham di mana posisi saya dan agama saya, di mana posisi agama lain, teman lain yang berbeda keyakinan. “Bagimu agamu, dan bagiku agamaku”. Bukankan dengan turunnya surat ini saja, kita sudah tahu di mana kita memposisikan diri, bagaimana juga kita berhubungan dengan banyak orang di sekeliling kita. Surat Al-Kafirun selalu menjadi surat terbaik dan surat pilihan bagi saya saat solat. Entah mengapa, mungkin karena surat ini surat pertama yang saya hafal dalam hidup saya, baik bahasa arab maupun terjemahan bahasa Indonesianya.

Saya suka tiga hal tersebut, dan saya rasa, masalah suka dan tidak suka memang kadang tak selalu butuh alasan.

Sebuah Kesempatan

Kutip

Bulan lalu saya ditelpon panitia Satu Indonesia Award untuk wawancara. Katanya ada yang mendaftrakan Indie Book Corner untuk penghargaan ini. Saya tidak tahu siapa yang mendaftarkannya. Setiap orang bebas mendaftarkan siapa saja, lembaga apa saja.

Beberapa hari yang lalu ditelpon lagi dan kami dinyatakan masuk 50 besar dan akan ada wawancara selanjutnya dari dewan juri. Kepada siapapun yang mendaftarkan, kami ucapkan terima kasih atas apresiasinya. Menang kalah saya tak pernah memikirkannya, toh kami juga nggak daftar, kami hanya senang ada yang mengapresiasi. Kalau menang ya kami lebih senang lagi sih. Hehe