Impresi (Sebuah Puisi untuk Ibu)

Duduk di bawah jam dinding yang berdetak
ada suara yang masuk melesat
kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya
Ia kukuh membawaku pada masa silam
Tanpa peringatan,
menerobos dan mengintimidasi
Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu

Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon
merembes lewat kaca jendela
bersama sisa semilir dan dingin angin
Sementara bulan yang merah muda
menyinar ke dalam kamar, membias gerimis
mencipta melakolia yang durhaka

Aku tak bisa menyaksikan apa-apa
setelah luka yang lama
dalam perjalanan rantau yang juga lama
Setelah batu yang beku
tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu

Aku menutup luka yang ngalir
meraba dada yang bata
panas terbakar api berlama-lama

Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak
menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku
Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu
kini mengalir lunglai perlahan
meminggirkan aku, menepikan bisu
suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga
yang belakang aku tahu
: suara ibu dan masa kecilku

Jogjakarta, Juli 2010

*Puisi ini dimuat di Album Puisi, Musik, dan Ilustrasi Kepulangan Kelima. Pernah juga dimuat di Antologi 100 penyair Indonesia “Karena Aku Tak Lahir Dari Batu (Sastrawelang, 2010)

*Pembaca puisi di Soundcloud adalah Halim Bahriz. Diambil dari Kepulangan Kelima hal. 65.

Dari Atas Jembatan Penyeberangan

Dari atas jembatan penyeberangan
Kita melihat wajah kota yang tergesa-gesa.
Orang-orang menyeret kakinya dengan buru-buru
Seolah harimau waktu menguntit dan ingin memangsanya.

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin merapatkan segala yang berjauhan
Menggandeng tanganmu,

lalu bercerita masing-masing, tentang buku-buku yang tak habis kita baca.
Atau tentang orang-orang yang lalu lalang dalam kepala dan hari-hari kita

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin menatap matamu yang dalam
Menyaksikan bagaimana kura-kura waktu berenang pelan
Mencegah senja datang terburu-buru
Menutup hidung dari aroma perpisahan yang makin mengental

“Boleh kugandeng tanganmu,” ucapku lirih menatap matamu.
“Kenapa harus bertanya, gandeng saja!”
Lalu kita terdiam,
Dan sadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

Di simpang antrean panjang itu kita berbalik arah. Aku menyentuh bahumu, lalu dari bahumu mengalir sungai panjang, menghanyutkanku menuju rumah. Jauh di kota yang dihantar kereta senja.

Aku pulang, sembari mengenang ‘berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan’ dan mengingat kita yang beberapa kali duduk berhadapan

sembari menyadari ‘mata kaki kita yang sering beradu pandang’

Selamat jalan. Aku pamit pulang

Jakarta, 24 April 2013

Tak Ada Jalan Menuju Rumah

Kepada Pramoedya Ananta Toer

 

Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh

(Gadis Pantai. hal. 269)

 

Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah
Pulang ke teduh matamu
Berenang di kolam yang kau beri nama rindu

Aku, ingin kembali
Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman
Memetik tomat di belakang rumah nenek.
Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,
Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur
Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi

Aku ingin kembali ke rumah, Ayah
Tapi nasib memanggilku
Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi
Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata

Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya
Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah
Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada

Maka aku menungganginya
Maka aku menungganginya

Menyusuri hutan-hutan jati
Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya
Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa
Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,
Mencipta banjir dari genangan air mata

Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir
Kota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi dan bangun pagi
Hujan ingin bercerai dengan banjir
Tapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

Orang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamu
Berjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya raya
Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

 

 

Jogjakarta, 6 Februari 2012

 

 

rudi ingin bermain, tapi di luar sedang hujan

rudi baru saja sembuh
rumah sakit yang sumpek
kamar ekonomi yang murah
merampas lima hari keceriaan masa kecilnya
rudi baru saja sembuh
cahaya matanya mekar,
embun musim dingin telah menyentuhnya

rudi baru saja sembuh
tali rafia yang ujungnya dihancurkan
bola-bola dari kertas yang digenggam
ingin ia tendang-tendang

aku ingin bermain, ayah
ucap rudi di pagi yang masih dingin
aku bermimpi terbang
berlompatan di atas atap rumah
berlarian bersama sahabat-sahabat kecilku

aku bermimpi bermain hujan
sehabis haus menarik layang layang di padang

aku kehausan dan minum satu ember besar, katanya
aku ingin bermain, bermain hujan
hujan membuat celana dan bajuku dingin
aku suka minum air hujan

di luar hujan, rudi
hujan di tanah kita adalah hujan yang jahat
membuat kulitmu gatal dan jatuh demam
kamu tidak mau masuk rumah sakit lagi, kan?

tapi hujan di mimpi membuatku gembira, ayah

hujan di mimpi tak sama dengan hujan di luar rumah
di mimpi, hujan adalah tangis bahagia dan doa malaikat
malaikat suka melihatmu bermain, membasahi baju dan celana
sementara hujan di luar rumah adalah tangis hantu-hantu langit yang terbakar
hantu-hantu yang keluar dari cerobong asap tempat ayah bekerja
hantu hitam yang bau, gatal dan membuat demam

rudi bersembunyi di balik selimut ayah
takut pada hantu langit hitam
doa dari mulut kecilnya menggema ke langit
menjangkau tidur malaikat-malaikat

2012

perihal celana, asu, batu dan pak polisi

kepada joko pinurbo

sebelum senja mengibarkan sarung-sarungnya
orang-orang berkumpul di halaman

tiba-tiba, asu melompat keluar dari jendela
sambil menggigit dan membawa lari celana masa kecilku

“asu! asu! dia maling celana masa kecilku!”
orang sekampung geger
mereka masuk dapur, mengambil botol dan panci
menabuhnya
mengejar asu

tapi asu sudah terlanjur hilang
ia telah lama melesat masuk batu
menuju negeri masalalu, bermain bersama ibu dan masa kecilku

“asu, asu! itu celana warisan bapakku!”
aku menangis sejadi-jadinya, membayangkan bapak misuh-misuh dalam kuburnya

kutelpon polisi
melaporkan celanaku yang dicuri asu

“kami sibuk! sana beli celana baru. asu!”

2012

Aku Ingin Bermain, Tapi di Luar Hujan!

Beberapa waktu lalu Rudi sakit parah dan akhirnya harus dibawa ke dokter. 5 hari lamanya Rudi mendekam dalam kandang, kakinya dinfus dan ia harus diterapi minum obat setiap harinya. Hari-hari yang melelahkan bagi Rudi, si kucing kecil yang periang. Sepulang dari rumah sakit, Rudi ingin bermain. Tapi di luar hujan.