Ibu Sayur dan 10.000 Buku yang Ingin Ia Lepas

Saya punya langganan seorang penjual sayur dekat rumah. Sudah sekitar tiga tahun saya belanja di warungnya. Sejak ia masih berjualan di emperan sebuah ruko, sejak ia hamil besar dan hingga kini ia berjualan di rumahnya. Anaknya juga sudah besar, sudah bisa berjalan dan bicara. Namanya Bu Yani, ia adalah sosok penjual sayur yang rajin dan ramah, tak jarang kalau sedang belanja, saya terjebak di antara ibu-ibu yang sedang belanja sayur di sana. Sebagai laki-laki kadang saya agak rikuh. Apa aya, dapur harus tetap ngebul biar saya bisa bermain dan memasak. Maklum, waktu awal berlangganan, saya hanya hidup dengan kucing-kucing di rumah.

Bu Yani sempat bertanya pekerjaan saya apa. Mungkin karena saya kelihatan selo sekali, belanja kadang agak siang, kadang juga sore atau malam. Ia heran, kok ada pengangguran yang rajin beli sayur di tempatnya. Ketika saya jawab pekerjaan saya penulis, dia tampak terkesima. Lalu ia bercerita tentang hobinya membaca, koleksi bukunya dan bagaimana ia mendidik anaknya untuk suka juga membaca. Rupanya dia punya cerita yang panjang tentang dunia yang saya geluti. Bu Yani punya lebih dari 10.000 koleksi buku di rumahnya. Ia sempat membuat sebuah persewaan buku di Jogja. Karena sering berpindah rumah, kini usaha persewaan bukunya tidak berjalan lagi. Kini buku-buku tersebut tersimpan rapi di ruang tengahnya. Ruang tengahnya sudah serupa perpustakaan di mana anak-anaknya bermain. Lanjutkan membaca

Anomali Merdeka

Merdeka itu wajah sedih petani yang membuang tomatnya karena ongkos angkut ke pasar lebih mahal dari harga jualnya. Merdeka itu barisan konvoi Harley Davidson yang dikawal polisi untuk menerobos lampu merah. Merdeka itu kenaikan pajak buku di toko buku dan harga kertas yang tidak pernah stabil. Merdeka itu harga buku mahal yang membuat pembaca harus menambah anggaran untuk pintar dan bersenang-senang.

Merdeka itu harga rupiah yang terjun bebas dan harga dollar yang meroket mengencinginya. Merdeka itu Megawati pertama kali upacara di Istana negara setelah 10 tahun tidak mau memenuhi undangan SBY. Merdeka itu SBY bikin upacara sendiri dan membalas tidak hadir ke Istana.

Merdeka itu hotel-hotel di Jogja makin banyak dan sumur warga jadi kering. Merdeka itu boleh mengkafirkan orang dan memukulnya di jalan karena tidak sepaham. Merdeka itu seorang pendaki yang hilang di jalan usai mengibarkan bendera di puncak gunung. Merdeka itu barisan sendu anak-anak Porong upacara di genangan Lumpur Lapindo. Merdeka itu mahasiswa baru siap-siap Ospek dan dimarahi senior.

Merdeka itu upacara di bawah laut yang terumbu karangnya sering dibom. Merdeka itu orang hutan dibunuh dan kebun sawit makin luas. Merdeka itu bekas lubang tambang yang digali dan jadi tanah mati milik hantu-hantu. Merdeka itu Panitia Frankfurt Book Fair masih bingung mau undang siapa dan menolak siapa. Merdeka itu Saut Situmorang nggak diundang ke Jerman dan Goenawan Mohamad dapat penghargaan dari Jokowi. Merdeka itu Suharto dan Istri mau dijadikan pahlawan sementara Tan Malaka entah kabarnya bagaimana. Merdeka itu reklamasi Teluk Benoa di Bali yang pasirnya diimpor dari perluasan pelabuhan di Lombok. Merdeka itu media online berebut bikin berita dengan judul mencengangkan. Merdeka itu Telkomsel yang menerapkan tarif mahal untuk Indonesia di bagian timur.

Merdeka itu harga beras naik terus tapi panen petani tepok jidat. Merdeka itu sekilo kopi seharga dua puluh ribu di petani dan dua puluh lima ribu di kafe tongkronganmu. Merdeka itu ajakan berdoa untuk menguatkan harga rupiah. Merdeka itu siaran langsung kawinan dan lahiran anak artis di televisi. Merdeka itu Sitok tidak kunjung dipenjara karena memperkosa.

Merdeka itu saya capek ngetik posting ini dan silakan kamu lanjutkan.

Film Wajib Tonton Bagi Para Bikers Ngehek

Beberapa hari ini sosial media ribut kembali karena beredar foto dan video seorang penunggang sepeda yang menyetop rombongan konvoi Harley Davidson di Jogja. Sebal dengan ulah mereka yang main serobot lampu merah, Elanto Wijoyono, si penunggang sepeda menunjukkan aksinya. Elanto mewakili pendapat ribuan orang yang tak setuju bahwa pengendara moge mendapat perlakuan khusus. Elanto menegur polisi, menanyakan berapa mereka dibayar untuk mengawal konvoi. Elanto mengajari polisi dan para peserta konvoi, bahwa merah itu artinya stop, hijau artinya boleh jalan. Sebuah pelajaran gampang yang bahkan tak perlu diajarkan di sekolah.

Memang benar bahwa para peserta konvoi membayar pajak yang besar. Lha wong motor mereka harganya mahal! Jelas mereka harus mengeluarkan pajak yang lebih mahal ketimbang motor matic atau bebek. Mereka datang ke Jogja dan memberi sumbangan banyak, jelas betul. Mereka menginap di hotel, belanja oleh-oleh, dan lain sebagainya, memang membuat pemasukan daerah bertambah drastis. Tapi apakah dengan demikian mereka lalu seenaknya saja memakai jalan? Apakah penunggang sepeda, penyeberang jalan, pengguna jalan lain tidak bayar pajak? Kalau semua orang ingin perlakuan khsusus, kita akan punya seribu alasan untuk menerobos jalan: saya telat sekolah, saya mau pacaran, nanti pacar saya ngambeg, saya kebelet eek, nanti eek di celana. Saya mau masuk FPI, kalau terlambat nanti saya jadi murtad. Eh, saya nggak bisa stop di lampu merah, gas lengket dan rem saya nggak ada. Modiar! Lanjutkan membaca

Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.” Lanjutkan membaca

Kisah Laptop Tercinta

Alkisah, beberapa hari belakangan ini laptop saya tercinta mulai bertingkah. Berkali-kali mati sendiri, dan nyala lagi diselingi tampilan blue screen. Hal ini membuat saya panik. Beberapa kerjaan tertunda. Mood sering berubah lantaran lagi asik pakai laptop, cusssss, mati. Jujur saya sedih dan khawatir.

Laptop ini merknya HP, seri Pavilion g6. Seri ini lumayan dahsyat kalau sekadar untuk main game, desain, layout, nonton film, apalagi hanya mengetik dan menyunting naskah. Sudah lebih dari cukup bagi saya yang nggak neko-neko main aplikasi aneh. Saya cukup punya corel, indesign, sotosop dan ms office. Sempurna sudah.
Laptop ini berjasa banyak sekali, skripsi saya rampung di laptop ini. 1 buku puisi yang cukup saya sukai, 1 naskah souvenir perkawinan, 1 naskah mahar nikah saya rampungkan, sunting, layout dan desain di laptop ini. Juga 1 naskah buku di mana saya jadi co-writer. Sisanya pekerjaan harian penerbitan, draft naskah, tulisan untuk antologi, dan postingan di blog. Jasa laptop ini tiada tara, semua biaya hidup saya 3 tahun belakangan saya dapatkan lewat layarnya.

Laptop dengan warna merah kesukaan saya ini saya dapatkan dari adik saya. Dia beli sewaktu membawakan saya hadiah Kindle sepulang dari kerjanya di kapal pesiar. Ketika akan balik ke Amerika, saya minta laptopnya. Kegedean buatmu, bro. Buatku aja. Tak bayar deh. Dia setuju. Lalu laptopnya saya bayar usai mampir di ATM ketika akan mengantarnya ke badara. Saya bayar tunai. Sebagai kakak yang baik dan tersayang, laptop ini cukup saya bayar seperempat harga saja. Haha.

Skripsi rampung, semua rampung. Saya makin sayang laptop ini. Layarnya lebar, ramnya besar. Kalau saya keluarkan di depan teman, mereka selalu bilang latop saya besar sekali. Saya balas, laptop ini enak buat kerja,terutama layout buku.

Barusan laptop ini mati lagi. Kerjaan saya tertunda lagi. Sebagai orang yang setia, susah bagi saya untuk nyaman memakai perangkat yang lain. Saya agak susah menyesuaikan diri, saya nggak suka ganti barang kalau nggak butuh sekali. Saya belum tahu harus bagaimana, saya nggak berniat menjual latop ini dan mengganti dengan yang lain. Selain belum ada anggaran, saya juga masih ragu dan malas berkenalan dengan perangkat baru lagi.
Kalau ada teman yang tahu solusi mengobati laptop ini, saya mohon sarannya. Saya sudah bawa ke 3 tukang servis, mereka bilang gak ada masalah. Saya bawa ke servis resmi, hasilnya juga sama.

Kalau pun nanti mentok tak ada jalan keluar, mungkin saya akan cari pengganti laptop baru, lalu membiarkan laptop tercinta ini jadi barang museum di ruang kerja saya.

Duh!

Menjual Buku Tanpa Toko Buku?

Bisakah menjual buku online, tanpa toko, tapi hasilnya maksimal, oplahnya banyak seperti toko buku? Pertanyaan inilah yang ditanyakan Adhe, salah seorang tokoh perbukuan Jogja. Ia mengajukan pertanyaan ini pada dirinya sendiri dan pada kawan-kawan lainnya dalam beberapa sesi Jungkringan Buku yang dihelat beberapa insan perbukuan Jogja beberapa minggu belakangan ini.

Menurut saya, bisa. Sangat bisa bahkan. Dalam beberapa kasus–tapi bukan di Indonesia ya–angka penjualan ebook bahkan sudah melampaui penjualan buku fisik sejak 2012 lalu. Angka penjualan buku fisik online juga naik drastis. Untuk kasus kedua ini tak perlu riset mendalam, sebab Adhe dan kawan-kawan penjual lainnya sudah merasakan sendiri power penjualan online yang mereka kelola. Meskipun angkanya baru 300 eksemplar dan merambat pelan sampai mentok di angka 500, angka ini cukup menggembirakan bagi mereka. Wong ada kemungkinan baru di dunia maya aja sudah luar biasa banget to daripada jaman bahela dulu.

Saya punya gambaran begini:
Kita butuh sebuah marketplace khusus menjual buku yang kita inginkan. Anggap aja namanya JURAGAN BUKU, biar gampang disingkat JB. Kita bisa meniru dan modifikasi marketplace yang sudah ada, OLX, Bukalapak, Tokopedia, Lazada dsb. Bukankah di dunia buku juga ada istilah ATM, Amati, Tiru, Modifikasi. Nah, di JB, penerbit/penjual menjadi member yang bisa mengunggah sendiri buku dagangannya. Pengiriman tetap dari kantor atau rumah masing-masing. Jadi nggak ribet harus membuat gudang distribusi. Semua sistem sudah ditanam di sana, pembayaran dilayani robot. JB adalah galeri dan alat promo semata.

Bagaimana mendatangkan pembeli yang banyak? Mudah saja. Saya percaya bahwa sebuah usaha patungan yang dikelola banyak orang otomatis memiliki banyak mulut dan tangan sebagai marketing. Jika ada 10 pelapak, maka jika pelanggan masing-masing digiring belaja ke sana, angka pengunjung akan berlipat juga. Makin banyak lapak, makin banyak jaringan pelanggan mereka yang bisa dibawa belanja di sana. Ya sederhananya kayak mall atau pujasera, pembeli dengan kecenderungan masing-masing akan berdatangan di satu lokasi dan punya kemungkinan belanja lebih di lapak lainnya.

Untuk mendatangkan pengunjung yang baru, JB tidak didesain untuk menjual saja, tapi juga sebagai wadah interaksi pembaca, penjual dan pembeli. Sesekali kita lepas ebook gratis, misalnya ebook tentang resensi, merawat buku atau menulis. Atau bisa saja membagikan PDF 10% halaman awal/halaman tertentu sebuah buku sebagai bahan promo. Kita buat juga portal untuk chat haha hihi.

Dari mana Marketplace hidup? O tentu banyak. Tidak usah memikirkan rabat dari penjual. Penjual akan saling bersaing memberikan diskon pada pembeli, jadi jangan dimintai rabat lagi. Dana pengelolaan bisa dari iuran tiap member, atau jika dirasa rempong, marketplace biasanya untung dari kode unik pembelian. Marketplace bisa menambahkan 3 digit rupiah, misalnya 973 rupiah pada tiap transaksi. Kode unik ini diasumsikan menjadi keuntungan/biaya administrasi. Semua dibicarakan di awal biar nggak jadi riba dan masuk neraka.

Dan jangan salah, link, file yang bisa didownload juga bisa menghasilkan uang jika diklik. Dari situ biaya perawatan bisa didapatkan.

Tentunya memang nggak akan segampang konsep ini, kita butuh webmaster yang handal, orang yang bisa mengurus kerjasama dengan bank, kontak ekspedisi dan lain sebagainya. Yang jelas, membuat sebuah wadah seperti ini tidak akan seribet dan semahal membuat sebuah gudang bersama bagi para pelapak yang ingin menaikkan oplah penjualan yang selama ini mentok.

Kalau toh ribet, ya sudah kita berpikir simpel aja. Sebuah warung makan kecil yang enak mungkin memang tak perlu buka cabang atau memperluas warungnya. Ia hanya cukup meracik makanan enak, lalu membiarkan pembeli yang kehabisan datang lebih awal di hari berikutnya. Jadi ya kalau wes mentok di angak 300, yo gawe buku yang lain buat pembeli yang udah ngantri.