November yang Basah, Desember yang Lembab

November yang basah telah usai, dan inilah aku, aku yang akan menghadap pada bulan di ujung tahun.

Seperti biasa, kita akan merutuki waktu yang selalu terasa berlalu cepat. Dan aku, adalah orang yang selalu merasa banyak sekali telah tertinggal. Tertinggal oleh laju waktu, tertinggal banyak jejak, tertinggal oleh kenangan dan tertinggal ratusan harapan. Bagaimana harus kuceritakan padamu? Adakah bahasa yang layak, adakah kalimat yang jangkau? Lihatlah, inilah aku: manusia yang kehilangan diri. Manusia yang berjalan menyusuri malam yang patah hati, dan hari-hari yang basah oleh harapan! Seperti November yang basah, Desember yang lembab, dan tahun-tahun yang akan segera dijelang banyak orang.

Di luar, seperti biasa, hujan membasahi Desember yang lembab. Orang-orang berkejaran menarik jemuran, membawanya masuk rumah, membiarkannya berangin-angin di ruang tengah. Mereka akan segera berkumpul. Di meja ada teko dan cangkir-cangkir teh hangat. Mereka lalu menyalakan televisi, menertawai mimpi, menghiba pada iklan-iklan. Dan begitulah, aku tetap di simpang jalan ini, berteduh sembari menghimpun tenaga. Tapi tak pernah lepas dari kerinduan.

Desember yang lembab, meneteskan hujan bercampur kenangan. Sementara aku, hanya bisa mengigaumu dalam rasa kehilangan yang makin dalam. Lanjutkan membaca

Kafe: Manusia Pejalan

Aku sedang duduk di sebuah meja kafe. Setengah batang rokok di tangan akan habis dalam dua atau tiga kali hisap lagi, dan aku tak ingin segera menghabiskannya.

Orang-orang di sekelilingku, mereka berbicara masing-masing, dalam topik yang asing, suara yang samar dan tak ingin aku ketahui. Apa yang harus kulakukan di tengah bising dan hiruk mereka ini? Buku? Beberapa lembar baru saja aku mulai, tapi begitulah, aku adalah seorang pembosan. Kuhisap lagi setengah rokokku, sisa dua hisapan lagi. Sementara kopi di gelas putih di atas mejaku akan segera tandas dalam satu atau dua teguk. Aku tidak ingin beranjak. Aku tidak ingin mengakhiri duduk sore di kafe ini. Kukeluarkan biskuit bekal jalan-jalanku dari dalam tas. Kunikmati sendirian. Kuhisap lagi hisapan terakhir sebelum hisapan penghabisan.

Apa yang pantas dirindukan oleh aku, seorang pejalan jauh, selain nama-nama kota, belokan jalan dan wajah-wajah asing manusia yang kutemui dalam perjalanan. Hidupku dari hotel ke hotel murah pinggir kota, tepi pantai, atau losmen-losmen dekat terminal singgah, stasiun atau pelabuhan. Kekasih? Jangan kau tanya! Aku banyak menyimpan cinta, tapi cinta yang sebatas harap. Aku lelaki pergi, yang tak tahu dan selalu ragu untuk mengurai lalu menyimpan cinta. Adakah cinta yang pantas untuk seorang pejalan abadi layaknya aku ini? Adakah satu saja nama yang abadi untuk seorang lelaki pergi?

Ini adalah hisapan rokok terakhir. Kututup bukuku dan kumasukkan dalam tas, biar kubaca lagi nanti ketika aku ingin. Kopiku juga sudah tegukan terakhir. Cepat sekali si waktu. Adakah memang yang bisa menghambat laju waktu? Kopi yang mendingin dan akan tandas, rokok yang sudah habis? Ah, waktu. Jika aku punya banyak uang, ingin rasanya membeli waktu. Biar kusimpan sendiri, kupakai semauku.

Sore mulai turun. Daun bringin di samping kafe telah berhenti berguguran, sebab panas dan matahari harus berpindah ke belahan dunia lain. Kubayar segelas kopi, lalu kulanjutkan perjalanan. Aku lelaki pergi, manusia pejalan, bahasaku kaki dan rumahku jalan.

Jogjakarta, November 2012

*Tulisan ini pernah saya posting di blog yang lama. www.sketsabajang.blogspot.com/ Sebab pindah ke blog ini, beberapa tulisan lama saya muat kembali di sini. Sebagai dokumentasi, juga pengingat bagi saya sendiri.

 

Kepulangan Kelima

1
Melewati depan rumahmu,
lampu desa yang remang mengejekku
halimun turun perlahan
menjadi selimut sepi yang menakutkan
membawa lari
rinduku pada perjumpaan

Seperti jalan protokol pukul 10 pagi di Kuala Lumpur
Kau berkejaran, hingar bingar di kepalaku

Ini adalah kepulangan kelima
sejak tumbuh jakunku dan mulai bersemi kumisku
sejak takdir remaja desa
mewajibkan kami yang belia, merantau
mencari makan di tanah orang Lanjutkan membaca