Ibu Sayur dan 10.000 Buku yang Ingin Ia Lepas

Saya punya langganan seorang penjual sayur dekat rumah. Sudah sekitar tiga tahun saya belanja di warungnya. Sejak ia masih berjualan di emperan sebuah ruko, sejak ia hamil besar dan hingga kini ia berjualan di rumahnya. Anaknya juga sudah besar, sudah bisa berjalan dan bicara. Namanya Bu Yani, ia adalah sosok penjual sayur yang rajin dan ramah, tak jarang kalau sedang belanja, saya terjebak di antara ibu-ibu yang sedang belanja sayur di sana. Sebagai laki-laki kadang saya agak rikuh. Apa aya, dapur harus tetap ngebul biar saya bisa bermain dan memasak. Maklum, waktu awal berlangganan, saya hanya hidup dengan kucing-kucing di rumah.

Bu Yani sempat bertanya pekerjaan saya apa. Mungkin karena saya kelihatan selo sekali, belanja kadang agak siang, kadang juga sore atau malam. Ia heran, kok ada pengangguran yang rajin beli sayur di tempatnya. Ketika saya jawab pekerjaan saya penulis, dia tampak terkesima. Lalu ia bercerita tentang hobinya membaca, koleksi bukunya dan bagaimana ia mendidik anaknya untuk suka juga membaca. Rupanya dia punya cerita yang panjang tentang dunia yang saya geluti. Bu Yani punya lebih dari 10.000 koleksi buku di rumahnya. Ia sempat membuat sebuah persewaan buku di Jogja. Karena sering berpindah rumah, kini usaha persewaan bukunya tidak berjalan lagi. Kini buku-buku tersebut tersimpan rapi di ruang tengahnya. Ruang tengahnya sudah serupa perpustakaan di mana anak-anaknya bermain. Lanjutkan membaca

Menjual Buku Tanpa Toko Buku?

Bisakah menjual buku online, tanpa toko, tapi hasilnya maksimal, oplahnya banyak seperti toko buku? Pertanyaan inilah yang ditanyakan Adhe, salah seorang tokoh perbukuan Jogja. Ia mengajukan pertanyaan ini pada dirinya sendiri dan pada kawan-kawan lainnya dalam beberapa sesi Jungkringan Buku yang dihelat beberapa insan perbukuan Jogja beberapa minggu belakangan ini.

Menurut saya, bisa. Sangat bisa bahkan. Dalam beberapa kasus–tapi bukan di Indonesia ya–angka penjualan ebook bahkan sudah melampaui penjualan buku fisik sejak 2012 lalu. Angka penjualan buku fisik online juga naik drastis. Untuk kasus kedua ini tak perlu riset mendalam, sebab Adhe dan kawan-kawan penjual lainnya sudah merasakan sendiri power penjualan online yang mereka kelola. Meskipun angkanya baru 300 eksemplar dan merambat pelan sampai mentok di angka 500, angka ini cukup menggembirakan bagi mereka. Wong ada kemungkinan baru di dunia maya aja sudah luar biasa banget to daripada jaman bahela dulu.

Saya punya gambaran begini:
Kita butuh sebuah marketplace khusus menjual buku yang kita inginkan. Anggap aja namanya JURAGAN BUKU, biar gampang disingkat JB. Kita bisa meniru dan modifikasi marketplace yang sudah ada, OLX, Bukalapak, Tokopedia, Lazada dsb. Bukankah di dunia buku juga ada istilah ATM, Amati, Tiru, Modifikasi. Nah, di JB, penerbit/penjual menjadi member yang bisa mengunggah sendiri buku dagangannya. Pengiriman tetap dari kantor atau rumah masing-masing. Jadi nggak ribet harus membuat gudang distribusi. Semua sistem sudah ditanam di sana, pembayaran dilayani robot. JB adalah galeri dan alat promo semata.

Bagaimana mendatangkan pembeli yang banyak? Mudah saja. Saya percaya bahwa sebuah usaha patungan yang dikelola banyak orang otomatis memiliki banyak mulut dan tangan sebagai marketing. Jika ada 10 pelapak, maka jika pelanggan masing-masing digiring belaja ke sana, angka pengunjung akan berlipat juga. Makin banyak lapak, makin banyak jaringan pelanggan mereka yang bisa dibawa belanja di sana. Ya sederhananya kayak mall atau pujasera, pembeli dengan kecenderungan masing-masing akan berdatangan di satu lokasi dan punya kemungkinan belanja lebih di lapak lainnya.

Untuk mendatangkan pengunjung yang baru, JB tidak didesain untuk menjual saja, tapi juga sebagai wadah interaksi pembaca, penjual dan pembeli. Sesekali kita lepas ebook gratis, misalnya ebook tentang resensi, merawat buku atau menulis. Atau bisa saja membagikan PDF 10% halaman awal/halaman tertentu sebuah buku sebagai bahan promo. Kita buat juga portal untuk chat haha hihi.

Dari mana Marketplace hidup? O tentu banyak. Tidak usah memikirkan rabat dari penjual. Penjual akan saling bersaing memberikan diskon pada pembeli, jadi jangan dimintai rabat lagi. Dana pengelolaan bisa dari iuran tiap member, atau jika dirasa rempong, marketplace biasanya untung dari kode unik pembelian. Marketplace bisa menambahkan 3 digit rupiah, misalnya 973 rupiah pada tiap transaksi. Kode unik ini diasumsikan menjadi keuntungan/biaya administrasi. Semua dibicarakan di awal biar nggak jadi riba dan masuk neraka.

Dan jangan salah, link, file yang bisa didownload juga bisa menghasilkan uang jika diklik. Dari situ biaya perawatan bisa didapatkan.

Tentunya memang nggak akan segampang konsep ini, kita butuh webmaster yang handal, orang yang bisa mengurus kerjasama dengan bank, kontak ekspedisi dan lain sebagainya. Yang jelas, membuat sebuah wadah seperti ini tidak akan seribet dan semahal membuat sebuah gudang bersama bagi para pelapak yang ingin menaikkan oplah penjualan yang selama ini mentok.

Kalau toh ribet, ya sudah kita berpikir simpel aja. Sebuah warung makan kecil yang enak mungkin memang tak perlu buka cabang atau memperluas warungnya. Ia hanya cukup meracik makanan enak, lalu membiarkan pembeli yang kehabisan datang lebih awal di hari berikutnya. Jadi ya kalau wes mentok di angak 300, yo gawe buku yang lain buat pembeli yang udah ngantri.

Rahasia Dapur Indie Book Corner

Grafik ini adalah grafik penjualan online kami via www.bukuindie.com/ (salah satu penerbitan yang saya kelola selama satu tahun di 2014. Terjadi lonjakan pembelian online di awal tahun, lalu secara merata turun dan naik lagi di bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun. Dari grafik ini (dan dari laporan real) kami bisa belajar banyak, bahwa minat pembelian online di Indonesia, terutama di web kami lumayan tinggi, meskipun fluktuatif.

Setelah saya analisa, turun naiknya angka pembelian buku ternyata disebabkan oleh satu sebab utama: buku baru terbit. Setiap satu judul buku baru terbit, pembelian meningkat dalam 1-3 minggu, pembelian menurun lagi di minggu keempat dan akan naik drastis lagi ketika ada buku baru.

Artinya, 3 minggu pertama terbit adalah waktu terbaik bagi penjualan setiap buku. Selanjutnya, popularitas buku tersebut mulai menurun dan cenderung stabil di angka sedikit sejak minggu keempat dan seterusnya. Fenomena ini terjadi di hampir semua buku yang kami terbitkan. Beberapa buku tetap terjual setiap minggunya jika terus diromosikan dan secara konten memang menarik bagi calon pembacanya. Sebenarnya ada juga beberapa buku yang penjualannya terus naik, buku ini biasanya punya kualitas lebih dibanding yang lain, atau penulisnya juga gencar mempromosikan buku dan dirinya.

Itu hanya pengantar dan gambaran singkat saja.

**

Awal tahun 2014, usai #PasarBukuIndie, kami melakukan rapat agak serius menyikapi beberapa fenomena buku dan pengalaman kami di beberapa tahun sebelumnya. Beberapa kesepakatan penting kami turunkan, di antaranya sbb:

1. Fokus penjualan buku kami berada di internet dan kami spesifikkan di website www.bukuindie.com.

Beberapa calon pembeli memang agak susah dan belum terbiasa belanja di website. Mereka lebih suka belanja via DM Twitter atau Inbox Facebook. Dalam skala yang kecil, proses ini tidak jadi masalah bagi kami, tapi jadi ribet jika terjadi dalam angka penjualan yang lumayan banyak. Maka dari itu, sebisa mungkin mereka digiring belanja di web, kalau susah, ya sudah kami terima aja daripada nggak jadi beli. Hehe.

2. Kami tidak lagi menjual buku di Toko Buku Besar. Semua perangkat penjualan kami fokuskan di penjualan online web. Toko-toko buku komunitas, toko buku alternatif masih tetap diajak kerjasama. Jika terpaksa harus menjual buku di toko buku besar, maka itu tak lebih dari kewajiban promo dan disebabkan oleh kondisi dan keadaan tertentu yang sifatnya sangat berbeda dengan konsep di atas.

Dengan demikian, rabat mahabesar dari toko buku bisa kami alokasikan ke diskon buat pembeli dan tambahan royalti buat penulis. Royalti penulis yang kami terbitkan bukunya bisa jauh lebih besar dari 10%, ini demi kebahagiaan para penulis.

Kami berniat berinvestasi agak besar di website. Menjadikannya tempat belajar dan menerbitkan tulisan. Juga sebagai tempat belaja yang asik, gampang dan menggembirakan.

Begitulah kira-kira.

Memahami dan Menghafal Mantra Tata Letak Sebuah Buku

Ketika penulis membuat sendiri tata letak atau layout bukunya, sering kali mereka tidak menciptakan tata letak yang terbaik. Hal ini karena keterbatasan yang ia miliki. Memang tidak semua penulis wajib bisa desain dan layout buku, sebab tugas utama penulis adalah mati-matian membuat tulisan yang bagus. Tapi jika mereka bisa, hal ini akan menambah nilai bagi dirinya sendiri, terlebih di era media dan penerbitan buku yang makin melesat ini.

Di era media terbaru seperti saat ini, seorang penulis tak hanya butuh kemampuan menulis, ia perlu sedikitnya tahu tentang publikasi; membuat dan menulis blog untuk menyapa pembacanya, atau bermain di  media sosial untuk publikasi dan berinteraksi dengan khalayak dunia tulis menulis.

Dalam hal publikasi buku, selain menerbitkan buku di penerbit, seorang penulis juga bisa menjadi penerbit bagi dirinya. Sebenarnya penulis bisa memanfaatkan jasa-jasa freelance yang tersedia, atau jika bukunya diterbitkan di penerbit umum, mereka bahkan tak perlu memikirka hal-hal teknis itu. Tapi toh tidak ada salahnya jika penulis mencoba belajar. Dalam situasi tertentu, saya yakin akan berguna. Sesekali juga penulis perlu membuat ebook atau PDF yang bisa ia bagikan di blog untuk mengundang makin banyak pembaca. Nah, sedikit pemahaman dasar tentang tata letak akan membuat pekerjaannya lebih mudah. Lanjutkan membaca

Memilih Menikah–Pengantar “Malam Tanpa Ujung”

Saya terima nikahnya Anindra Saraswati binti Indro Sulistyo dengan mas kawin 1. Sebuah buku berjudul “Malam Tanpa Ujung”, 2. Kitab Suci Al-Quran dan seperangkat pakaian solat, 3. Perhiasan emas seberat 9,4 gram dibayar TUNAI!

–Masjid Al Mujahidin, Selong 14 Juni 2014. 

07S_ (70)

Kadang saya berpikir saya orang yang tangguh. Saya tak suka mengeluh dan mengajak orang ikut bersusah dengan apa yang sedang saya susahkan. Saya tak suka curhat dan suka hidup sendirian. Tapi sebagai manusia yang tak kuat pendirian, kerap kali saya menolak sendiri dan menghancurkan pikiran saya itu. Saya orang yang lemah dan suka murung. Setidaknya jika menghadapi masalah yang benar-benar menghantam ketangguhan saya. Saya tak suka berbagi kegelisahan, tapi toh akhirnya saya juga sering merasa; tak selamanya ego seperti ini penting. Manusia sering sekali sombong dan tak suka mengaku kalah.

Sejak kecil saya tidak suka menceritakan masalah apapun yang saya hadapi pada orang lain. Saya cenderung memendam sendiri lalu menyelesaikannya dengan cara yang saya pilih sendiri. Tapi benarkah saya kuat? Di titik-titik krusial ketika saya merasa kalah, saya menangis sendirian tanpa suara di dalam kamar. Saya tahu, saya tak bisa hidup sendiri. Lanjutkan membaca

Musyawarah Agung Buku Indie

Dengan hormat, Radio Buku bersama Indonesia Buku, Warung Arsip, dan para penggerak festival literasi akan menghelat Booklovers Festival pada 23 April–23 Mei 2014. Sehubungan dengan acara tersebut, kami mengundang saudara/i untuk berpartisipasi dalam Musyawarah Agung Buku Indie, sebagai rangkaian Booklovers Festival, yang akan dilaksanakan pada:

  • Hari, tanggal: Sabtu, 17 Mei 2014
  • Waktu: Pukul 14.00–17.30 WIB
  • Tempat: Bale Black Box, Jl. Sewon Indah No. 1 (pojok barat perpustakaan kampus Institut Seni Indonesia)

Bersama ini kami lampirkan peta lokasi acara, poster dan beberapa hal lain untuk memudahkan Anda berpartisipasi. Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasi, kami sampaikan terima kasih.

Sewon, 21 April 2014

Hormat kami,

Fairuzul Mumtaz, Ketua Pelaksana

TOR: MUSYAWARAH AGUNG BUKU INDIE

Runtuhnya rezim diktator totalitarian Suharto bersama Orde Barunya telah menjadi pembuka keran kebebasan dalam segala hal. Media-media baru muncul dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mereka muncul dari sekelompok aktivis pers yang selama ini takut bersuara, dibungkam dan disingkirkan kekuasaan. Wacana apa saja bergulir semaunya, deras, sekehendak siapa saja orang-orang yang berada di belakang media tersebut. Wacana-wacana yang selama Orba dianggap tabu dan susah mendapat tempat untuk dibicarakan segera hadir memenuhi ruang publik, menjadi perbicangan yang intens bagi orang-orang yang tertarik di bidangnya.  Peralihan orde ini berimbas pada kemunculan kelompok diskusi, partai politik baru, radio, televisi dan salah satunya adalah penerbitan buku. Lanjutkan membaca