Cerita Kenakalan di Hari Guru

  • Kelas 1 SMP, Pak Sahrudin (Guru BK yang dijuluki jari-jari malaikat) menampar saya dan 5 bocah nakal yang bolos dengan memanjat tembok sekolah. Saya gemetar sekali waktu itu. Saya masih siswa baru. Kami hanya bosan dengan makanan kantin, dan guru magang yang menunda jam istirahat. Karena buru-buru, saya ajak saja mereka panjat tembok untuk makan siang di warung luar sekolah. Apes. Salah satu di antara kami ada yang penakut dan tidak kunjung manjat. Ketahuanlah aksi brutal kami. Usai ditampar dan dicubit, saya menemukan beberapa titik air di celana pendek seragam itu. Pipi merah, dada memar kena cubit. Lain kali, kalian panjat aja pohon kelapa, kata Pak Guru. Waduh!
  • Kelas 5 SD, Pak Sudirman menempeleng saya di depan kelas. Disaksikan teman laki-laki yang gembira dan teman wanita yang terharu. Pasalnya, saya kencing di gelas dan menaburkan air kencing saya ke segala penjuru kelas. Saya lupa apa alasan saya kencing di gelas. Haha. Yang jelas waktu kencing di gelas itu saya bahagia sekali. Selalu ada anak baik yang melaporkan. Di situlah apesnya.

Guru-guru saya pasti sudah lupa kenakalan itu. Maklumlah, ada ratusan anak nakal dalam hidupnya. Saya tidak nakal, bahkan saat SD saya cenderung cengeng. Tapi memang melakukan hal aneh dan ekstrim adalah kesukaan saya sejak kecil. Beruntung ada guru yang galak dan sabar. Semuanya sekarang jadi kenangan.

Selamat hari guru. Jasamu tiada tara.

Djali Gafur: Ulang Tahun Hanyalah Sepotong Kue Bolu

Hari ini kawan saya berulang tahun. Saya tidak akan menulis sebuah memoar ini jika dia bukan kawan baik saya. Saya tak terbiasa memberi hadiah pada siapapun di hari ulang tahunnya. Begitu juga hari ini. Saya tidak memberikannya hadiah apapun. Ketika tulisan ini saya ketik, saya bahkan sedang membujuknya belanja ikan laut besok pagi. Saya akan menyajikan sebuah masakan yang enak dan pedas! Tentu saja saya tak ingin kawan saya ini masak untuk saya. Saya tahu selera kulinernya agak menyedihkan. Kalau tidak dibilang buruk.

Namanya Djali. Nama yang aneh bagi seorang yang datang dari pulau yang jauh di ujung timur Indonesia. Djali Gafur, lahir dan besar di Ambon. Tentu saja dia tidak bisa bernyanyi, tidak bisa main alat musik. Dia juga sama sekali tidak modis parlente a la Nyong Ambon umumnya. Djali berbeda. Ia sepertinya memang anak Ambon. Tapi Ambon yang tak beribukota Maluku. Duh.

Malam ini dia menolak belanja ikan dan masak untuk esok pagi. Nggak ada duit. Malas. Begitu katanya. Lalu ia bercerita tentang ulang tahun pertamanya yang dirayakan.

Djali kecil baru saja pulang dari acara ulang tahun teman sepermainannya. Ada balon, dan pesta, ada acara nyanyi-nyanyi dan tentu saja ada kue. “Aku makan kue tart hari itu. Kue itu kue paling enak yang pernah aku makan dalam hidupku.” Begitu Djali bercerita dengan nada yang memelas dan raut muka yang tak meyakinkan. Pulang dari acara pesta ulang tahun, Djali kecil punya satu tekad dan cita-cita. Ia akan minta ibunya membuatkan kue yang serupa. Kue tart paling enak di dunia. “Mama, kalau aku ulang tahun. Aku mau kue yang enak.” Ibunya hanya terdiam. Jangan bayangkan ibunya terharu dan memeluk anaknya. Tidak! Ini bukan sinetron. Ini kisah nyata.

Tak ada tradisi ulang tahun bagi warga kampung. Apalagi Djali Adalah anak gunung. Konon ia tinggal di dataran tinggi. Sekeliling rumahnya adalah perkebunan cengkeh yang luas. Di sana ia bermain. Sesekali buang tinja kalau kebelet dan jauh dari sungai. Ulang tahun adalah mimpi semua televisi. Anak kampung tak punya tradisi mewah seperti itu.

djaliTadi malam kami tertawa sampai sakit perut. Tertawa entah karena apa. Begitulah, dalam hidup saya—selama mengenal anak ini—Djali dan saya lebih banyak tertawa daripada ngobrol serius. Sebuah kebiasaan yang aneh.

Pernah satu kali kami makan di sebuah rumah makan di Bali. Rumah makan Ayam Taliwang. Kami makan masing-masing satu porsi ayam kampung utuh, ditambah es teh dan tentu saja pelecing kangkung khas makanan Lombok. Enak. Begitu kami sepakat. Warung itu kecil dan berada di sebuah pojok. Sambil makan, kami menebak harganya dalam hati. Tentu harganya masih bisa kami prediski. Di Jogja, tahun 2009, harga ayam bakar masih lima ribu rupiah. Itu sudah termasuk es teh dan nasi yang bisa diambil sendiri, sepuasnya, sampai kenyang.

Maka tibalah kami di acara puncak makan di warung: membayar.

“Berapa, Bu?” Tanya saya.
“Dipisah atau digabung?”
“Pisah aja, Bu.” Saya menimpali tanpa meminta persetujuan Djali.
Sejenak sang penjaga menghitung. Apa yang kami makan, sembari bertanya, apakah pakai krupuk atau ada tambahan lain. Setelah kami menggeleng, sang ibu segera memencet angka ‘sama dengan’ di kalkulator hitungannya. Dengan tegas sang penjual menjawab, “Enam puluh ribu!” Kami berpandangan tanpa ekspersi. Kami tidak memikirkan apapun. Selain mengeluarkan dompet segera dan membayar.

Keluar warung. Djali mulai tertawa bebas. Seolah sedang berada di perkebunan cengkeh dekat rumahnya. Seolah tidak ada orang. Saya ikut tertawa. Tertawa sampai motor yang kami naiki terguncang dan orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan yang aneh. Kami tertawa sepuasnya. Entah apa yang kami tertawakan. Kami tak merasa menyesal makan enak di warung itu. Harganya juga cukup kami bayar dengan uang yang ada di dompet kami. Tidak mahal-mahal amat sampai kami harus miskin mendadak. Tapi kami tak tahu kenapa kami harus tertawa. Lebih dari delapan kilo meter kami tertawa. Bahkan keesokan hari dan bertahun-tahun setelahnya, kami tertawa kalau melihat ayam bakar. Terutama Ayam Bakar Taliwang.

Malam tadi saya kelaparan, dan Djali sepertinya tahu. Ia membawakan saya dua bungkus nasi. Ketika nasi saya buka, saya kaget. “Ayam Taliwang?” Saya bertanya dengan nada dan maksud tidak bertanya. Djali tertawa lagi, dan saya ikut tertawa. Entah apa yang saya tertawakan, saya tidak paham. Yang jelas, kami membutuhkan hampir setengah jam untuk meredakan tawa dan sakit perut kami sebelum bisa makan yang enak. Di tengah acara makan, kami tertawa sedikit sambil keseleg karena makanan salah masuk ke tenggorokan.

Itu hanyalah contoh kecil tertawa yang dibuat Djali. Ada seribu satu cara tertawa. Dan kami tak butuh satupun alasan untuk itu. Kami bisa tertawa saat habis cukur kumis, atau tertawa saat membaca sesuatu. Atau bahkan tertawa tanpa alasan. Kapanpun, di manapun. Kami berjumpa dan kami tertawa. Djali potong rambut, saya tertawa. Dia sedang tidur, saya tendang dan saya tertawa. Atau saya sedang baca buku, dia bisa datang dan tertawa. Begitulah. Susah memang menjelaskan arti tawa di antara kami. Kami tertawa tanpa tahu kenapa kami harus tertawa.

Oh ya, hampir lupa. Setiap Djali belanja baju atau datang dengan baju baru, saya tertawa. Kebiasaan tertawa ini menjalar, menular dan menjadi penyakit bersama yang melekat di kawan-kawan kami yang lain. Ada Djali, tak ada alasan apapun, kami semua bisa tertawa. Absurd!

Eh, satu lagi. Setelah kuliah tujuh tahun dan datang waktunya wisuda, saya adalah wisudawan yang datang paling terlambat. Rektor sudah datang, semua wisudawan sudah duduk. Waktu turun dari kendaraan, saya setengah berlari. Tapi ternyata, ada satu manusia di belakang saya, ia sedang diomeli ibunya. Dia adalah Djali. Dan kami tertawa ngakak sampai hampir gila.

Djali kecil pulang sekolah suatu siang, sepekan setelah menghadiri ulang tahunnya. Sepekan juga setelah ibunya kaget, kenapa anaknya tiba-tiba minta kue saat ulang tahun. Pulang sekolah, Djali menemukan kue berjejer rapi di atas meja makan. Ibunya sedang mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Djali yang bingung tentu tidak berani makan kue yang ada di meja. Meskipun ilernya sudah menetes ke lantai dan ia seperti anak kecil yang kesurupan. Ia masih punya urat sopan santun. Mungkin ada pesta, atau mungkin ada tamu ayahnya datang dari kota yang jauh. Begitu ia pikir dalam hati. Tapi hasratnya tak terpendam. Djali kecil bertanya pada ibunya. “Mama, kenapa ada banyak kue di meja?” Mamanya tersenyum (kali ini saya fiksikan biar kaya sinetron). “Itu kue untuk merayakan ulang tahunmu.” Djali tersenyum dan berlari segera ke meja. Ia mengambil kue di meja itu. Kue kecil dan ia telan segera. Enaaaaaak sekali katanya. Itu bukan kue tart. Itu hanyalah kue bolu. Ibunya baru saja mencoba resep masak kue bolu.

Konon sejak itu sampai sekarang ketika usianya sudah tak muda lagi, Djali tak mau merayakan ulang tahun. Sebab baginya, ulang tahun hanyalah sepotong kue bolu. Mungkin Djali tidak sedang ingin merusak ingatan kanak-kanaknya.

Jogjakarta, 11 Januari 2014

*silakan memutar lagu 11 Januari–Gigi lalu membaca ulang tulisan ini dari awal.