Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.” Lanjutkan membaca

Sang Presiden dan Buku Puisi Kesedihan

Suatu sore yang masih panas di hari Jumat, Sang Presiden itu akhirnya mundur dari jabatannya. 27 tahun lebih 6 bulan ia memerintah dengan tangan besi yang menyala. Di hari ke-14 demonstrasi rakyat, ia menyerah. Hari itu kekuasaanya usai sudah. Aksi mogok makan telah membuat 412 pemuda pingsan. Rumah sakit penuh. Tak kuat dengan desakan negara-negara jiran, Sang Presiden diktator mengumumkan pengunduran dirinya: “Demi rakyat yang selalu saya cintai. Saya mengundurkan diri sebagai presiden, menyerahkann jabatan saya pada Partai Oposisi Rakyat untuk mengambil alih pemerintahan. Terima kasih, rakyatku.” Rakyat bergembira sore itu. Pesta digelar di segenap pelosok negeri. Jalan raya dipenuhi rakyat yang bernyanyi, menari, bergembira dan berpesta. Malam harinya, sebuah berita mengagetkan terdengar: Sang Presiden mati gantung diri di dalam kamarnya.

#1

Hari itu juga, partai oposisi mengambil alih pemerintahan. Didukung oleh kekuatan masa rakyat, pemimpin partai yang dinilai paling berani dan selalu dipuji rakyat dilantik menjadi presiden. Ia adalah presiden kedua setelah dua puluh delapan tahun negaranya merdeka. Ia dilantik, diiringi sorak-sorai kemenangan perjuangan rakyat. Demi jalannya pemerintahan yang normal dan mencegah kediktatoran, undang-undang darurat segera dibuat. Sang Presiden yang baru hanya diberi jabatan satu tahun. Satu tahun uji coba, lalu di tahun berikutnya akan digelar pemilu pertama. Sejak hari pelantikannya, Sang Presiden baru menghitung mundur 365 hari ke belakang.  Di kamar istirahatnya, setiap hari ia melingkari kalender, hitungan mundur menuju kalender akhir masa jabatan.

Kebijakan pertamanya sungguh menggemparkan. Sepekan setelah presiden lama runtuh bersama kekuasaannya, tepat di hari Jumat, sebuah peraturan resmi dikeluarkan: Sejak hari ini, tak ada yang boleh bersedih.

Jumat adalah hari yang sakral, hari kemerdekaan baru. Tak ada yang boleh bersedih mulai hari itu. Rakyat begitu gembira. Sejak hari itu tak ada lagi rakyat yang bersedih. Lanjutkan membaca

Cerpen: Senin Selasa dan 5 Hari Setelahnya (Unduh Gratis PDF)

surealisUnduh gratis cerpen ini di sini

Senin. Ia menyiapkan segala yang harus ia bawa untuk berangkat sekolah. Seperti kamu juga menyiapkan semuanya. Pensil beserta rautnya. Kamu membawa rautan bundar dengan lubang pisau, ia membawa sebuah silet kecil dalam tasnya. Ia sudah memasukkan buku-buku yang tertera di jadwal pelajaran tembok kamarnya, juga tentu saja seragam yang sudah ia sertika tadi malam sebelum tidur. Ketika suara jam dinding berdetak kencang enam kali, ia ke dapur, sarapan dan segera keluar rumah. Kalian keluar rumah hampir bersamaan, kamu hanya mengangkat sedikit  kepala tanda sapaan. Ia tersenyum. Kamu membiarkannya jalan lebih dulu. Usai memasang sepatu, kamu menyusulnya dengan langkah lebih cepat.

Selasa. Lonceng berteriak tiga kali dari ruang guru yang menyatu  dengan ruang kepala sekolah. Di ruang itu jabatan hanya dibedakan dengan kursi dan meja. Kepala sekolah mejanya sendiri, kursinya berbusa lapis kulit sintesisi coklat. Meja guru agak panjang dan untuk dua orang, tempat duduknya kursi kayu semata.  Ia segera berlari ke kantin. Sebenarnya bukan kantin, melainkan sebuah pasar kecil yang dibangun di dalam sekolah. Para pedagangnya membayar sewa pada kepala sekolah setiap bulannya. Beberapa kali ketika ia keluar ke toilet di pojokan sekolah untuk kencing agak lama, sembari menghindari rasa bosan, ia sering melihat seorang lelaki pendek berjaket kulit coklat yang lusuh datang pada para pedagang. Lelaki itu memberikan kupon kuning, para pedagang mengeluarkan beberapa lembar uang. Kamu juga sering melihat kejadian itu. Kepala sekolah sering melihatnya juga. Suatu hari kamu bertanya pada kakak kelasmu. “Rentenir.” Jawabnya. Kamu ingin bertanya apa maskudnya, tapi kakak kelas itu sudah meninggalkanmu. Lanjutkan membaca

Sebuah Cara Menjadi Hantu

Harusnya aku tidak datang di acara ini. Kedatangan ini melanggar kode etik. Melanggar janji, juga menghianati nurani. Seharusnya aku menolak. Mengabaikan segala janji dan usahanya membujukku.

Acara dimulai, aku segera sadar telah melakukan kekeliruan fatal. Seandainya bisa, aku ingin kabur, mematikan ponsel, lalu memesan tiket kereta pertama yang kutemui. Atau lari ke terminal dan melemparkan tubuhku di kursi pojok dekat jendela. Membiarkan supir membawaku pergi ke pemberhentian terjauh. Tak menghiraukan orang-orang yang duduk di sekelilingku. Tapi semua sudah terjadi. Sebuah acara kebohongan harus segera dimulai.

Dari kursi paling belakang aku menyeret kaki yang berat untuk untuk duduk di kursi depan. Kursi di belakang meja yang menghadap ke barisan manusia seisi ruangan. Namaku dipanggil, aku akan tampil. Aku merasakan padangan-pandangan mereka mengikuti. Memperhatikan kemeja, celana jeans baru, sepatu kesayangan, dan arloji mewah yang menempel di sekujur tubuhku. Mereka menatapku. Sebagian mungkin kagum, sebagian bertanya dalam hati, sebagian menebak-nebak. Pendingin ruangan seperti tak berfungsi. Ada buliran keringat kurasakan membasahi punggungku.

Nama telah disebut, gelar telah disematkan, mikrofon sudah di tangan, dan pertanyaan sudah mulai dilemparkan. Aku harus menjawab dengan cara yang meyakinkan. Kulihat seorang laki-laki jangkung di ujung kanan kursi paling depan bersidekap tangan menatapku. Pandangannya mengingatkanku pada bulu babi yang kuinjak sewaktu bermain di pantai saat air mulai surut. Bulu babi yang menyengat dan membuat bengkak kaki bocahku, dua puluh satu tahun yang lalu. Matanya tajam, lurus, menusuk dan beracun. Tapi aku tak menangkap pesan apapun dari matanya. Ia memang tak ingin berpesan apa-apa lagi. Aku tahu itu. Tapi mata itu. Oh, mata itu. Beracun. Mata yang tak berbicara apapun tapi terasa membakar dadaku. Aku tahu apa yang kamu mau, ya, aku tahu. Ucapku dalam hati.

“Buku ini bagus…” ucapku sebagai kalimat pembuka. Lalu menyebutkan puluhan lagi daftar kelebihan buku di tanganku itu. Aku mendaftarnya dalam ingatan, mengurainya dengan cara meyakinkan seperti seorang pedagang mangga di pasar. Buku ini bagus, penulisannya rapi, gaya bahasaya menarik, penceritaannya lancar. Dan tak lupa kuselipkan beberapa kalimat di ujung perbincangan. Buku ini penting, sebab menulis rekam jejak orang yang penting. Orang yang layak dijadikan contoh dalam banyak hal.
Begitulah, kuselesaikan semua tugas yang direncanakan dan dibebankan padaku. Kutuntaskan keharusan yang seharunya tak aku sanggupi. Tak aku penuhi. Sebab membicarakan buku ini sudah melapaui tugasku.

***

Aku melihatnya. Melihat manusia yang tadi duduk di sebelah kanan si laki-laki jangkung pemilik mata beracun itu. Sekarang orang-orang mengerumuninya. Mengular di hadapanya, seperti naga Cina meliukkan ekornya. Sementara di muka antrean ia bergantian bertanya. “Buat siapa? Atas nama siapa?” ketika mereka menjawab, ia menuliskan nama, membubuhkan sebaris kata lalu dengan cepat ia menyelesaikan tanda tangannya. Ia mendadak jadi ramah, mengucapkan terima kasih sudah datang, dan selamat membaca. Keramahan yang langka bagiku. Ia panik dan pemarah seminggu lalu dan selama enam puluh hari sebelum-sebelumnya. Aku mendengus. Menarik napas yang dalam. Ada beberapa kalimat yang hanya menggema dalam rongga dadaku.

Aku memilih keluar. Menyusuri lorong penghubung, mengambil toilet terjauh dari ruangan itu. Meninggalkan ruangan bersama poster-poster buku dan penulisnya. Sendiri, melangkah usai membalas senyum pada beberapa orang yang sudah keluar ruangan. Ya, senyum basa-basi. Senyum tiada arti dan tanpa alasan.

****

Sebuah pesan pendek masuk. Kubuka segera. Transaksi perbankan rupanya. Debit bertambah. Bonus dari obral pujianku di ruangan tadi. Lalu sebuah sms dengan cepat menyusup melanjutkan pesan operator bank tadi. “Cek saldomu. Kerjamu bagus. Terima kasih sudah menulis yang bagus dan berbicara yang tak kalah bagus. Nanti malam jumpa di tempat biasa.” Hanya kubalas emoticon senyum dan OK.

Kubasuh lagi wajahku, menunduk di wastafel. Setelah merasa segar aku mendongakkan wajah. Wajahku lurus ke arah cermin di hadapanku. Aku melihat wajah yang biasa, wajahku yang begitu-begitu saja. Butiran air masih melekat dan merambat pelan-pelan jatuh dari wajahku. Kuingat lagi satu pujian tiga bulan lalu, sebuah sms yang masuk dari si lelaki jangkung mata beracun. “You are the real ghost!”

Aku tersenyum. Lalu tiba-tiba wajah di dalam cermin memucat. Meleleh dan berantakan. Aku sudah menjadi hantu. Bertualang terlalu jauh.

Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu (Unduh Gratis)

white_hors_by_kruffka

 

Love of my life, you’ve hurt me / You’ve broken my heart and now you leave me / Love of my life, can’t you see? *

Tidakkah kau lihat. Bagaimana luka ini kau hadirkan sebab sebuah kepergian? Kau menyuruhku pulang. Tapi telah kau siapkan bagiku sebuah cara yang sakit untuk sebuah kematian.

Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku selalu membayangkan menunggang kuda. Melintasi jalan-jalan berumput kering, belok kiri di sebuah jalan penuh semak. Turun naik pada bukit-bukit berbatu. Lalu di bukit ketujuh, aku akan melihat rumahmu di bukit seberang. Di sanalah aku akan datang. Di sana kau tinggal dengan anjing kecilmu. Kau hidup di sana, bersama sebuah sumur di belakang rumah yang setia, sebuah pancuran, dan sebuah kolam berisi anak-anak ikan emas yang manis.

Aku membayangkan diriku si penunggang kuda dari desa yang jauh. Hanya berbekal keinginan dan kerinduan, aku mendatangimu.

Lalu aku membayangkan kau keluar. Menatapku dari balik jendelamu. Kau mengganti pakaian, mengenakan pakaian terbaikmu. Mengikat rambut, lalu menutupnya dengan selendang tenun warisan ibumu. Kau berias sebisa kau mampu. Sebentar lagi kudaku akan tiba. Dan demi mendengar derap kudaku datang dari kejauhan, kau akan keluar. Menyiapkan pelukan terhangat untukku. Lanjutkan membaca

UFO!

 Itulah yang membuatku takut. Ia datang begitu tiba-tiba.

Sesuatu yang datang cepat, biasanya akan pergi dengan cepat pula.

Ia datang padaku ketika aku sedang asik di depan televisi, menonton berita yang itu-itu saja. Korupsi, suap-menyuap, demonstrasi mahasiswa, penembakan oleh aparat, perceraian dan pernikahan artis sinetron. Juga presiden yang hobi sekali menyanyi dan merias diri. Saat itulah dan di situlah ia datang. Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam. Ia hanya tersenyum. Lalu duduk manis di sampingku.

“Siapa namamu?”

Ia diam.

“Siapa namamu?”

“…”

Ia diam saja. Mungkin masih takut padaku. Mungkin ia tak gampang bergaul. Atau mungkin juga ia tak terbiasa berbicara dengan orang asing. Kubiarkan saja ia diam. Melamun sendiri. Bermain dengan pikirannya sendiri.

Sebenarnya aku juga lebih suka berdiam diri. Menghabiskan banyak rokok sambil menonton televisi. Aku tahu, tak ada yang menarik lagi di televisi. Bahkan jauh sebelum ini; televisi memang tak pernah membuat sesuatu yang berarti. Bagiku terutama. Tapi bagaimana lagi, dingin malam ini membuatku malas ke luar, menemui teman di warung kopi, berbincang hingga pagi. Malam ini dingin. Dan menghangatkan diri dengan selimut di depan televisi adalah pilihan yang paling bisa aku ambil.

“Hei. Siapa namamu. Jangan diam saja.” Ia masih saja bergeming. Menelungkupkan dirinya di lantai karpet berdebu dan ikut menonton televisi.

“Baiklah, kalau kau tidak mau diberi nama, biar aku carikan nama untukmu. Setuju?”

“…”

“Ah, dasar kau ini! Baiklah, hmmm, namamu… hmmm”

“…”

“UFO! Ya, namamu UFO!”

Ia tersenyum, mengedipkan mata beberapa kali. Aku tak tahu apakah ia menolak atau menerima. Setuju atau tidak. Hidungnya yang kecil tidak terlihat kembang kempis. Matanya, oh mata yang aku sukai, bagai bintang utara saat pukul setengah empat pagi. Mata itu menatapku sayu, berkedip sesekali dan suka terpejam agak lama, kira-kira hitungan satu sampai sepuluh anak kecil yang belajar berhitung.

“Kamu datang tak diundang, datang tiba-tiba. Dari itulah aku namakan kamu UFO! Kamu paham?” ia hanya tersenyum, sedikit sekali. “Ah, kau ini. Tapi sudahlah. Temani saja aku malam ini. Datanglah kapan pun kau mau. Meskipun tiba-tiba, tapi jangan pergi mendadak, aku tak suka kehilangan,” ucapku meyakinkannya. “Kalau kau mau pergi, jangan lupa pamit, ya?” Ia mengangguk. Tersenyum dan menatapku. Isyarat matanya menunjukkan, ia sepakat.

Ia yang manis, patut menerima nama yang manis. UFO! Bukankan nama itu nama yang bagus? Manis, manis dan sungguh manis.

Di luar, hujan turun deras, memercik ke jendela, membasahi daun dan batang pohon. Dingin. UFO, tertidur pulas di dekatku. Di bawah kakiku. Lanjutkan membaca