Ibu Sayur dan 10.000 Buku yang Ingin Ia Lepas

Saya punya langganan seorang penjual sayur dekat rumah. Sudah sekitar tiga tahun saya belanja di warungnya. Sejak ia masih berjualan di emperan sebuah ruko, sejak ia hamil besar dan hingga kini ia berjualan di rumahnya. Anaknya juga sudah besar, sudah bisa berjalan dan bicara. Namanya Bu Yani, ia adalah sosok penjual sayur yang rajin dan ramah, tak jarang kalau sedang belanja, saya terjebak di antara ibu-ibu yang sedang belanja sayur di sana. Sebagai laki-laki kadang saya agak rikuh. Apa aya, dapur harus tetap ngebul biar saya bisa bermain dan memasak. Maklum, waktu awal berlangganan, saya hanya hidup dengan kucing-kucing di rumah.

Bu Yani sempat bertanya pekerjaan saya apa. Mungkin karena saya kelihatan selo sekali, belanja kadang agak siang, kadang juga sore atau malam. Ia heran, kok ada pengangguran yang rajin beli sayur di tempatnya. Ketika saya jawab pekerjaan saya penulis, dia tampak terkesima. Lalu ia bercerita tentang hobinya membaca, koleksi bukunya dan bagaimana ia mendidik anaknya untuk suka juga membaca. Rupanya dia punya cerita yang panjang tentang dunia yang saya geluti. Bu Yani punya lebih dari 10.000 koleksi buku di rumahnya. Ia sempat membuat sebuah persewaan buku di Jogja. Karena sering berpindah rumah, kini usaha persewaan bukunya tidak berjalan lagi. Kini buku-buku tersebut tersimpan rapi di ruang tengahnya. Ruang tengahnya sudah serupa perpustakaan di mana anak-anaknya bermain. Lanjutkan membaca

Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.” Lanjutkan membaca

Kurban dan 2 Hal Lain yang Keren Dalam Islam

6279848391_b6d68323c2_b
Ada tiga hal yang paling saya sukai menjadi pemeluk agama islam. 1. Hari Raya Kurban, 2. Puasa Ramadhan, dan 3. Surat Al-Kafirun.

Pada Hari Raya Kurban, saya selalu merasa diajarkan berbagi, mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk orang-orang baik ataupun jahat di sekeliling kita. Saya suka sekali melihat orang berkumpul di Masjid, bekerjasama mengurus pangan lalu membaginya secara adil dan merata ke semua rumah di sekeliling Masjid itu. Tanpa terkecuali. Keyakinan dan kehidupan sosial, juga urusan perut dan keberlangsungan hidup terlihat membaur pada prosesi ini.

Kisah tentang Ibrahim dan Ismail yang tersohor itu merupakan salah satu kisah yang paling saya sukai, baik dalam kisah Quran, atau dibandingkan dengan kisah lain semacam dongeng, cerpen atau novel. Saya sering membayangkan diri saya sebagai Ibrahim, bapak baik yang suatu hari mendapat kejutan istimewa: Menyembelih anaknya sebagai bukti keimanan pada Tuhan yang saya yakini. Pada pemikiran rasional, dan jika saya berada di posisi itu, saya pasti akan menolak. Bagaimana mungkin saya harus menyembelih anak saya, ada banyak sapi, kambing atau unta yang bisa saya sembelih. Kenapa harus anak saya?

Saya akan bersikeras menolak perintah itu. Bagi saya, Tuhan tidak rasional. Adakah Tuhan yang meminta membunuh? Adakah Tuhan gila yang menguji keimanan dengan tantangan yang bahkan Ia sendiri tidak menyukainya? Tapi Ibrahim bukan saya, dan saya juga buka dia. Ibrahim yang tulus ikhlas menerima Tantangan itu. Ia menerima dan mempersembahkan anaknya ke hadirat Tuhan yang sama-sama ia sayangi.

Saya seringkali memikirkan ulang cerita Kurban ini, terlebih menjelang atau ketika hari raya begini. Saya kerap bertanya, inikah rasionalitas sesungguhnya yang sedang diajarkan Tuhan pada umat manusia? Barangkali Tuhan sedang ingin berkata: Hai Ibrahim, Aku tidak mungkin memintamu membunuh anakmu, itu tidak masuk akal. Aku hanya sedang memintamu mengorbankan hartamu untuk orang lain. Maka digantilah Ismail dengan domba dan menjadi cikal-bakal perayaan Hari Raya Kurban hingga saat ini. Penggantian ini juga sekaligus memutus sejarah banyak peradaban manusia yang mengorbankan darah dan atau jiwa manusia terhadap apa yang mereka puja. Ritual Kurban sebagaimana dilakukan banyak kepercaan purba berhasil diubah peristiwa ini menjadi ritual sosial. Kurban itu utuk diri dan masyarakat, bukan untuk sesuatu yang dipuja.

Mungkin Ibrahim waktu itu tidak berpikir ke arah demikian, atau ia tahu tapi ia tak bisa menolak dengan alasan keimanan. Mungkin juga ini adalah cerita yang ingin mengajarkan banyak hal pada kita. Bahwa setiap pemeluk yang taat, wajib menuruti perintah Tuhan yang ia junjung. Dalam kadar inilah, keimanan memang sesuatu hal yang kadang–menurut saya–memang tak perlu rasionalitas. Di sinilah rasionalitas dan spiritualitas kerap berjalan berbeda arah. Ada banyak hal dalam pilihan keyakinan tidak membutuhkan rasionalitas, kita yakin dan kita menunjukkan keyakinan itu dengan tindakan.

Pada Puasa, saya merasa masuk ke bagian paling dalam dari diri saya. Kejujuran. Saya merasa tak ada yang tahu saya puasa atau tidak, begitu juga tak ada yang bisa memaksa saya untuk berpuasa. Puasa adalah urusan paling pribadi, tidak bisa dibagi. Seseorang bisa saja bilang ia sedang berpuasa, tapi makan di warung yang agak jauh. Momentum sahur dan berbuka memiliki kenangan dan sentuhan spiritual yang sangat berbeda di bandingkan momentum-momentum lain dalam keseharian. Dua-duanya bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dan keduanya juga punya rasa masing-masing.

Ibadah, ketuhanan dan agama memang sering menjadi ritual pilihan paling pribadi. Kita bisa beribadah ramai-ramai, kita bisa beribadah sendirian. Membangun sebuah hubungan paling pribadi dengan Yang Mahamengetahui.

Dan pada Surat Al-Kafirun, saya paham di mana posisi saya dan agama saya, di mana posisi agama lain, teman lain yang berbeda keyakinan. “Bagimu agamu, dan bagiku agamaku”. Bukankan dengan turunnya surat ini saja, kita sudah tahu di mana kita memposisikan diri, bagaimana juga kita berhubungan dengan banyak orang di sekeliling kita. Surat Al-Kafirun selalu menjadi surat terbaik dan surat pilihan bagi saya saat solat. Entah mengapa, mungkin karena surat ini surat pertama yang saya hafal dalam hidup saya, baik bahasa arab maupun terjemahan bahasa Indonesianya.

Saya suka tiga hal tersebut, dan saya rasa, masalah suka dan tidak suka memang kadang tak selalu butuh alasan.

Jika suatu saat kau ingin melupakanku

Jika suatu saat kau ingin melupakanku
ingatlah sesuatu yang pernah kuberikan padamu
sesuatu yang tak akan pernah kusebut
bahkan dalam puisiku ini

Jika suatu saat kau ingin melupakanku
maka sesungguhnya kau pun tahu
aku tak akan pernah bisa melakukan yang sama
sebab setiap punggung yang membelakangiku, menjauh dariku
selalu menjadi dirimu
masuk dalam kepalaku

Dan
jika suatu saat kau benar-benar telah melupakanku
akan kubiarkan matamu–mata dalam kepalaku itu
menatapku selalu
menatap mataku yang selalu berair
mengalirkan derita dari ulu hatiku

 

Jogjakarta, Agustus 2014

 

Memahami dan Menghafal Mantra Tata Letak Sebuah Buku

Ketika penulis membuat sendiri tata letak atau layout bukunya, sering kali mereka tidak menciptakan tata letak yang terbaik. Hal ini karena keterbatasan yang ia miliki. Memang tidak semua penulis wajib bisa desain dan layout buku, sebab tugas utama penulis adalah mati-matian membuat tulisan yang bagus. Tapi jika mereka bisa, hal ini akan menambah nilai bagi dirinya sendiri, terlebih di era media dan penerbitan buku yang makin melesat ini.

Di era media terbaru seperti saat ini, seorang penulis tak hanya butuh kemampuan menulis, ia perlu sedikitnya tahu tentang publikasi; membuat dan menulis blog untuk menyapa pembacanya, atau bermain di  media sosial untuk publikasi dan berinteraksi dengan khalayak dunia tulis menulis.

Dalam hal publikasi buku, selain menerbitkan buku di penerbit, seorang penulis juga bisa menjadi penerbit bagi dirinya. Sebenarnya penulis bisa memanfaatkan jasa-jasa freelance yang tersedia, atau jika bukunya diterbitkan di penerbit umum, mereka bahkan tak perlu memikirka hal-hal teknis itu. Tapi toh tidak ada salahnya jika penulis mencoba belajar. Dalam situasi tertentu, saya yakin akan berguna. Sesekali juga penulis perlu membuat ebook atau PDF yang bisa ia bagikan di blog untuk mengundang makin banyak pembaca. Nah, sedikit pemahaman dasar tentang tata letak akan membuat pekerjaannya lebih mudah. Lanjutkan membaca

Sang Presiden dan Buku Puisi Kesedihan

Suatu sore yang masih panas di hari Jumat, Sang Presiden itu akhirnya mundur dari jabatannya. 27 tahun lebih 6 bulan ia memerintah dengan tangan besi yang menyala. Di hari ke-14 demonstrasi rakyat, ia menyerah. Hari itu kekuasaanya usai sudah. Aksi mogok makan telah membuat 412 pemuda pingsan. Rumah sakit penuh. Tak kuat dengan desakan negara-negara jiran, Sang Presiden diktator mengumumkan pengunduran dirinya: “Demi rakyat yang selalu saya cintai. Saya mengundurkan diri sebagai presiden, menyerahkann jabatan saya pada Partai Oposisi Rakyat untuk mengambil alih pemerintahan. Terima kasih, rakyatku.” Rakyat bergembira sore itu. Pesta digelar di segenap pelosok negeri. Jalan raya dipenuhi rakyat yang bernyanyi, menari, bergembira dan berpesta. Malam harinya, sebuah berita mengagetkan terdengar: Sang Presiden mati gantung diri di dalam kamarnya.

#1

Hari itu juga, partai oposisi mengambil alih pemerintahan. Didukung oleh kekuatan masa rakyat, pemimpin partai yang dinilai paling berani dan selalu dipuji rakyat dilantik menjadi presiden. Ia adalah presiden kedua setelah dua puluh delapan tahun negaranya merdeka. Ia dilantik, diiringi sorak-sorai kemenangan perjuangan rakyat. Demi jalannya pemerintahan yang normal dan mencegah kediktatoran, undang-undang darurat segera dibuat. Sang Presiden yang baru hanya diberi jabatan satu tahun. Satu tahun uji coba, lalu di tahun berikutnya akan digelar pemilu pertama. Sejak hari pelantikannya, Sang Presiden baru menghitung mundur 365 hari ke belakang.  Di kamar istirahatnya, setiap hari ia melingkari kalender, hitungan mundur menuju kalender akhir masa jabatan.

Kebijakan pertamanya sungguh menggemparkan. Sepekan setelah presiden lama runtuh bersama kekuasaannya, tepat di hari Jumat, sebuah peraturan resmi dikeluarkan: Sejak hari ini, tak ada yang boleh bersedih.

Jumat adalah hari yang sakral, hari kemerdekaan baru. Tak ada yang boleh bersedih mulai hari itu. Rakyat begitu gembira. Sejak hari itu tak ada lagi rakyat yang bersedih. Lanjutkan membaca