Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.” Lanjutkan membaca

Cerpen: Senin Selasa dan 5 Hari Setelahnya (Unduh Gratis PDF)

surealisUnduh gratis cerpen ini di sini

Senin. Ia menyiapkan segala yang harus ia bawa untuk berangkat sekolah. Seperti kamu juga menyiapkan semuanya. Pensil beserta rautnya. Kamu membawa rautan bundar dengan lubang pisau, ia membawa sebuah silet kecil dalam tasnya. Ia sudah memasukkan buku-buku yang tertera di jadwal pelajaran tembok kamarnya, juga tentu saja seragam yang sudah ia sertika tadi malam sebelum tidur. Ketika suara jam dinding berdetak kencang enam kali, ia ke dapur, sarapan dan segera keluar rumah. Kalian keluar rumah hampir bersamaan, kamu hanya mengangkat sedikit  kepala tanda sapaan. Ia tersenyum. Kamu membiarkannya jalan lebih dulu. Usai memasang sepatu, kamu menyusulnya dengan langkah lebih cepat.

Selasa. Lonceng berteriak tiga kali dari ruang guru yang menyatu  dengan ruang kepala sekolah. Di ruang itu jabatan hanya dibedakan dengan kursi dan meja. Kepala sekolah mejanya sendiri, kursinya berbusa lapis kulit sintesisi coklat. Meja guru agak panjang dan untuk dua orang, tempat duduknya kursi kayu semata.  Ia segera berlari ke kantin. Sebenarnya bukan kantin, melainkan sebuah pasar kecil yang dibangun di dalam sekolah. Para pedagangnya membayar sewa pada kepala sekolah setiap bulannya. Beberapa kali ketika ia keluar ke toilet di pojokan sekolah untuk kencing agak lama, sembari menghindari rasa bosan, ia sering melihat seorang lelaki pendek berjaket kulit coklat yang lusuh datang pada para pedagang. Lelaki itu memberikan kupon kuning, para pedagang mengeluarkan beberapa lembar uang. Kamu juga sering melihat kejadian itu. Kepala sekolah sering melihatnya juga. Suatu hari kamu bertanya pada kakak kelasmu. “Rentenir.” Jawabnya. Kamu ingin bertanya apa maskudnya, tapi kakak kelas itu sudah meninggalkanmu. Lanjutkan membaca

Menulis Fiksi: Permainan 10 Kata Pertama

Ada kalanya kita bingung harus memulai menulis dari mana. Tidak peduli penulis pemula atau penulis profesional yang bahkan telah melakukan kegiatan menulis secara rutin setiap hari. Bagi penulis fiksi, baik itu cerpen, maupun novel, menemukan ide cerita belumlah cukup sebagai modal menulis. Kadangkala penulis fiksi sudah mendapatkan ide, plot dan siapa saja tokoh yang akan ia mainkan dalam tulisannya. Namun, kerap kali penulis bingung harus memulai dari mana. Dari awal, akhir, atau tengah-tengah. Mau menyuguhkan narasai dulu, dialog, konflik atau bahkan menempatkan penutup di awal cerita.

Kebuntuan semacam ini bisa jadi sangat mengganggu. Seorang penulis bisa diam di tempat, menatap layar komputer yang kosong, menggerakkan jemarinya yang sudah mulai gatal, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil diketik. Bisa jadi ini ciri awal munculnya penyakit penulis yang bisa disebut writers block. Lanjutkan membaca

[Surat] Yogyakarta, Tahun 2050

rain-in-december_smKekasihku, hujan asam turun lagi di kotamu. Di kota, di mana masa lalu kini menjadi kenangan dan hadir dalam malam-malam ganjil tidurku. Hujan menderas menampar-nampar kaca jendela, dan di dalam rumah, secangkir teh berusaha menyelamatkanku dari kemalangan masa tua yang sendiri.

Apa yang sedang kau lakukan di sana? Hujan asamkah di atap rumahmu? Atau angin Februari sama sekali berbeda antara dua kota terpisah ini. Apa pun yang terjadi, aku ingin kau bahagia. Meski kutahu, encok barangkali telah memangsa sendi-sendimu. Pegal telah menggerogoti otot-ototmu. Aku tahu, usia seperti ini tak mungkin lagi berharap kesehatan yang lebih. Kantuk bisa datang sesuka hatinya. Gigil, ngilu dan pening juga bisa saja memasuki tubuh kita tanpa mengetuk pintu raga.

Malam ini aku sendirian, Kekasihku. Seperti beribu-ribu malam sebelumnya. Pintu rumah telah kututup, jendela telah aku kunci, sementara lampu belum mau aku matikan. Aku masih mengingatmu, seperti juga mengingatmu lebih dari empat belas ribu hari sejak pertemuan kita dulu.

Masihkah kau ingat masa remaja kita? Masa di mana kita masih kuat mengayuh sepeda, malam Minggu menuju pusat Kota Yogya. Masa di mana kita masih kuat begadang minum kopi hingga subuh hari. Aku tahu, otak kita mulai usang dimakan usia, tapi aku juga sangat tahu, ingatan tak bisa ditukar waktu atau ragam peristiwa yang datang setelahnya. Ingatkah kau akanku? Aku yang mengayuh sepeda untukmu, aku yang menghadiahkan buku di belakang Taman Pintar untukmu, aku yang mengajakmu menonton teater dan baca puisi di Taman Budaya, aku, lelaki yang mengajakmu begadang dan kelaparan, lalu memburu makanan sepanjang jalan Malioboro.

Aku ingat dirimu. Rambutmu yang harum, kulitmu yang hangat dan senyumanmu yang menggembirakan. Aku ingat bagaimana erat pelukanmu di atas kendaraan roda dua, bagaimana pejal perutmu saat memelukku. Aku mengingatmu, kau yang lebih suka memilih paha ayam daripada kepalanya, kau yang selalu minta nambah teh hangat manis di pojok Alun-Alun Keraton Yogya. Kau yang gembira mendapatkan kacang rebus atau jagung bakar. Aku mengingatmu, mengingat semua masa remaja kita yang bagiku tak pernah sia-sia. Masa remaja yang gembira, masa remaja yang penuh kenangan waktu di Yogya.

Bagaimana kabarmu di sana? Apakah kota yang kau tinggali sekarang sama manisnya dengan kota kelahiranmu, dengan kota Yogya yang memberikan udara dan air untuk separuh usiamu? Apakah kota itu sama ramahnya seperti manusia Yogya? Aku sebenarnya ingin menghabiskan masa muda, tua, dan seluruh usia denganmu. Tapi kau meninggalkan Yogya, meninggalkan aku menjadi manusia lata, meninggalkan aku, menikmati masa tua yang merana.

Kadang, aku menyesal kenapa manusia harus tua. Aku masih ingin memberikanmu bunga, mengajakmu minum kopi di Code, mengajakmu merenung di Tugu, masuk melihat sepur yang entah dari mana dan ke mana tujuannya. Aku ingin tetap muda, tetap ingin bersamamu ke Yogya, mendatangi pameran-pameran buku dan lukisan, menonton lawakan, berburu barang bekas di klitikan. Lalu mencari sudut kota yang sepi untuk mengambil foto, dan sesekali berciuman jika tak ada orang.

Aku ingin memesankan lagu untukmu pada pengamen-pengamen Malioboro, duduk di Prada, atau sesekali naik ke Kaliurang, atau turun ke Pantai Selatan, sekadar menyendiri, memandang langit memerah kala senja. Atau sekadar mencari waktu yang manis untuk bersama.

Aku ingin muda selalu, menghabiskan sisa belanja bulanan untuk membeli film bajakan di Jalan Mataram. Memburu buku puisi di pasar-pasar buku murah di Yogyakarta. Aku ingin segalanya kuhabiskan bersamamu. Aku juga ingin mengajakmu melihat Yogya yang makin renta dan tua. Raja-raja tak lagi sama, tukang becak, ojek, dan taksi juga tak lagi sama. Jalan kota makin penuh, Alun-Alun malih rupa. Aku menyaksikannya sendiri, sementara kamu tak ada.

Datanglah kembali ke kotamu. Pulanglah kembali ke Yogya. Kota di mana kamu dilahirkan, kota di mana kita dipertemukan. Lalu kita habiskan masa tua bersama, sembari membuka album foto masa remaja kita. Mengingat kembali wajah Keraton puluhan tahun lalu, wajah Malioboro, wajah Benteng, wajah jalan-jalan kota, juga wajah manusia-manusia yang kini telah tak ada. Wajah-wajah yang selalu datang dan pergi.

Datanglah. Pulanglah ke Yogya. Sembari menunggu habis usia kita. Dan salah satu dari kita akan menangis kehilangan di satu pagi. Kembalilah, pulanglah kau, Kekasihku. Aku dan Yogyakarta merindukanmu.

Yogyakarta,  18 Februari, 2050.

Kekasihmu

Unduh gratis PDF Yogyakarta, Tahun 2050 di sini

Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu (Unduh Gratis)

white_hors_by_kruffka

 

Love of my life, you’ve hurt me / You’ve broken my heart and now you leave me / Love of my life, can’t you see? *

Tidakkah kau lihat. Bagaimana luka ini kau hadirkan sebab sebuah kepergian? Kau menyuruhku pulang. Tapi telah kau siapkan bagiku sebuah cara yang sakit untuk sebuah kematian.

Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku selalu membayangkan menunggang kuda. Melintasi jalan-jalan berumput kering, belok kiri di sebuah jalan penuh semak. Turun naik pada bukit-bukit berbatu. Lalu di bukit ketujuh, aku akan melihat rumahmu di bukit seberang. Di sanalah aku akan datang. Di sana kau tinggal dengan anjing kecilmu. Kau hidup di sana, bersama sebuah sumur di belakang rumah yang setia, sebuah pancuran, dan sebuah kolam berisi anak-anak ikan emas yang manis.

Aku membayangkan diriku si penunggang kuda dari desa yang jauh. Hanya berbekal keinginan dan kerinduan, aku mendatangimu.

Lalu aku membayangkan kau keluar. Menatapku dari balik jendelamu. Kau mengganti pakaian, mengenakan pakaian terbaikmu. Mengikat rambut, lalu menutupnya dengan selendang tenun warisan ibumu. Kau berias sebisa kau mampu. Sebentar lagi kudaku akan tiba. Dan demi mendengar derap kudaku datang dari kejauhan, kau akan keluar. Menyiapkan pelukan terhangat untukku. Lanjutkan membaca