Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu
Menyeberangi awan yang serupa kapas
ia pergi meninggalkanmu

Usia menua
Bisa saja ia lupa
Bumi menua
Tuhan tidak selalu
meberikan senyum pada nasibmu

Tiga samudera ia pergi
dan barangkali melupakanmu
Usia menua dan kau tak pernah tahu,
barangkali ia mencoba menghapus bekas pelukanmu
di dadanya

November 2015

Review #KepulanganKelima oleh Vira Cla

kepulangan kelima

Vira Cla, menulis sebuah review album puisi, musik dan ilustrasi #KepulanganKelima di Goodreads. Berikut reviewnya, silakan dibaca.

Saya jarang mengulas buku secara mendalam (ulasan berikut juga tak dalam-dalam amat sih), apalagi untuk sebuah buku puisi. Karena saya masih mengganggap puisi itu suatu karya yang kompleks, rumit untuk dipahami, dan diinterpretasi. Khusus Kepulangan Kelima ini, saya akan mencoba mengulas buku puisi (kalau kata penyairnya Irwan Bajang, dari sudut pandang saya sebagai prosais. Halah! Hahaha..)

Mungkin ada satu hal yang harus saya pikir ulang. Mungkin puisi itu memang tidak untuk dipahami. Tapi, tentu saya harus mendapatkan sesuatu dari puisi, bukan? Atau, puisi itu hanya untuk dibaca-baca, dinikmati untaian baris kata-katanya? Kalaupun memang begitu, ya saya tak mau begitu saja. Setidaknya, saya ingin tahu pesan apa yang dicoba disampaikan penyairnya. Untuk itu saya harus bisa menerjemahkan puisi yang berbahasa penyair menjadi berbahasa saya. Dari 30 karya puisi dalam buku Kepulangan Kelima ini–kalau tak salah hitung–tak ada yang terlalu sulit dicerna (mengingat betapa paranoid saya dengan puisi, takut tak mengerti). Boleh saya bilang kalau puisi-puisi Irwan Bajang adalah puisi-puisi yang bercerita. Saya suka cerita. Dan ternyata lebih menyenangkan membaca puisi yang bercerita ketimbang cerita yang terlalu puitis. Sungguh! Mungkin semua puisi memang bercerita, tapi demikianlah kesimpulan saya yang jarang baca puisi (pengakuan dosa!)

Mungkin tak ada satu pun karya di dunia ini yang luput dari persoalan cinta. Mungkin lho ya! Begitu pula dengan Kepulangan Kelima. Dan soal cinta, tentu tak harus selalu bermanis-manis kata. Ada cinta yang mengobarkan amarah. Ada cinta yang melahirkan keputusasaan, ketidakadilan. Puisi “biar kutitipkan kau pada semesta” salah satunya; puisi yang bercerita tentang ibu yang “menitipkan bayinya pada semesta” (saya dan anda bebas menginterpretasinya) untuk kemudian menjadi pelacur. Cintanya pada suaminya yang tewas dihakimi massa telah menjelma keputusasaan. Sebentuk kritik sosial? Mungkin. Begitu pula yang saya tangkap dari beberapa puisi lain, seperti “kepulangan kelima”, begini penggalan puisinya:

“Di tanah kelahiran
kepulangan dari rantau, hanya mengajakku terheran-heran
Masjid-masjid yang besar, kebun tebu tetangga yang kian kering
rumah-rumah penduduk dengan listrik yang selalu padam
pukul enam petang” (Dear, PLN! Kenapa di daerah masih sering listrik padam hah?)

Lalu puisi “rumah yang terbakar” dan “rudi ingin bermain, tapi di luar sedang hujan”, tampaknya membicarakan tentang dampak industri. Bahkan puisi pendek “pada resepsi pernikahan itu” bisa dibilang ada kritik sosialnya juga, kenapa perempuan kekasihnya menikah saat “buncit lima bulan”? Dengan pria lain pula? Nah, lho?!

Selebihnya, puisi-puisi bercerita tentang cinta yang lebih intim. Kalau tak pasangan kekasih, ya cinta pada Pencipta atau hal-hal lainnya. Sesuai dengan judul bukunya, beberapa puisi juga menggambarkan kecintaan seorang perantau pada kampung halamannya. Tentang seorang yang ingin pulang. Puisi soal itu yang paling berkesan buat saya adalah “tak ada jalan menuju rumah”.

“Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya.” (tak ada jalan menuju rumah)

Saya tak mau bilang jelek pada suatu karya. Begitu pula pada puisi “mereka tak mengenalku lagi”. Terus kenapa memangnya kalau mereka tak mengenalmu lagi? Kalau anak gaul bilang, masalah buat gue? Hehehe… Puisi ini tidak jelek. Tapi, saya tak suka saja. Lalu, pada puisi “reinkarnasi” yang saya suka tapi ada yang mengganjal dalam interpretasi saya terhadap puisi ini. Saya mengira ‘aku’ adalah Adam manusia pertama, tapi kenapa dia bilang ‘sejak kakek buyutku berkali-kali menjelma puisi’? Ah, mungkin saya melihat dari kacamata prosais/novelis/cerpenis: cerita itu harus logis.

Buku Kepulangan Kelima ini adalah sepaket puisi; teks, musik dan ilustrasi. Dan bagi saya, puisi-puisi tersebut adalah cerita. Cerita yang akan diterjemahkan beda lagi oleh saya saat membaca ulang nanti. Untuk sekali baca ini, saya terkesan. Karena saya tak dibikin pusing oleh karya Irwan Bajang. Jadi, kalau saya bilang buku ini layak masuk nominasi KLA 2013, akan sangat subjektif.

Wawancara #KepulanganKelima oleh Gilang Pradana

kepulangan kelimaDi sela-sela kesibukannya sebagai owner Indie Book Corner, menulis, giat di forum-forum sastra, dan masih banyak lagi segudang aktivitas lainnya. Irwan Bajang merelakan waktu luangnya untuk saya grecoki. Haha. Terkait dengan karyanya, album musikalisasi Kepulangan Kelima. Saya lakukan semua itu atas nama passion to art and sains. Beruntung dia tidak keberatan. Meski agak terlambat merespon email yang saya kirim 5 hari yang lalu dan beberapa pertanyaan ada yang terskip. Karena memang terlalu teknis untuk dijelaskan disini. Namun sama sekali bukan masalah penting. Jika Irwan mengatakan menulis puisi itu untuk bersenang-senang, maka dibuatnya sesi interview ini juga untuk bersenang-senang. :)

***

Saya tak cukup paham dengan puisi, kecuali mungkin merasai setiap diksi-diksi didalamnya, sebagai contoh yang saya kutip di puisi Kepulangan Kelima; “tak ada yang bisa mengkhianati kenangan, meski kita telah gagal menyelamatkan perasaan masing-masing”, menurut Anda apakah puisi itu?

Puisi, bagi saya pribadi adalah sebuah jalan untuk bersenang-senang. Saya senang saat saya  menulis puisi. Sama kayak pemain bola atau penunggang kuda bahagia saat melakukan aktivitasnya. Tentunya sebagai penulis yang karyanya akan dibaca orang lain, saya juga harus memikirkan bagaimana kesenangan saya menulis puisi ini bisa menyentuh dan menyenangkan orang juga. Pemain bola harus bikin gol indah agar penontonnya bisa teriak dan senang. Setidaknya pengalaman saya dan pembaca pasti banyak bertemu pada beberapa titik. Nah, titik itu yang mati-matian dicari oleh seorang penulis. Titik pertemuan, di mana pengalaman penulis, pengalaman pembaca bertemu. Di pertemuan itu impresi kita bertemu dan kita seolah mengalami kejadian yang sama. Penulis dan pembaca bertemu dalam sebuah pengalaman menulis dan membaca yang bersinggungan.

Di web Anda terpajang sebuah adagium yang cukup menarik “Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” Sepertinya Anda cukup vokal mengajak orang-orang agar menerbitkan bukunya secara indie, jika bukan, self-publish, boleh minta alasannya kenapa? Bukankah lebih baik dicetak dan diurus oleh penerbit-penerbit besar, mengingat profitable yang menggiurkan menanti di hari depan? 

Saya memulai karir menulis saya hitungannya tanpa bantuan siapapun secara langsung. Memang ada guru bahasa Indonesia sewaktu sekolah. Tapi dalam proses selanjutnya saya yang mencari sendiri pengalaman menulis, saya membaca sendiri, saya menemukan kegembiraan dan kenikmatan sendiri di sana. Nah, di awal, buku pertama saya cetak sendiri dengan sangat sederhana. Saya layout, bikin cover dan distribusi sendiri dengan teman-teman. Saya menikmati sekali situasi itu. Novel saya pernah diterbitkan oleh penerbit mayor juga, namun toh akhirnya saya balik ke jalan saya semula. Saya itu suka sekali tantangan, nah, menerbitkan buku sendiri, mendatangi pembaca sendiri itu menantang bagi saya. Saya suka dan saya jalani deh :) .  Dalam beberapa kasus sebenarnya tidak ada yang berbeda antara penerbit konvensional dan menerbitkan buku secara indie atau mandiri. Hanya masalah siapa yang mendanai, siapa yang menjual dan share keuntungan aja. Selama ini saya lebih merasa diuntungkan dengan menempuh jalan menulis dan menerbitkan sendiri. Baik secara waktu, idealisme, sebaran buku, hak dan hasil secara finansial ataupun non finansial. Makanya saya sering kampanye menerbitkan buku sendiri. Siapa tau ada yang suka, ada yang nyaman, jadi bisa nambah banyak teman sharing lagi :). Royalti penerbit 10%, royalti saya 80% dari harga jual buku. Kalau hitung matematis, pendapatan saya jauh lebih banyak sih. Tapi menulis kan nggak semata-mata untuk itu. Ada banyak maksud lain selain kepentingan finansial.

Selain menulis puisi, cerpen, esei, dan mengurus Indie Book Corner apakah Anda juga bisa memainkan alat musik? Jika iya, apa? Apa yang mendorong anda untuk memasukan unsur musik dalam puisi ini?

Saya nggak bisa main alat musik, ngggak bisa nyanyi. Heheh. Tapi hidup saya ditemani musik sejak lahir. Sejak SD ayah saya sudah meracuni saya dengan banyak sekali jenis musik, terutama rock, sampai sekarang saya suka musik. Nah karena saya nggak bisa, maka saya kolaborasi. Kalau saya paksakan, bisa hancur deh karya itu. Hahahaha. Nggak semua orang suka baca puisi, nggak semua orang suka baca buku, buku Kepulangan Kelima saya maksudkan untuk menyentuh lebih banyak audiance, kalau nggak suka baca, denger aja tulisan yang dibacakan atau dinyanyikan. Pesan dan pengalaman saya mungkin bisa saja tidak sampai seperti apa yang saya maksudkan saat menulis, tapi bisa jadi juga sampai dengan lebih cepat, lewat jalan yang nggak saya pikirkan sebelumnya. Perkara itu kan, hak pembaca. Masak sih saya udah nulis sendiri, saya mau mengarahkan pembaca lagi untuk memahami sesuai mau saya. Saya ini siapa?

Seberapa besarkah kecintaan Anda terhadap musik?

Seperti jawaban saya di atas. Ayah saya suka musik, tiap hari saya mendengarkannya dan sampai sekarang susah sekali hidup tanpa musik. Hehehe. Gini gini SMA saya punya band, lho. Tapi band yang kacaulah, hahaha. Untung aja bandnya bubar, kalau nggak bubar saya bisa saingan sama Kangen Band.

Musik dan puisi manakah yang paling Anda sukai di album Kepulangan Kelima ini?

Saya menikmati semuanya, Ari KPIN mengekspresikan apa saja terserah dia dan bandnya. Saya nggak ikut campur bagaimana warna musiknya, keceriaan atau kesedihan yang ia sajikan lewat alunan musik, semuanya terserah kolaborator. Ari saya posisikan sebagai pembaca, bukan rekan penulisan puisi, meskipun beberapa puisi saya ada yang diberi masukan juga dan dikoreksi. Saat proses berlangsung, saya masuk menjadi bagian dari bandnya aja, bukan sebagai orang yang menulis puisi lagi. Saya suka Rinjani, Bangun Tengah Malam, dan Merah Padam Wajahmu. Banyak puisi yang saya tidak duga pemaknaannya bisa berbeda. Itu lucu, menyenangkan dan penuh kejutan.

Apakah Anda cukup puas dengan Album musikalisasi puisi ini, bagaimanakah proses  kreatifnya? Mengingat Anda,  Ari KPIN, dan Octora Guna Nugraha berada di kota yang berbeda dengan Anda?

Puas sekali, sampai menjelang album ini jadi saya tidak pernah berjumpa dengan mereka. Semua dilakukan jarak jauh, bahkan saya rekaman suara sendiri di kos. Hasilnya saya kirim via email dan dimusikkan, digabungkan oleh Ari KPIN. Menjelang Album rampung saya ke Bandung, jumpa sebagai teman dunia maya di dunia nyata. Kenalan, ngobrol-ngobrol dan finishing album Kepulangan Kelima. Lalu jadi deh. Hehehehe. Itulah kekuatan generasi cyber. Gak perlu jumpa, nggak perlu saling kenal, tapi kita bisa kerjasama.

Apakah Anda juga turut campur meracik komposisi setiap track di album ini?

Nggak, semuanya murni Ari KPIN. Saya itu pengen belajar musik, karena saya nggak bisa.

Apa yang Anda pilih puisi atau musik?

Puisi donk.

Rinjani, lagu ini begitu sunyi dan sepi, semacam kontemplasi total (setidaknya menurut saya). Manakah yang lebih dulu dibuat, puisi, atau komposisi musiknya?

Musikalisasi itu lahir dari puisi. Induknya puisi yang sudah jadi. Musik takluk pada puisi, Ari berjuang menemukan nada yang pas, intonasi yang pas. Semua puisi sudah jadi dan nggak diubah satu titik pun oleh pemusiknya. Itu perbedaan lagu secara umum dan musikalisasi puisi. Puisi jadi, si pemusik membuat puisi ini menjadi lagu.

Terakhir Bung, seandainya saya atau mereka ingin menulis buku secara Indie apakah yang harus dilakukan sebelum naik cetak karena mungkin kebanyakan dari kami takut tidak laku bukunya jika sudah dicetak, sehinga kerugian (secara materi) atasnya pun tak dapat dihindari, bagaimanakah mengantisipasi hal tersebut menurut Anda?

Belajar menulis yang bagus! Itu tugas pertama seorang penulis. Buku bagus memang belum tentu laku. Tapi buku bagus nggak laku lebih terhormat daripada buku jelek yang laris. Hm….., kenapa takut rugi, kan buku bisa diproduksi 1 eksemplar saja. Kalau nggak pesen ya nggak usah dicetakin. Hehehe. Atau kalau mau bener-bener bukunya dicetak banyak, kerjasama sama marketing, komunitas atau media untuk publikasinya. Intinya itu sih.

Terima kasih Bung Irwan atas waktunya. Keep breathing in poetry, a poetry, and poetry for many people. Tabik!

*Wawancara dilakukan oleh Gilang Pradana dan diposting di blognya www.reverserunning.wordpress.com

Review Arman Dhani: #KepulanganKelima dan Puisi yang Biasa Saja

kepulangan kelimaArman Dhani membuat sebuah catatan kritis tentang album puisi saya Kepulangan Kelima di blognya. Silakan dibaca jika berkenan.

Kepulangan Kelima dan Puisi yang Biasa Saja

Bagaimana cara anda menikmati puisi? Apakah dengan kesunyian dan teh yang hangat menjelang senja tiba? Ataukah dalam hingar bingar ramai pasar yang bertempik sorak perihal harga yang ditawar? Ataukah seperti banyak pegiat kebudayaan, anda datang pada sebuah sarasehan melihat pembacaan puisi dengan segenap ekstase, musikalisasi, dramatisasi dan deklamasi yang dibuat buat? Apapun itu semoga anda tak menikmati puisi dengan cara menangis di depan podium sambil bicara soal moral.

Sebelum saya membahas buku puisi karya penulis, esais, editor dan penyair Irwan Bajang bertajuk Kepulangan Kelima, saya hendak bercerita tentang penyair bohemian lain Bukowski. Tentang bagaimana si supir taksi dan penyair misoginis ini berkreasi dengan diksi dan metafora. Tentang bagaimana sebuah sajak diperlakukan sebagai sebuah dialog. Dengan pembaca? Ternyata tidak. Dalam pembacaan saya dari kumpulan sajak Sifting through the madness for the Word, the line, the way (Harper Collins Ebook, 2003) Bukowski sedang melakukan dialog dengan dirinya sebagai penyair pembaca dan penyair berkarya.

Bukowski menemukan ruang “sakral-sunyi” dimana sebagai seorang penyair ia tak ragu berkata bahwa sajak harus dipahami. Sajak bukan kata dalam kitab suci seperti “Alif Lam Mim” yang nir makna. Sajak semestinya dekat dengan objek pendengar-pembacanya atau dalam bahasa saya penyair bukan tuhan yang puisinya tak bisa dipahami. Bukowski bagi saya sukses untuk menyederhanakan konsep sublim menjadi keseharian yang jamak. Seperti dalam bait “my happiest times were / when / I was left alone in / the house on a / Saturday.” Sajak, bagi saya, seharusnya sederhana namun memiliki arti makna yang dalam.

Irwan Bajang melalui kumpulan puisinya saya kira hampir berhasil untuk menyederhanakan makna tanpa membuat sajaknya menjadi dangkal. Ia melahirkan teks puisi yang bisa duduk dekat dan berkarib dengan pembaca. Di sisi lain ia tetap bisa menjaga estetika dan diksi senafas dengan identitas premordialnya. Sayang Bajang masih gagal menciptakan gaya berpuisinya sendiri dan terjebak pada keterpukauan penyair lampau mulai dari puisi liris Chairil dan hingga Indrian Koto. Membeo pada gaya yang sudah terlalu sering dibikin cetakannya membuat pembacaan sajak-sajak Bajang menjadi murahan. Hanya satu dua puisi yang benar-benar saya nikmati. Sisanya hanyalah kalimat poster yang tak lebih baik dari slogan iklan sabun.  Lanjutkan membaca

Review Halim Bahriz: Irwan Bajang Dan Puisi-Puisi Yang Dibuntuti Kepulangan

Sebuah review #KepulanganKelima yang lumayan panjang datang dari Halim Bahriz, seorang penggiat komunitas sastra cum penyair dan esais di Jember. Review ini ia tulis di blognya Remang di Persipangan. Selamat membaca.

kepulangan kelima

 

Membaca, tentu menjadi bagian dari upaya menjalin relasi spesifik dengan teks. Pembacaan, hampir selalu mengancam kita; jatuh cinta (atau sebaliknya), memiliki keinginan bersetubuh (atau membunuh) lalu melahirkan (atau menguburkan) “sesuatu” setelahnya. Untuk melahirkan, sebuah relasi spesifik memiliki kebutuhan mutlak atas persetubuhan. Mungkin,lewat persetubuhan itu, kita akan diperkenalkan pada dua hal: “tubuh-yang-natural”dan “tubuh-yang-kultural”.

Persetubuhan natural tergerak dari hasrat biologis murni tanpa memberi kesempatan bagi konsepsi relasi diperbincangkan lagi, dikonstruksi ulang, sebelum pada akhirnya tersusun kembali sebagai kitab suci yang baru: realitas pola relasi telah saling mengasah dengan pemahaman diri yang maksimal. Dalam persetubuhan natural, birahi ditukar terburu lalu meledak di tubuh masing-masing. Persetubuhan macam begini, tidak mengalami prosedur perkenalan yang kompleks, apalagi menghasilkan produk yang percaya diri.Tentu, banyak hal akan luput bahkan terancam gagal untuk sekedar terpilih menjadi ingatan.

Menuliskan pembacaan atas Kepulangan Kelima untuk bahan perbincangan kita malam ini, memberi kesempatan lebih pada cara persetubuhan yang natural itu. Ritus penelanjangan berlangsung lekas, atau bisa jadi ada lembaran-lembaran pakaian yang belum lepas, ada bagian-bagian tubuh yang belum dijamah sungguh-sungguh, ada konsekuensi kultural yang mesti ditanggung tetapi tak sempat masuk hitungan. Sementara birahi telah lebih dulu meledak. Meski begitu, proses persetubuhan kami beralaskan kerelaan, bukan pemaksaan seperti yang sering kita alami dalam institusi pendidikan formal: Persetubuhan adalah pemerkosaan. Entah, siapa yang diperkosa, teks atau pembaca.

Terkadang, ritus pembacaan teks membutuhkan waktu yang tak sebentar. Semisal, untuk merasakan grafitasi puitik sebaris /Mati kau dikoyak-koyak sepi/ milik Chairil Anwar bisa jadi membutuhkan durasi hingga berbulan-bulan. Akan tetapi, ada pula yang hanya melewati beberapa detik untuk memasuki ruang bergrafitasi puitik dari kata-kata Si Binatang Jalang yang bertahuan-tahun telah dikandangkan dalam kurikulum pendidikan formal sejak sekolah dasar itu. Mungkin, pemahaman atas wacana-wacana sastra yang berpengaruh besar atas terbentuknya batas-batas kemampuan seseorang mengalami grafitasi puitik itu. Meski jelas, hal itu tak sepenuhnya benar.

Pada suatu malam, saat angin kemarau mengeras dalam pori kulit, warung kopi langganan tengah didatangi bos-bos Philip Morris berambut pirang yang blepotan berbicara dalam bahasa Indonesia. Semua bungkus rokok ditukar dengan produk dari Philip Morris. Sebungkus Gudang Garam Surya milik teman yang masih tersisa tiga batang di dalamnya mereka ambil, lalu seorang lelaki berkulit seperti bayi babi menginjaknya sambil berkata: “This is not good!”. Tiba-tiba ada jantung yang berdenyut dengan cara berbeda. Ada kepala yang menyusun kata: “Inikah puisi? Apakah telah terjadi gempa puisi? Atau jangan-jangan, ruangan ini tengah bergrafitasi puitik?”

Lanjutkan membaca