Badai Senjakala Media Cetak Memang Sudah Dekat, Kapten Bre Redana

Usai membaca Inikah Senjakala Kami… tulisan Bre Redana yang saya dapatkan dari tautan dinding facebook seorang teman, saya segera menjentikkan jari ke tombol share tulisan tersebut. Tak lupa saya sisipkan tulisan pendek untuk ngeksis sekaligus sebagai status facebook saya; “Ya gimana nggak ditinggalkan, esai di koran ini bahkan tidak ngomong apa-apa. Astaga! Bahkan di titik krusial ketika sedang membicarakan senjakala dan ketertinggalan dirinya sendiri. Parah.”

Tulisan pendek tersebut mungkin terkesan emosional. Dan saya akui memang iya. Meskipun sebenarnya status pendek itu lebih pantas saya klaim—karena itu tulisan saya sendiri—sebagai sebuah bentuk rasa heran dan ketidakpercayaan. Kok bisa tulisan seperti itu dimuat di kolom ‘khusus’ sebuah koran nasional dan di hari minggu pula. Hari di mana konon koran tidak selaku hari biasanya, sehingga koran minggu perlu ditambahkan rubrik sastra, rubrik hahahihi selebririti dan foto-foto yang aduhai jepretannya. Saya heran, di samping isi esainya yang menurut saya tidak berbicara secara tajam, tulisan ini ditulis oleh seorang seorang penulis cum jurnalis yang sudah malang melintang publikasi di koran cetak. Dan sialnya lagi, tulisan buruk ini ada di hari minggu. Hari di mana lebih enak bangun siang lalu sarapan yang enak dibanding baca koran. Apalagi kalau tidak langganan dan harus keluar ke perempatan.

Oh ya, kalau Anda belum tahu, saya baca tulisan ini di koran minggu edisi cetak yang didaringkan. Jadi bisa dibaca malam hari, sebab layar ponsel pintar tidak mungkin dijadikan bungkus pecel. Aha! Lanjutkan membaca