Kecemasan yang Menulis Dirinya Sendiri

Ia tidak sedang ingin menulis untuk siapa-siapa. Termasuk untuk dirinya sendiri. Kata-kata telah berubah menjadi sesuatu yang berkuasa. Mendesak jarinya untuk mengetik segera. Sekali lagi bukan untuk siapa-siapa. Bukan pula untuk dirinya.

Maka di tengah deru abu gunung Kelud yang sampai di kota Jogja jarinya mengetik sendiri tanpa ia kuasai: Kalimat-kalimat berloncatan, rencana-rencana dalam kepala luber seniri ke papan ketiknya. Bermuara menjadi genangan kata-kata. Jemarinya bergerak bebas, ia tak kuasa menghalanginya.

Sebenarnya ia ingin menyelesaikan sesuatu. Sebuah kisah pelarian orang yang kecewa. Sebuah kisah tentang pindah rumah, menjadi orang asing baru, menjadi manusia baru dan asing kembali dari awal. Ia ingin menyelesaikannya, mencoba berkejaran dengan kalender, mencoba mengejutkan dirinya sendiri dengan sebuah kedisiplinan yang selalu susah ia lakoni. Tapi akhirnya, ia segera sadar. Ia terlalu banyak menunda. Terlalu sibuk pada hal-hal kecil yang kadang menyita banyak waktu. Dan ia sadar. Ia sedang menunda banyak pekerjaan, seperti menuda apa saja sejak dulu.

Di sudut, baju-baju kotor teronggok. Di lemari, baju bersih semakin berkurang. Dan ia tidak menemukan botol minuman di dekat laptop merah sahabatnya. Sudah dini hari, malam itu, ia tidur dengan berbantal seribu gelisah.

Jogjakarta, 21 Februari 2012

Tikungan, Ruang Transit Komunitas Literasi

“Rumah baca tak harus hanya identik dengan meminjam dan mengembalikan buku. Lebih dari itu, Tikungan dibuat untuk ruang belajar bersama, diskusi, publikasi, pameran, pemetaan komunitas, pembangunan jaringan sekaligus ruang transit bagi penulis, seniman dan komunitas di seluruh Indonesia.”

tikungan 2Jika kamu seorang penulis, seniman, grup band atau pelukis, maka datanglah ke Rumah Baca Tikungan di Jember. Datanglah dan buat acara di sana! Rumah baca ini tidak seperti rumah baca kebanyakan. Banyak aktivitas sosial yang berlangsung di dalamnya. Tikungan ingin menghapus mitos bahwa rumah baca adalah tempat yang membosankan, berisi banyak buku yang hanya pasrah untuk dibaca dan dikembalikan ke raknya jika sudah selesai dibaca.

Mulai membangun dan menjaga hidup sebuah komunitas literasi di sebuah daerah tentu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi komunitas ini dihuni beragam kepala di dalamnya. “Selalu ada sebuah titik temu jika kita mau berpikir dan bekerjasama”, selogan semacam inilah yang menjadi titik awal keberangkatan beberapa anak muda di Jember Jawa Timur melakukan kegiatannya. Titik temu itu adalah buku dan ilmu pengetahuan. Dari dua titik ini mereka berangkat, membangun sebuah ruang yang mereka beri nama Tikungan, lengkapnya Kelompok Belajar Tikungan. Dari kelompok belajar itu kemudian dibentuk lagi sebuah ruang lain yang lebih fokus pada pendidikan, komunitas ini bernama Rumah Baca Tikungan.

“Kelompok Belajar Tikungan adalah kelompok yang ingin mempopulerkan budaya literasi di Kabupaten Jember.” ucap Arys Aditya, salah satu pentolan Tikungan.

Dalam komunitas ini, para anggota tidak terikat dengan mekanisme struktur yang baku. Komunitas dijalankan secara egaliter tanpa struktur, seperti ketua, wakil lengkap dengan divisi-divisinya. Komunitas hanya diisi beberapa koordinator kelompok studi. Mirip dengan ruang kuliah yang banyak belajar disiplin ilmu, Tikungan menjalankan program studi dengan cakupan yang beragam. Kelompok studi dipilah sesuai minat dan kecenderungan dari para awaknya. Ada  Studi Sastra, Teologi, Seni Pertunjukan, Filsafat Politik, Kedaulatan Ekonomi, Linguistik dan Bahasa, Perubahan Sosial, serta Lingkungan Hidup. Tentu saja studinya tidak terlalu formal dengan jadwal dan dosen yang tetap. Masing masing koordinator mencari pemateri, mencari data, riset dengan tim dan menentukan waktu serta ruang yang pas untuk kegiatannya. Intinya adalah belajar bersama.

“Kami sering bekerjasama dengan penerbit dalam penulisan buku, juga dengan penulis untuk melakukan bedah buku,” sambung Arys Aditya yang juga baru menerbitkan buku pada bulan Juli 2013 lalu. Selain rutin memublikasikan media, buletin, mereka juga kerap mengadakan kerjasama dengan beberapa penulis atau sastrawan. Berada di sebuah daerah geografis “Tapal Kuda” Jawa Timur, Tikungan menjadi semacam tempat transit bagi banyak komunitas. Komunitas sastra, musik, seni rupa dan lain sebagainya di seluruh Indonesia kerap datang dan difasilitasi penuh oleh Tikungan. Sebagai wadah literasi, Tikungan pun kerap menyusun agenda yang bisa dikerjakan bersama, seperti bedah buku, pameran, seni musik, seni tradisi dan lain sebagainya.

“Agenda terakhir kemarin adalah bedah buku penulis dari Tikungan dan penulis dari Jogja. Sebelum-sebelumnya, banyak juga penulis yang transit di sini dan berdiskusi,” sambung Arys. “Selanjutnya akan jalan lagi agenda lain seperti pemutaran film, pameran foto, grafis, kelas cerpen, essai, puisi dan usaha residensi.”

Irwan Bajang

*Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Wawancara #KepulanganKelima oleh Gilang Pradana

kepulangan kelimaDi sela-sela kesibukannya sebagai owner Indie Book Corner, menulis, giat di forum-forum sastra, dan masih banyak lagi segudang aktivitas lainnya. Irwan Bajang merelakan waktu luangnya untuk saya grecoki. Haha. Terkait dengan karyanya, album musikalisasi Kepulangan Kelima. Saya lakukan semua itu atas nama passion to art and sains. Beruntung dia tidak keberatan. Meski agak terlambat merespon email yang saya kirim 5 hari yang lalu dan beberapa pertanyaan ada yang terskip. Karena memang terlalu teknis untuk dijelaskan disini. Namun sama sekali bukan masalah penting. Jika Irwan mengatakan menulis puisi itu untuk bersenang-senang, maka dibuatnya sesi interview ini juga untuk bersenang-senang. :)

***

Saya tak cukup paham dengan puisi, kecuali mungkin merasai setiap diksi-diksi didalamnya, sebagai contoh yang saya kutip di puisi Kepulangan Kelima; “tak ada yang bisa mengkhianati kenangan, meski kita telah gagal menyelamatkan perasaan masing-masing”, menurut Anda apakah puisi itu?

Puisi, bagi saya pribadi adalah sebuah jalan untuk bersenang-senang. Saya senang saat saya  menulis puisi. Sama kayak pemain bola atau penunggang kuda bahagia saat melakukan aktivitasnya. Tentunya sebagai penulis yang karyanya akan dibaca orang lain, saya juga harus memikirkan bagaimana kesenangan saya menulis puisi ini bisa menyentuh dan menyenangkan orang juga. Pemain bola harus bikin gol indah agar penontonnya bisa teriak dan senang. Setidaknya pengalaman saya dan pembaca pasti banyak bertemu pada beberapa titik. Nah, titik itu yang mati-matian dicari oleh seorang penulis. Titik pertemuan, di mana pengalaman penulis, pengalaman pembaca bertemu. Di pertemuan itu impresi kita bertemu dan kita seolah mengalami kejadian yang sama. Penulis dan pembaca bertemu dalam sebuah pengalaman menulis dan membaca yang bersinggungan.

Di web Anda terpajang sebuah adagium yang cukup menarik “Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” Sepertinya Anda cukup vokal mengajak orang-orang agar menerbitkan bukunya secara indie, jika bukan, self-publish, boleh minta alasannya kenapa? Bukankah lebih baik dicetak dan diurus oleh penerbit-penerbit besar, mengingat profitable yang menggiurkan menanti di hari depan? 

Saya memulai karir menulis saya hitungannya tanpa bantuan siapapun secara langsung. Memang ada guru bahasa Indonesia sewaktu sekolah. Tapi dalam proses selanjutnya saya yang mencari sendiri pengalaman menulis, saya membaca sendiri, saya menemukan kegembiraan dan kenikmatan sendiri di sana. Nah, di awal, buku pertama saya cetak sendiri dengan sangat sederhana. Saya layout, bikin cover dan distribusi sendiri dengan teman-teman. Saya menikmati sekali situasi itu. Novel saya pernah diterbitkan oleh penerbit mayor juga, namun toh akhirnya saya balik ke jalan saya semula. Saya itu suka sekali tantangan, nah, menerbitkan buku sendiri, mendatangi pembaca sendiri itu menantang bagi saya. Saya suka dan saya jalani deh :) .  Dalam beberapa kasus sebenarnya tidak ada yang berbeda antara penerbit konvensional dan menerbitkan buku secara indie atau mandiri. Hanya masalah siapa yang mendanai, siapa yang menjual dan share keuntungan aja. Selama ini saya lebih merasa diuntungkan dengan menempuh jalan menulis dan menerbitkan sendiri. Baik secara waktu, idealisme, sebaran buku, hak dan hasil secara finansial ataupun non finansial. Makanya saya sering kampanye menerbitkan buku sendiri. Siapa tau ada yang suka, ada yang nyaman, jadi bisa nambah banyak teman sharing lagi :). Royalti penerbit 10%, royalti saya 80% dari harga jual buku. Kalau hitung matematis, pendapatan saya jauh lebih banyak sih. Tapi menulis kan nggak semata-mata untuk itu. Ada banyak maksud lain selain kepentingan finansial.

Selain menulis puisi, cerpen, esei, dan mengurus Indie Book Corner apakah Anda juga bisa memainkan alat musik? Jika iya, apa? Apa yang mendorong anda untuk memasukan unsur musik dalam puisi ini?

Saya nggak bisa main alat musik, ngggak bisa nyanyi. Heheh. Tapi hidup saya ditemani musik sejak lahir. Sejak SD ayah saya sudah meracuni saya dengan banyak sekali jenis musik, terutama rock, sampai sekarang saya suka musik. Nah karena saya nggak bisa, maka saya kolaborasi. Kalau saya paksakan, bisa hancur deh karya itu. Hahahaha. Nggak semua orang suka baca puisi, nggak semua orang suka baca buku, buku Kepulangan Kelima saya maksudkan untuk menyentuh lebih banyak audiance, kalau nggak suka baca, denger aja tulisan yang dibacakan atau dinyanyikan. Pesan dan pengalaman saya mungkin bisa saja tidak sampai seperti apa yang saya maksudkan saat menulis, tapi bisa jadi juga sampai dengan lebih cepat, lewat jalan yang nggak saya pikirkan sebelumnya. Perkara itu kan, hak pembaca. Masak sih saya udah nulis sendiri, saya mau mengarahkan pembaca lagi untuk memahami sesuai mau saya. Saya ini siapa?

Seberapa besarkah kecintaan Anda terhadap musik?

Seperti jawaban saya di atas. Ayah saya suka musik, tiap hari saya mendengarkannya dan sampai sekarang susah sekali hidup tanpa musik. Hehehe. Gini gini SMA saya punya band, lho. Tapi band yang kacaulah, hahaha. Untung aja bandnya bubar, kalau nggak bubar saya bisa saingan sama Kangen Band.

Musik dan puisi manakah yang paling Anda sukai di album Kepulangan Kelima ini?

Saya menikmati semuanya, Ari KPIN mengekspresikan apa saja terserah dia dan bandnya. Saya nggak ikut campur bagaimana warna musiknya, keceriaan atau kesedihan yang ia sajikan lewat alunan musik, semuanya terserah kolaborator. Ari saya posisikan sebagai pembaca, bukan rekan penulisan puisi, meskipun beberapa puisi saya ada yang diberi masukan juga dan dikoreksi. Saat proses berlangsung, saya masuk menjadi bagian dari bandnya aja, bukan sebagai orang yang menulis puisi lagi. Saya suka Rinjani, Bangun Tengah Malam, dan Merah Padam Wajahmu. Banyak puisi yang saya tidak duga pemaknaannya bisa berbeda. Itu lucu, menyenangkan dan penuh kejutan.

Apakah Anda cukup puas dengan Album musikalisasi puisi ini, bagaimanakah proses  kreatifnya? Mengingat Anda,  Ari KPIN, dan Octora Guna Nugraha berada di kota yang berbeda dengan Anda?

Puas sekali, sampai menjelang album ini jadi saya tidak pernah berjumpa dengan mereka. Semua dilakukan jarak jauh, bahkan saya rekaman suara sendiri di kos. Hasilnya saya kirim via email dan dimusikkan, digabungkan oleh Ari KPIN. Menjelang Album rampung saya ke Bandung, jumpa sebagai teman dunia maya di dunia nyata. Kenalan, ngobrol-ngobrol dan finishing album Kepulangan Kelima. Lalu jadi deh. Hehehehe. Itulah kekuatan generasi cyber. Gak perlu jumpa, nggak perlu saling kenal, tapi kita bisa kerjasama.

Apakah Anda juga turut campur meracik komposisi setiap track di album ini?

Nggak, semuanya murni Ari KPIN. Saya itu pengen belajar musik, karena saya nggak bisa.

Apa yang Anda pilih puisi atau musik?

Puisi donk.

Rinjani, lagu ini begitu sunyi dan sepi, semacam kontemplasi total (setidaknya menurut saya). Manakah yang lebih dulu dibuat, puisi, atau komposisi musiknya?

Musikalisasi itu lahir dari puisi. Induknya puisi yang sudah jadi. Musik takluk pada puisi, Ari berjuang menemukan nada yang pas, intonasi yang pas. Semua puisi sudah jadi dan nggak diubah satu titik pun oleh pemusiknya. Itu perbedaan lagu secara umum dan musikalisasi puisi. Puisi jadi, si pemusik membuat puisi ini menjadi lagu.

Terakhir Bung, seandainya saya atau mereka ingin menulis buku secara Indie apakah yang harus dilakukan sebelum naik cetak karena mungkin kebanyakan dari kami takut tidak laku bukunya jika sudah dicetak, sehinga kerugian (secara materi) atasnya pun tak dapat dihindari, bagaimanakah mengantisipasi hal tersebut menurut Anda?

Belajar menulis yang bagus! Itu tugas pertama seorang penulis. Buku bagus memang belum tentu laku. Tapi buku bagus nggak laku lebih terhormat daripada buku jelek yang laris. Hm….., kenapa takut rugi, kan buku bisa diproduksi 1 eksemplar saja. Kalau nggak pesen ya nggak usah dicetakin. Hehehe. Atau kalau mau bener-bener bukunya dicetak banyak, kerjasama sama marketing, komunitas atau media untuk publikasinya. Intinya itu sih.

Terima kasih Bung Irwan atas waktunya. Keep breathing in poetry, a poetry, and poetry for many people. Tabik!

*Wawancara dilakukan oleh Gilang Pradana dan diposting di blognya www.reverserunning.wordpress.com

#5BukuDalamHidupku: Sebuah Proyek Mudik Bareng ke Blog Sendiri

#5BukuDalamHidupku

Menulis di blog atau sering disebut ngeblog/blogging (merujuk pada blogger sebagai penyedia layanan blog yang sempat paling populer)  sudah menjadi bagian dari generasi terkini. Generasi pengguna internet. Penulis profesional, penulis yang baru belajar sampai penulis catatan harian sudah sangat lumrah dengan aktivitas ini. Saya pribadi mengenal blog pertama kali dari layanan jejaring sosial friendster yang sekarang sudah almarhum, lalu ketika badai internet menyerang Indonesia, saya memulai petualangan pindah dari hati ke hati blog lain. Multiplay, Blogspot, WordPress, Tumblr, Plurk, Wix, sudah pernah disinggahi. Facebook kemudian menggerus banyak sekali blogger ke sebuah ruang interaksi serba lengkap dan cepat dengan fasilitas note yang ia sediakan.

Blog sempat berkurang penggunanya, setidaknya saya salah satunya (jangan tanya statistik ya, ya ya…). Namun bagi blogger setia, kehadiran jejaring sosial yang riuh tetap tidak bisa mengalahkan ruang hening blog, blog adalah rumah untuk pulang dan menepi dari riuhnya jejaring sosial. Saya pribadi lebih menikmati proses blogging sebagai proses kembali ke rumah. Mudik. Rumah di mana kita bisa menulis, membiarkannya menjadi arsip pribadi yang tidah perlu di-tag seperti di note facebook atau fasilitas catatan ramai lainnya yang disediakan Kompasiana, Salingsilang, Kemudian.com dan blog 2.0 lainnya.

Ramainya lalu lintas interaksi di jejaring sosial membuat beberapa blogger yang saya kenal, mengaku merasakan hal serupa. Blog adalah rumah pulang. Rumah sepi di mana penulisnya (agak) mengasingkan diri dengan tulisan yang lebih dalam atau lebih santai, lebih ringan dan diskusi yang tidak sederas lini masa twitter atau facebook.

Kali ini saya ingin mengajak sahabat bloger sekalian untuk pulang. Menyiangi rumput di halaman blog yang terbengkalai, menanamnya dengan tulisan-tulisan yang bisa jadi tak berarti sedikit bagi si penulis dan pengunjung blog.

Proyek kali ini adalah proyek menulis bersama. Saya tidak mau membebani diri terlalu berat dengan misalnya membuat proyek 30 hari menulis. Mungkin banyak yang kuat, saya secara pribadi bukan orang yang tekun dan pasti kalah di seperempat awal proyek  yang direncanakan. Kali ini saya ingin mengajak kalian menulis 5 buku saja. 5 buku paling berpengaruh dalam hidup. Saya teringat program Radiobuku yang mengarsipkan banyak sekali penulis dengan wawancara buku pertamaku, berisi 5 buku paling berpengaruh, atau istilah lebih WOWnya, 5 buku yang mengubah hidup Anda!

Nah, tak usah banyakan pengantar, saya jabarkan langsung teknisnya: Lanjutkan membaca

Menerbitkan Buku Secara Mandiri

SETELAH menulis, penulis tentu saja harus memublikasikan tulisannya. Ada banyak pilihan ketika kita selesai menulis. Mengirimnya ke media, memublikasikannya ke blogatau website pribadi, atau menerbitkannya menjadi buku.

Untuk memublikasikan ke media, biasanya penulis mengirim ke koran, majalah, jurnal atau media apa saja. Untuk cerpen dan puisi biasanya dikirim ke koran atau majalah. Skenario dikirim ke Production House dan novel dikrim ke penerbit. Dari sanalah sumber penghasilan para penulis.

Honor di koran bervariasi. Koran lokal membayar Rp300.000,- sampai Rp600.000-, sementara koran nasional membayar lebih dari itu, bahkan angkanya bisa menembus Rp1.200.000,-. Majalah tentu membayar lebih. Sementara jika menulis novel, penulis biasanya dibayar dengan royalti. Royalti dihitung dari harga jual buku dan dibayarkan berkala, sebulan, tiga bulan ataun enam bulanan, tergantung kontrak. Atau dengan sistem jual putus, yakni sebuah naskah dibeli kontan dan dibayar penuh sesuai kesepakatan.

Selain itu, banyak juga penulis yang mengupayakan sendiri untuk menerbitkan karyanya. Mereka biasanya mendesain, mengedit dan mencetak lalu menyebarkan bukunya sendiri atau bersama tim. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova karya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, nah, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan bukunya sendiri.

Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing, baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping CD audio tersebut. Selain itu, penjualannya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi, karena makin banyak tersedianyakamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis misalnya, karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tersebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik. Di banyak negara, praktik self publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self publishing semakin dipenuhi oleh anggota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri, beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalti penulis pemula hingga 10%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulis marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal best seller. Karena itu, ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Penerbitan buku secara mandiri atau self publish (saya lebih senang menyebutnya indie), memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia.

Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah teknologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak misspersepsi tentang buku indie atau self publishSelf publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipakai jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut.

Setidaknya, saya menangkap ada praktik atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hal yang tak disadari oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan, buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicuci, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati lebih.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan dalam penerbitan sebuah buku:

1. Penyuntingan/Editing

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal.

Banyak orang beranggapan mengedit naskah hanyalah sebuah upaya membenarkan ejaan. Anggapan ini sangat keliru. Sebab mengedit naskah bukan hanya semata membenarkan, tapi juga mengoreksi secara utuh sebuah tulisan. Menjadikan tulisan itu sebisa mungkin menjadi tulisan sempurna yang tak bisa lagi direcoki dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; emang iya? Masa sih? Ngaco nih buku! dan lain sebagainya. Beberapa hal penting dalam penyuntingan buku setidaknya termaktub dalam poin-poin sebagai berikut:

  1. Restrukturisasi kalimat yang kacau,
  2. Koherensi kalimat dan pengecekan logika bahasa,
  3. Pemantapan gagasan,
  4. Pengaturan plot, penempatan ulang ide secara rapi dan tertata,
  5. Pengecekan fakta,
  6. Pengecekan catatan referensi,
  7. Dll.

Dalam beberapa kasus, terutama dalam skala penerbitan besar, seorang editor bahkan merancang juga konsep, ukuran buku, sudut pandang penulisan, pemilihanfont, rencana cover dan rencana distribusi serta pemasaran. Juga termasuk pembangunan isu serta koordinasi timbal balik antara penulis dan penerbitnya. Pada bagian  inilah, peran penting seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layoutcoverproof, cetak, promosi, dan distribusi.

2. Penyelarasan Aksara/Proof Reading

Penyelaras aksara atau biasa disebut proof reading adalah tahap lanjutan dari editing buku. Ibarat mengecat sebuah motor atau mobil, bagian ini adalah bagian penghalusan, clearing, sehingga hasilnya makin mengilap, tidak ada bagian cat yang tak rata dan sebagainya.

Dalam penyuntingan, proof reading mengoreksi ulang hasil seorang editor. Mengecek kembali ejaan yang masih keliru, penulisan catatan kaki, hypenation atau pemenggalan kalimat, dan beberapa hal yang terlihat sepele lainnya. Posisi ini sangat vital, sebab seorang editor tentu tak luput dari kesalahan lain yang ia kerjakan. Proof reading menekan kemungkinan kesalahan yang tak diharapkan.

Seorang proof reader bahkan kadang membaca secara terbalik kalimat-kalimat dalam sebuah naskah buku agar ia bisa benar-benar konsentrasi memeriksanya kata per kata.

3. Tata Letak/Layout

Tata letak menyangkut bagaimana sebuah buku dirancang isinya, ukuran font, mau rata kiri kanan atau rata kiri saja, format quote, dan lain sebagainya. Dalam proses ini jugalah sebuah tulisan dirancang semenarik mungkin tanpa mengabaikan bagaimana konsep isi. Tata letak juga memasukkan gambar, foto, ilustrasi dan tabel untuk mendukung beberapa fakta sebuah buku. Tugas layouter atau setter adalah menjadikan buku nyaman untuk dilihat dan dibaca.

4. Pembuatan Sampul/Cover

Please Judge a Book with It’s Cover! Buku dengan cover yang asal-asalan adalah buku yang dibuat tidak sepenuh hati dan tidak serius. Sebuah cover harus dirancang sebagus mungkin, proporsi warna yang pas, perwakilan sebuah gagasan besar, juga sebagai ciri khas seorang penulis atau sebuah penerbitan. Cover bisa dibuat manual dengan skets, lukisan atau dengan software grafis seperti corel draw, photoshop atauadobe ilustrator.

5. Cetak

Tahap berikutnya adalah menyetak buku. Tahap ini jangan dianggap sepele. Pada tahap inilah sebuah penerbitan atau seorang publisher buku indie harus bergerilya mencari partner yang pas dan seimbang. Sebuah buku yang disusun dengan bagus kan tidak mungkin bagus jika eksekusi akhirnya tidak maksimal. Pilihan jenis kertas,cover, laminasi dan penjilidan yang rapi akan membuat prestise sebuah buku juga akan naik.

6. Distribusi dan Promosi

Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku, kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi, seperti buku foto ataudiary yang diniatkan untuk kalangan sendiri atau terbatas.

Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proofcover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.

Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita sendiri? Gampang! Teknologi sudah berkembang sangat pesat. Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebookebook akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggaldownload dan baca. Canggih! Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita hanya tinggal telepon dan pesan, maka buku akan segera di tangan.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebooktwitter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu sms atau telepon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca. Simpel sekali!

Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda. Banyak penyedia blog gratis,bloggertumblr dan wordpress adalah yang paling popular. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup mengeluarkan beberapa uang Anda untuk memesan domain website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda sukai, http://www.bukusaya.commisalnya, atau http://www.namasasayasiapa.com. Sangat gampang.

Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti kafe, distro, toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau dalam tenggat waktu tertentu. Tapi jika Anda tak mau repot, Anda juga bisa memajang buku Anda di toko buku langsung. Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN buku saja. Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau menggunakan jasa distributor untuk pemasaran yang lebih jauh dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari harga netto buku, atau 50%-65% untuk memakai jasa distributor.

***

 

Ketika memutuskan self publish, beberapa fase di atas tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus ketimbang penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktik self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja profesional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

 

@IrwanBajang

Menulis Adalah Melupakan Kata-Kata

Minggu tanggal 18 November lalu saya mendatangi sebuah panti asuhan di daerah Sleman Jogjakarta. Persisnya di Dusun Ngemplak di Panti Asuhan sekaligus Pondok Pesantrean Al-Mujib. Panti tersebut menampung lebih dari empat puluh anak anak asuh yang sekaligus menjadi santri. Di sanalah saya mengisi sebuah pelatihan menulis, atau tempatnya bincang dan berbagi tentang dunia tulis-menulis. Saya di minta oleh teman-teman yang kebetulan KKN dan membantu mengurus panti tersebut.

Beberapa hari sebelum acara, saya sudah menyiapkan materi untuk bahan obrolan. Saya membuat sebuah mini magz atau sebut saja zine dengan judul “Beguru pada Penulis Dunia”, isinya tentu saja bagaimana menulis, membuat kalimat yang bagus, menarik minat pembaca, dan publikasi. Tapi sehari sebelum acara dimulai, saya tahu, saya membuat sebuah zine yang salah. Lanjutkan membaca