Cerita Kenakalan di Hari Guru

  • Kelas 1 SMP, Pak Sahrudin (Guru BK yang dijuluki jari-jari malaikat) menampar saya dan 5 bocah nakal yang bolos dengan memanjat tembok sekolah. Saya gemetar sekali waktu itu. Saya masih siswa baru. Kami hanya bosan dengan makanan kantin, dan guru magang yang menunda jam istirahat. Karena buru-buru, saya ajak saja mereka panjat tembok untuk makan siang di warung luar sekolah. Apes. Salah satu di antara kami ada yang penakut dan tidak kunjung manjat. Ketahuanlah aksi brutal kami. Usai ditampar dan dicubit, saya menemukan beberapa titik air di celana pendek seragam itu. Pipi merah, dada memar kena cubit. Lain kali, kalian panjat aja pohon kelapa, kata Pak Guru. Waduh!
  • Kelas 5 SD, Pak Sudirman menempeleng saya di depan kelas. Disaksikan teman laki-laki yang gembira dan teman wanita yang terharu. Pasalnya, saya kencing di gelas dan menaburkan air kencing saya ke segala penjuru kelas. Saya lupa apa alasan saya kencing di gelas. Haha. Yang jelas waktu kencing di gelas itu saya bahagia sekali. Selalu ada anak baik yang melaporkan. Di situlah apesnya.

Guru-guru saya pasti sudah lupa kenakalan itu. Maklumlah, ada ratusan anak nakal dalam hidupnya. Saya tidak nakal, bahkan saat SD saya cenderung cengeng. Tapi memang melakukan hal aneh dan ekstrim adalah kesukaan saya sejak kecil. Beruntung ada guru yang galak dan sabar. Semuanya sekarang jadi kenangan.

Selamat hari guru. Jasamu tiada tara.

Kecemasan yang Menulis Dirinya Sendiri

Ia tidak sedang ingin menulis untuk siapa-siapa. Termasuk untuk dirinya sendiri. Kata-kata telah berubah menjadi sesuatu yang berkuasa. Mendesak jarinya untuk mengetik segera. Sekali lagi bukan untuk siapa-siapa. Bukan pula untuk dirinya.

Maka di tengah deru abu gunung Kelud yang sampai di kota Jogja jarinya mengetik sendiri tanpa ia kuasai: Kalimat-kalimat berloncatan, rencana-rencana dalam kepala luber seniri ke papan ketiknya. Bermuara menjadi genangan kata-kata. Jemarinya bergerak bebas, ia tak kuasa menghalanginya.

Sebenarnya ia ingin menyelesaikan sesuatu. Sebuah kisah pelarian orang yang kecewa. Sebuah kisah tentang pindah rumah, menjadi orang asing baru, menjadi manusia baru dan asing kembali dari awal. Ia ingin menyelesaikannya, mencoba berkejaran dengan kalender, mencoba mengejutkan dirinya sendiri dengan sebuah kedisiplinan yang selalu susah ia lakoni. Tapi akhirnya, ia segera sadar. Ia terlalu banyak menunda. Terlalu sibuk pada hal-hal kecil yang kadang menyita banyak waktu. Dan ia sadar. Ia sedang menunda banyak pekerjaan, seperti menuda apa saja sejak dulu.

Di sudut, baju-baju kotor teronggok. Di lemari, baju bersih semakin berkurang. Dan ia tidak menemukan botol minuman di dekat laptop merah sahabatnya. Sudah dini hari, malam itu, ia tidur dengan berbantal seribu gelisah.

Jogjakarta, 21 Februari 2012

Lupakan Orang Tua yang Miskin, Bodoh dan Sombong Itu

Ada banyak cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan mengapa kita harus memaki.

Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.

Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.

Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.

Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.

Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.

Weslah. Gitu aja.

Jogjakarta, 4 Januari 2013.

*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.