Gumaman Pemilu

FOBIAS-EXTRAÑAS

Pemilu Presiden kali ini bisa jadi pemilu yang paling seru bagi masyarakat Indonesia. Beragamnya isu, kuatnya masing-masing kandidat, massifnya para pendukung, perang kebaikan dan keburukan yang intens antara kedua belah pihak, membuat banyak orang mau tidak mau terlibat secara emosional. Di mana saja dan kapan saja kita terlalu mudah mencari orang berdebat. Di warung kopi, di berita televisi, di linikala dunia maya, bahkan orang apatis dan golput saja bisa saling mendebat satu sama lain. Mirip perang antara atheis dan orang beragama. Orang atheis merasa terganggu dengan agama, sementara orang beragama merasakan hal yang sama. Beberapa orang yang mengaku tak ambil pusing juga ikut berdebat dan pusing. Padahal, mungkin dengan sama-sama diam, segalanya akan baik-baik saja.

Pemilu kali ini memang sederhana. Pilihannya hanya dua, idolamu atau idolaku. Semua hal—sebenarnya—jadi sangat sederhana. Sebab lawannya sudah jelas, setiap kelompok bisa lebih fokus pada usaha untuk menjadi pemenang. Sederhana, pilihannya hanya menang atau kalah, bukan kalah lalu koalisi lagi, negosiasi lagi, tidak. Yang kalah akan kalah, menang akan senang. Harusnya semuanya sederhana. Termasuk bagi para penggembira yang mejeng ikut seolah loyal dan seolah berkonflik dengan kubu yang lain. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.