Menjual Buku Tanpa Toko Buku?

Bisakah menjual buku online, tanpa toko, tapi hasilnya maksimal, oplahnya banyak seperti toko buku? Pertanyaan inilah yang ditanyakan Adhe, salah seorang tokoh perbukuan Jogja. Ia mengajukan pertanyaan ini pada dirinya sendiri dan pada kawan-kawan lainnya dalam beberapa sesi Jungkringan Buku yang dihelat beberapa insan perbukuan Jogja beberapa minggu belakangan ini.

Menurut saya, bisa. Sangat bisa bahkan. Dalam beberapa kasus–tapi bukan di Indonesia ya–angka penjualan ebook bahkan sudah melampaui penjualan buku fisik sejak 2012 lalu. Angka penjualan buku fisik online juga naik drastis. Untuk kasus kedua ini tak perlu riset mendalam, sebab Adhe dan kawan-kawan penjual lainnya sudah merasakan sendiri power penjualan online yang mereka kelola. Meskipun angkanya baru 300 eksemplar dan merambat pelan sampai mentok di angka 500, angka ini cukup menggembirakan bagi mereka. Wong ada kemungkinan baru di dunia maya aja sudah luar biasa banget to daripada jaman bahela dulu.

Saya punya gambaran begini:
Kita butuh sebuah marketplace khusus menjual buku yang kita inginkan. Anggap aja namanya JURAGAN BUKU, biar gampang disingkat JB. Kita bisa meniru dan modifikasi marketplace yang sudah ada, OLX, Bukalapak, Tokopedia, Lazada dsb. Bukankah di dunia buku juga ada istilah ATM, Amati, Tiru, Modifikasi. Nah, di JB, penerbit/penjual menjadi member yang bisa mengunggah sendiri buku dagangannya. Pengiriman tetap dari kantor atau rumah masing-masing. Jadi nggak ribet harus membuat gudang distribusi. Semua sistem sudah ditanam di sana, pembayaran dilayani robot. JB adalah galeri dan alat promo semata.

Bagaimana mendatangkan pembeli yang banyak? Mudah saja. Saya percaya bahwa sebuah usaha patungan yang dikelola banyak orang otomatis memiliki banyak mulut dan tangan sebagai marketing. Jika ada 10 pelapak, maka jika pelanggan masing-masing digiring belaja ke sana, angka pengunjung akan berlipat juga. Makin banyak lapak, makin banyak jaringan pelanggan mereka yang bisa dibawa belanja di sana. Ya sederhananya kayak mall atau pujasera, pembeli dengan kecenderungan masing-masing akan berdatangan di satu lokasi dan punya kemungkinan belanja lebih di lapak lainnya.

Untuk mendatangkan pengunjung yang baru, JB tidak didesain untuk menjual saja, tapi juga sebagai wadah interaksi pembaca, penjual dan pembeli. Sesekali kita lepas ebook gratis, misalnya ebook tentang resensi, merawat buku atau menulis. Atau bisa saja membagikan PDF 10% halaman awal/halaman tertentu sebuah buku sebagai bahan promo. Kita buat juga portal untuk chat haha hihi.

Dari mana Marketplace hidup? O tentu banyak. Tidak usah memikirkan rabat dari penjual. Penjual akan saling bersaing memberikan diskon pada pembeli, jadi jangan dimintai rabat lagi. Dana pengelolaan bisa dari iuran tiap member, atau jika dirasa rempong, marketplace biasanya untung dari kode unik pembelian. Marketplace bisa menambahkan 3 digit rupiah, misalnya 973 rupiah pada tiap transaksi. Kode unik ini diasumsikan menjadi keuntungan/biaya administrasi. Semua dibicarakan di awal biar nggak jadi riba dan masuk neraka.

Dan jangan salah, link, file yang bisa didownload juga bisa menghasilkan uang jika diklik. Dari situ biaya perawatan bisa didapatkan.

Tentunya memang nggak akan segampang konsep ini, kita butuh webmaster yang handal, orang yang bisa mengurus kerjasama dengan bank, kontak ekspedisi dan lain sebagainya. Yang jelas, membuat sebuah wadah seperti ini tidak akan seribet dan semahal membuat sebuah gudang bersama bagi para pelapak yang ingin menaikkan oplah penjualan yang selama ini mentok.

Kalau toh ribet, ya sudah kita berpikir simpel aja. Sebuah warung makan kecil yang enak mungkin memang tak perlu buka cabang atau memperluas warungnya. Ia hanya cukup meracik makanan enak, lalu membiarkan pembeli yang kehabisan datang lebih awal di hari berikutnya. Jadi ya kalau wes mentok di angak 300, yo gawe buku yang lain buat pembeli yang udah ngantri.

Rahasia Dapur Indie Book Corner

Grafik ini adalah grafik penjualan online kami via www.bukuindie.com/ (salah satu penerbitan yang saya kelola selama satu tahun di 2014. Terjadi lonjakan pembelian online di awal tahun, lalu secara merata turun dan naik lagi di bulan-bulan berikutnya hingga akhir tahun. Dari grafik ini (dan dari laporan real) kami bisa belajar banyak, bahwa minat pembelian online di Indonesia, terutama di web kami lumayan tinggi, meskipun fluktuatif.

Setelah saya analisa, turun naiknya angka pembelian buku ternyata disebabkan oleh satu sebab utama: buku baru terbit. Setiap satu judul buku baru terbit, pembelian meningkat dalam 1-3 minggu, pembelian menurun lagi di minggu keempat dan akan naik drastis lagi ketika ada buku baru.

Artinya, 3 minggu pertama terbit adalah waktu terbaik bagi penjualan setiap buku. Selanjutnya, popularitas buku tersebut mulai menurun dan cenderung stabil di angka sedikit sejak minggu keempat dan seterusnya. Fenomena ini terjadi di hampir semua buku yang kami terbitkan. Beberapa buku tetap terjual setiap minggunya jika terus diromosikan dan secara konten memang menarik bagi calon pembacanya. Sebenarnya ada juga beberapa buku yang penjualannya terus naik, buku ini biasanya punya kualitas lebih dibanding yang lain, atau penulisnya juga gencar mempromosikan buku dan dirinya.

Itu hanya pengantar dan gambaran singkat saja.

**

Awal tahun 2014, usai #PasarBukuIndie, kami melakukan rapat agak serius menyikapi beberapa fenomena buku dan pengalaman kami di beberapa tahun sebelumnya. Beberapa kesepakatan penting kami turunkan, di antaranya sbb:

1. Fokus penjualan buku kami berada di internet dan kami spesifikkan di website www.bukuindie.com.

Beberapa calon pembeli memang agak susah dan belum terbiasa belanja di website. Mereka lebih suka belanja via DM Twitter atau Inbox Facebook. Dalam skala yang kecil, proses ini tidak jadi masalah bagi kami, tapi jadi ribet jika terjadi dalam angka penjualan yang lumayan banyak. Maka dari itu, sebisa mungkin mereka digiring belanja di web, kalau susah, ya sudah kami terima aja daripada nggak jadi beli. Hehe.

2. Kami tidak lagi menjual buku di Toko Buku Besar. Semua perangkat penjualan kami fokuskan di penjualan online web. Toko-toko buku komunitas, toko buku alternatif masih tetap diajak kerjasama. Jika terpaksa harus menjual buku di toko buku besar, maka itu tak lebih dari kewajiban promo dan disebabkan oleh kondisi dan keadaan tertentu yang sifatnya sangat berbeda dengan konsep di atas.

Dengan demikian, rabat mahabesar dari toko buku bisa kami alokasikan ke diskon buat pembeli dan tambahan royalti buat penulis. Royalti penulis yang kami terbitkan bukunya bisa jauh lebih besar dari 10%, ini demi kebahagiaan para penulis.

Kami berniat berinvestasi agak besar di website. Menjadikannya tempat belajar dan menerbitkan tulisan. Juga sebagai tempat belaja yang asik, gampang dan menggembirakan.

Begitulah kira-kira.

Musyawarah Agung Buku Indie

Dengan hormat, Radio Buku bersama Indonesia Buku, Warung Arsip, dan para penggerak festival literasi akan menghelat Booklovers Festival pada 23 April–23 Mei 2014. Sehubungan dengan acara tersebut, kami mengundang saudara/i untuk berpartisipasi dalam Musyawarah Agung Buku Indie, sebagai rangkaian Booklovers Festival, yang akan dilaksanakan pada:

  • Hari, tanggal: Sabtu, 17 Mei 2014
  • Waktu: Pukul 14.00–17.30 WIB
  • Tempat: Bale Black Box, Jl. Sewon Indah No. 1 (pojok barat perpustakaan kampus Institut Seni Indonesia)

Bersama ini kami lampirkan peta lokasi acara, poster dan beberapa hal lain untuk memudahkan Anda berpartisipasi. Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasi, kami sampaikan terima kasih.

Sewon, 21 April 2014

Hormat kami,

Fairuzul Mumtaz, Ketua Pelaksana

TOR: MUSYAWARAH AGUNG BUKU INDIE

Runtuhnya rezim diktator totalitarian Suharto bersama Orde Barunya telah menjadi pembuka keran kebebasan dalam segala hal. Media-media baru muncul dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mereka muncul dari sekelompok aktivis pers yang selama ini takut bersuara, dibungkam dan disingkirkan kekuasaan. Wacana apa saja bergulir semaunya, deras, sekehendak siapa saja orang-orang yang berada di belakang media tersebut. Wacana-wacana yang selama Orba dianggap tabu dan susah mendapat tempat untuk dibicarakan segera hadir memenuhi ruang publik, menjadi perbicangan yang intens bagi orang-orang yang tertarik di bidangnya.  Peralihan orde ini berimbas pada kemunculan kelompok diskusi, partai politik baru, radio, televisi dan salah satunya adalah penerbitan buku. Lanjutkan membaca

Wawancara #KepulanganKelima oleh Gilang Pradana

kepulangan kelimaDi sela-sela kesibukannya sebagai owner Indie Book Corner, menulis, giat di forum-forum sastra, dan masih banyak lagi segudang aktivitas lainnya. Irwan Bajang merelakan waktu luangnya untuk saya grecoki. Haha. Terkait dengan karyanya, album musikalisasi Kepulangan Kelima. Saya lakukan semua itu atas nama passion to art and sains. Beruntung dia tidak keberatan. Meski agak terlambat merespon email yang saya kirim 5 hari yang lalu dan beberapa pertanyaan ada yang terskip. Karena memang terlalu teknis untuk dijelaskan disini. Namun sama sekali bukan masalah penting. Jika Irwan mengatakan menulis puisi itu untuk bersenang-senang, maka dibuatnya sesi interview ini juga untuk bersenang-senang. :)

***

Saya tak cukup paham dengan puisi, kecuali mungkin merasai setiap diksi-diksi didalamnya, sebagai contoh yang saya kutip di puisi Kepulangan Kelima; “tak ada yang bisa mengkhianati kenangan, meski kita telah gagal menyelamatkan perasaan masing-masing”, menurut Anda apakah puisi itu?

Puisi, bagi saya pribadi adalah sebuah jalan untuk bersenang-senang. Saya senang saat saya  menulis puisi. Sama kayak pemain bola atau penunggang kuda bahagia saat melakukan aktivitasnya. Tentunya sebagai penulis yang karyanya akan dibaca orang lain, saya juga harus memikirkan bagaimana kesenangan saya menulis puisi ini bisa menyentuh dan menyenangkan orang juga. Pemain bola harus bikin gol indah agar penontonnya bisa teriak dan senang. Setidaknya pengalaman saya dan pembaca pasti banyak bertemu pada beberapa titik. Nah, titik itu yang mati-matian dicari oleh seorang penulis. Titik pertemuan, di mana pengalaman penulis, pengalaman pembaca bertemu. Di pertemuan itu impresi kita bertemu dan kita seolah mengalami kejadian yang sama. Penulis dan pembaca bertemu dalam sebuah pengalaman menulis dan membaca yang bersinggungan.

Di web Anda terpajang sebuah adagium yang cukup menarik “Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” Sepertinya Anda cukup vokal mengajak orang-orang agar menerbitkan bukunya secara indie, jika bukan, self-publish, boleh minta alasannya kenapa? Bukankah lebih baik dicetak dan diurus oleh penerbit-penerbit besar, mengingat profitable yang menggiurkan menanti di hari depan? 

Saya memulai karir menulis saya hitungannya tanpa bantuan siapapun secara langsung. Memang ada guru bahasa Indonesia sewaktu sekolah. Tapi dalam proses selanjutnya saya yang mencari sendiri pengalaman menulis, saya membaca sendiri, saya menemukan kegembiraan dan kenikmatan sendiri di sana. Nah, di awal, buku pertama saya cetak sendiri dengan sangat sederhana. Saya layout, bikin cover dan distribusi sendiri dengan teman-teman. Saya menikmati sekali situasi itu. Novel saya pernah diterbitkan oleh penerbit mayor juga, namun toh akhirnya saya balik ke jalan saya semula. Saya itu suka sekali tantangan, nah, menerbitkan buku sendiri, mendatangi pembaca sendiri itu menantang bagi saya. Saya suka dan saya jalani deh :) .  Dalam beberapa kasus sebenarnya tidak ada yang berbeda antara penerbit konvensional dan menerbitkan buku secara indie atau mandiri. Hanya masalah siapa yang mendanai, siapa yang menjual dan share keuntungan aja. Selama ini saya lebih merasa diuntungkan dengan menempuh jalan menulis dan menerbitkan sendiri. Baik secara waktu, idealisme, sebaran buku, hak dan hasil secara finansial ataupun non finansial. Makanya saya sering kampanye menerbitkan buku sendiri. Siapa tau ada yang suka, ada yang nyaman, jadi bisa nambah banyak teman sharing lagi :). Royalti penerbit 10%, royalti saya 80% dari harga jual buku. Kalau hitung matematis, pendapatan saya jauh lebih banyak sih. Tapi menulis kan nggak semata-mata untuk itu. Ada banyak maksud lain selain kepentingan finansial.

Selain menulis puisi, cerpen, esei, dan mengurus Indie Book Corner apakah Anda juga bisa memainkan alat musik? Jika iya, apa? Apa yang mendorong anda untuk memasukan unsur musik dalam puisi ini?

Saya nggak bisa main alat musik, ngggak bisa nyanyi. Heheh. Tapi hidup saya ditemani musik sejak lahir. Sejak SD ayah saya sudah meracuni saya dengan banyak sekali jenis musik, terutama rock, sampai sekarang saya suka musik. Nah karena saya nggak bisa, maka saya kolaborasi. Kalau saya paksakan, bisa hancur deh karya itu. Hahahaha. Nggak semua orang suka baca puisi, nggak semua orang suka baca buku, buku Kepulangan Kelima saya maksudkan untuk menyentuh lebih banyak audiance, kalau nggak suka baca, denger aja tulisan yang dibacakan atau dinyanyikan. Pesan dan pengalaman saya mungkin bisa saja tidak sampai seperti apa yang saya maksudkan saat menulis, tapi bisa jadi juga sampai dengan lebih cepat, lewat jalan yang nggak saya pikirkan sebelumnya. Perkara itu kan, hak pembaca. Masak sih saya udah nulis sendiri, saya mau mengarahkan pembaca lagi untuk memahami sesuai mau saya. Saya ini siapa?

Seberapa besarkah kecintaan Anda terhadap musik?

Seperti jawaban saya di atas. Ayah saya suka musik, tiap hari saya mendengarkannya dan sampai sekarang susah sekali hidup tanpa musik. Hehehe. Gini gini SMA saya punya band, lho. Tapi band yang kacaulah, hahaha. Untung aja bandnya bubar, kalau nggak bubar saya bisa saingan sama Kangen Band.

Musik dan puisi manakah yang paling Anda sukai di album Kepulangan Kelima ini?

Saya menikmati semuanya, Ari KPIN mengekspresikan apa saja terserah dia dan bandnya. Saya nggak ikut campur bagaimana warna musiknya, keceriaan atau kesedihan yang ia sajikan lewat alunan musik, semuanya terserah kolaborator. Ari saya posisikan sebagai pembaca, bukan rekan penulisan puisi, meskipun beberapa puisi saya ada yang diberi masukan juga dan dikoreksi. Saat proses berlangsung, saya masuk menjadi bagian dari bandnya aja, bukan sebagai orang yang menulis puisi lagi. Saya suka Rinjani, Bangun Tengah Malam, dan Merah Padam Wajahmu. Banyak puisi yang saya tidak duga pemaknaannya bisa berbeda. Itu lucu, menyenangkan dan penuh kejutan.

Apakah Anda cukup puas dengan Album musikalisasi puisi ini, bagaimanakah proses  kreatifnya? Mengingat Anda,  Ari KPIN, dan Octora Guna Nugraha berada di kota yang berbeda dengan Anda?

Puas sekali, sampai menjelang album ini jadi saya tidak pernah berjumpa dengan mereka. Semua dilakukan jarak jauh, bahkan saya rekaman suara sendiri di kos. Hasilnya saya kirim via email dan dimusikkan, digabungkan oleh Ari KPIN. Menjelang Album rampung saya ke Bandung, jumpa sebagai teman dunia maya di dunia nyata. Kenalan, ngobrol-ngobrol dan finishing album Kepulangan Kelima. Lalu jadi deh. Hehehehe. Itulah kekuatan generasi cyber. Gak perlu jumpa, nggak perlu saling kenal, tapi kita bisa kerjasama.

Apakah Anda juga turut campur meracik komposisi setiap track di album ini?

Nggak, semuanya murni Ari KPIN. Saya itu pengen belajar musik, karena saya nggak bisa.

Apa yang Anda pilih puisi atau musik?

Puisi donk.

Rinjani, lagu ini begitu sunyi dan sepi, semacam kontemplasi total (setidaknya menurut saya). Manakah yang lebih dulu dibuat, puisi, atau komposisi musiknya?

Musikalisasi itu lahir dari puisi. Induknya puisi yang sudah jadi. Musik takluk pada puisi, Ari berjuang menemukan nada yang pas, intonasi yang pas. Semua puisi sudah jadi dan nggak diubah satu titik pun oleh pemusiknya. Itu perbedaan lagu secara umum dan musikalisasi puisi. Puisi jadi, si pemusik membuat puisi ini menjadi lagu.

Terakhir Bung, seandainya saya atau mereka ingin menulis buku secara Indie apakah yang harus dilakukan sebelum naik cetak karena mungkin kebanyakan dari kami takut tidak laku bukunya jika sudah dicetak, sehinga kerugian (secara materi) atasnya pun tak dapat dihindari, bagaimanakah mengantisipasi hal tersebut menurut Anda?

Belajar menulis yang bagus! Itu tugas pertama seorang penulis. Buku bagus memang belum tentu laku. Tapi buku bagus nggak laku lebih terhormat daripada buku jelek yang laris. Hm….., kenapa takut rugi, kan buku bisa diproduksi 1 eksemplar saja. Kalau nggak pesen ya nggak usah dicetakin. Hehehe. Atau kalau mau bener-bener bukunya dicetak banyak, kerjasama sama marketing, komunitas atau media untuk publikasinya. Intinya itu sih.

Terima kasih Bung Irwan atas waktunya. Keep breathing in poetry, a poetry, and poetry for many people. Tabik!

*Wawancara dilakukan oleh Gilang Pradana dan diposting di blognya www.reverserunning.wordpress.com

Menerbitkan Buku Secara Mandiri

SETELAH menulis, penulis tentu saja harus memublikasikan tulisannya. Ada banyak pilihan ketika kita selesai menulis. Mengirimnya ke media, memublikasikannya ke blogatau website pribadi, atau menerbitkannya menjadi buku.

Untuk memublikasikan ke media, biasanya penulis mengirim ke koran, majalah, jurnal atau media apa saja. Untuk cerpen dan puisi biasanya dikirim ke koran atau majalah. Skenario dikirim ke Production House dan novel dikrim ke penerbit. Dari sanalah sumber penghasilan para penulis.

Honor di koran bervariasi. Koran lokal membayar Rp300.000,- sampai Rp600.000-, sementara koran nasional membayar lebih dari itu, bahkan angkanya bisa menembus Rp1.200.000,-. Majalah tentu membayar lebih. Sementara jika menulis novel, penulis biasanya dibayar dengan royalti. Royalti dihitung dari harga jual buku dan dibayarkan berkala, sebulan, tiga bulan ataun enam bulanan, tergantung kontrak. Atau dengan sistem jual putus, yakni sebuah naskah dibeli kontan dan dibayar penuh sesuai kesepakatan.

Selain itu, banyak juga penulis yang mengupayakan sendiri untuk menerbitkan karyanya. Mereka biasanya mendesain, mengedit dan mencetak lalu menyebarkan bukunya sendiri atau bersama tim. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova karya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, nah, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan bukunya sendiri.

Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing, baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping CD audio tersebut. Selain itu, penjualannya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi, karena makin banyak tersedianyakamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis misalnya, karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tersebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik. Di banyak negara, praktik self publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self publishing semakin dipenuhi oleh anggota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri, beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalti penulis pemula hingga 10%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulis marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal best seller. Karena itu, ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Penerbitan buku secara mandiri atau self publish (saya lebih senang menyebutnya indie), memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia.

Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah teknologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak misspersepsi tentang buku indie atau self publishSelf publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipakai jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut.

Setidaknya, saya menangkap ada praktik atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hal yang tak disadari oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan, buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicuci, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati lebih.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan dalam penerbitan sebuah buku:

1. Penyuntingan/Editing

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal.

Banyak orang beranggapan mengedit naskah hanyalah sebuah upaya membenarkan ejaan. Anggapan ini sangat keliru. Sebab mengedit naskah bukan hanya semata membenarkan, tapi juga mengoreksi secara utuh sebuah tulisan. Menjadikan tulisan itu sebisa mungkin menjadi tulisan sempurna yang tak bisa lagi direcoki dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; emang iya? Masa sih? Ngaco nih buku! dan lain sebagainya. Beberapa hal penting dalam penyuntingan buku setidaknya termaktub dalam poin-poin sebagai berikut:

  1. Restrukturisasi kalimat yang kacau,
  2. Koherensi kalimat dan pengecekan logika bahasa,
  3. Pemantapan gagasan,
  4. Pengaturan plot, penempatan ulang ide secara rapi dan tertata,
  5. Pengecekan fakta,
  6. Pengecekan catatan referensi,
  7. Dll.

Dalam beberapa kasus, terutama dalam skala penerbitan besar, seorang editor bahkan merancang juga konsep, ukuran buku, sudut pandang penulisan, pemilihanfont, rencana cover dan rencana distribusi serta pemasaran. Juga termasuk pembangunan isu serta koordinasi timbal balik antara penulis dan penerbitnya. Pada bagian  inilah, peran penting seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layoutcoverproof, cetak, promosi, dan distribusi.

2. Penyelarasan Aksara/Proof Reading

Penyelaras aksara atau biasa disebut proof reading adalah tahap lanjutan dari editing buku. Ibarat mengecat sebuah motor atau mobil, bagian ini adalah bagian penghalusan, clearing, sehingga hasilnya makin mengilap, tidak ada bagian cat yang tak rata dan sebagainya.

Dalam penyuntingan, proof reading mengoreksi ulang hasil seorang editor. Mengecek kembali ejaan yang masih keliru, penulisan catatan kaki, hypenation atau pemenggalan kalimat, dan beberapa hal yang terlihat sepele lainnya. Posisi ini sangat vital, sebab seorang editor tentu tak luput dari kesalahan lain yang ia kerjakan. Proof reading menekan kemungkinan kesalahan yang tak diharapkan.

Seorang proof reader bahkan kadang membaca secara terbalik kalimat-kalimat dalam sebuah naskah buku agar ia bisa benar-benar konsentrasi memeriksanya kata per kata.

3. Tata Letak/Layout

Tata letak menyangkut bagaimana sebuah buku dirancang isinya, ukuran font, mau rata kiri kanan atau rata kiri saja, format quote, dan lain sebagainya. Dalam proses ini jugalah sebuah tulisan dirancang semenarik mungkin tanpa mengabaikan bagaimana konsep isi. Tata letak juga memasukkan gambar, foto, ilustrasi dan tabel untuk mendukung beberapa fakta sebuah buku. Tugas layouter atau setter adalah menjadikan buku nyaman untuk dilihat dan dibaca.

4. Pembuatan Sampul/Cover

Please Judge a Book with It’s Cover! Buku dengan cover yang asal-asalan adalah buku yang dibuat tidak sepenuh hati dan tidak serius. Sebuah cover harus dirancang sebagus mungkin, proporsi warna yang pas, perwakilan sebuah gagasan besar, juga sebagai ciri khas seorang penulis atau sebuah penerbitan. Cover bisa dibuat manual dengan skets, lukisan atau dengan software grafis seperti corel draw, photoshop atauadobe ilustrator.

5. Cetak

Tahap berikutnya adalah menyetak buku. Tahap ini jangan dianggap sepele. Pada tahap inilah sebuah penerbitan atau seorang publisher buku indie harus bergerilya mencari partner yang pas dan seimbang. Sebuah buku yang disusun dengan bagus kan tidak mungkin bagus jika eksekusi akhirnya tidak maksimal. Pilihan jenis kertas,cover, laminasi dan penjilidan yang rapi akan membuat prestise sebuah buku juga akan naik.

6. Distribusi dan Promosi

Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku, kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi, seperti buku foto ataudiary yang diniatkan untuk kalangan sendiri atau terbatas.

Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proofcover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.

Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita sendiri? Gampang! Teknologi sudah berkembang sangat pesat. Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebookebook akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggaldownload dan baca. Canggih! Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita hanya tinggal telepon dan pesan, maka buku akan segera di tangan.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebooktwitter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu sms atau telepon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca. Simpel sekali!

Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda. Banyak penyedia blog gratis,bloggertumblr dan wordpress adalah yang paling popular. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup mengeluarkan beberapa uang Anda untuk memesan domain website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda sukai, http://www.bukusaya.commisalnya, atau http://www.namasasayasiapa.com. Sangat gampang.

Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti kafe, distro, toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau dalam tenggat waktu tertentu. Tapi jika Anda tak mau repot, Anda juga bisa memajang buku Anda di toko buku langsung. Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN buku saja. Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau menggunakan jasa distributor untuk pemasaran yang lebih jauh dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari harga netto buku, atau 50%-65% untuk memakai jasa distributor.

***

 

Ketika memutuskan self publish, beberapa fase di atas tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus ketimbang penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktik self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja profesional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

 

@IrwanBajang

(Curhat Editor) Menguasai Bahasa Menulis Fiksi

Apa jadinya jika seorang pendekar pedang tak paham karakter pedang yang ia gunakan? Tak paham bagaimana tajam, berat dan ukuran pedangnya? Tidak mengerti bagaimana mengayun, menusuk dan menyabet ke arah musuh?

Belakangan ini saya makin banyak mengedit beberapa novel dan cerpen. Sebagian bagus, sebagian lagi nggak terlalu bagus. Dari kegiatan ini, setidaknya saya bisa menyimpulkan satu hal: Kendala terbesar yang dihadapi penulis adalah rata-rata mereka memiliki penguasaan yang tidak bagus terhadap bahasa. Padahal, bahasa adalah senjata atau perangkat wajib bagi penulis dalam bekerja menghasilkan karyanya.

Masalah ini menjadi akut ketika seorang penulis menulis tanpa banyak membaca. Tanpa membaca, logika bertutur mustahil akan bagus. Keadaan paling kacau adalah ketika penulis tak paham bagaimana meletakkan titik atau koma dalam kutipan dialog tokohnya. Padahal, bagi saya,  ini adalah jurus dasar menulis. Seorang penulis harus paham bagaimana menulis yang baik. Kalau malas belajar EYD, setidaknya belajarlah dari buku yang sudah terbit dan disunting dengan baik. Minimal, bagimana menulis tanda kutip dan titik koma dalam dialog.

Bayangkan, ada penulis yang menulis titik setelah tanda kutip di satu dialog,  dan menulisnya di dalam tanda kutip pada dialog lain. Ah, ini keterlaluan! Tidak konsisten dan seolah meraba-raba bagaimana menulis tanda baca yang benar. Belum lagi penggunaan titik yang kebanyakan, tanda tanya dan tanda seru yang melimpah ruah. Hei, menulis untuk umum itu tidak boleh disamakan dengan menulis diary!

Itu baru kesalahan umum dan terjadi pada tingkat dasar sekali dalam menulis. Belum lagi dengan masalah efektifitas kalimat, pemborosan kata dan logika bercerita. Ayolah, editor itu bukan penyempurna tulisan, tapi teman mengobrol dan kosnsultasi bagi penulis. Penulis harus belajar dan belajar!

Jika membaca, seorang penulis tidak lagi hanya menjadi pembaca pasif seperti orang yang bekerja bukan sebagai penulis. Penulis membaca sambil bekerja, pekerjaannya adalah belajar dan menganalisa bacaannya.
Dalam beberapa situasi, penulis bisa disamakan dengan pendekar. Pendekar yang tak paham dengan pedangnya bisa saja menjadi ancaman bagi orang lain dan dirinya sendiri. Paham senjata, paham perangkat, baru bekerja.
Good Luck! @irwanbajang