Hei Penulis, Akun Twittermu Bukan Nama Penamu!

Twitter-writerPada situasi politik yang mencekam, memakai namamu sendiri untuk mengkritik lalimnya sebuah kekuasaan bukanlah cara yang bijaksana. Tindakan cerobohmu itu adalah jalan bebas hambatan menuju  bunuh diri yang sia-sia. Mata-mata segera melaporkanmu. Pasukan khusus menculikmu. Lalu selesailah. Namamu hanya diingat orang-orang terdekat. Kekasihmu, teman kontrakanmu atau teman berbagi bau napas di pangkal corong megaphone-mu. Dalam tradisi pemberontakan, penyaruan selalu dan sangat penting. Maka dalam tradisi ‘media perlawanan bawah tanah’, nama pena menjadi hukum wajib bagimu. Nasibmu ditentukan oleh kelihaianmu membelah diri.

Di era Suharto, kau mungkin tak banyak tahu, penulis-penulis Indonesia mana saja yang menyembunyikan identitasnya. Maka kepopuleran dan nama yang harum bukan target utama mereka. Karya dibaca, gagasan ditimbang dan diperhatikan adalah tujuan utamanya.

Dalam dunia seni dan sastra atau penulisan kreatif lainnya, mereka bisa menggunakan berbagai nama untuk genre atau gaya menulis yang berbeda. Tiap-tiap karya ditandai dengan nama yang berbeda pula. Saat menulis, mereka seolah memecah diri menjadi beberapa manusia. Diri yang lain menulis puisi, diri yang lain lagi menulis tentang tuhan, filsafat dan agama. Sementara alter ego menulis novel mesum atau bacaan liar berbeda.

Mungkin kau tak tahu siapa Yapi Tambayong, Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel,  nama-nama itu adalah nama samaran, seorang penulis bernama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Seorang penulis lintas genre yang sampai sekarang paling dikenal dengan nama; Remy Silado, bukan nama aslinya. Bukan nama pemberian bapak ibunya. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.