Dari Atas Jembatan Penyeberangan

Dari atas jembatan penyeberangan
Kita melihat wajah kota yang tergesa-gesa.
Orang-orang menyeret kakinya dengan buru-buru
Seolah harimau waktu menguntit dan ingin memangsanya.

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin merapatkan segala yang berjauhan
Menggandeng tanganmu,

lalu bercerita masing-masing, tentang buku-buku yang tak habis kita baca.
Atau tentang orang-orang yang lalu lalang dalam kepala dan hari-hari kita

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin menatap matamu yang dalam
Menyaksikan bagaimana kura-kura waktu berenang pelan
Mencegah senja datang terburu-buru
Menutup hidung dari aroma perpisahan yang makin mengental

“Boleh kugandeng tanganmu,” ucapku lirih menatap matamu.
“Kenapa harus bertanya, gandeng saja!”
Lalu kita terdiam,
Dan sadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

Di simpang antrean panjang itu kita berbalik arah. Aku menyentuh bahumu, lalu dari bahumu mengalir sungai panjang, menghanyutkanku menuju rumah. Jauh di kota yang dihantar kereta senja.

Aku pulang, sembari mengenang ‘berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan’ dan mengingat kita yang beberapa kali duduk berhadapan

sembari menyadari ‘mata kaki kita yang sering beradu pandang’

Selamat jalan. Aku pamit pulang

Jakarta, 24 April 2013

PANTAI PINK: Ceceran Bahan Bangunan Surga di Lombok Selatan

Muara di dekat Pantai Rambang. Di sana kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Obyek wisata paling terkenal di Lombok Timur barangkali adalah Gunung Rinjani, sebab di Sembalun Lawang yang terletak di kabupaten inilah jalan masuk menuju puncak bagi pendaki Rinjani berada. Selain itu, sepanjang jalan menuju Sembalun akan banyak ditemui  plang menuju air terjun, mata air, kolam renang, pemandian dan wisata air lainnya. Sebut saja Otak Kokoq, Lemor, Joben, Pemandian Pesanggrahan sebagai contoh wisata air yang ada di sana. Tapi kali ini, perjalanan saya adalah menyusur pantai sepanjang jalur timur ke selatan Lombok, bukan wisata air tawar, tapi air asin, laut dan pantai.

Kali ini saya sebagai tuan rumah membawa banyak sekali tamu, teman kantor dan teman kampus yang sudah lama sekali merencanakan perjalanan ke Lombok. Tiga orang sudah melanjutkan perjalanan ke Bali, usai mereka berlibur bersama di Gili Trawangan Lombok Barat. Kali ini, bersama lima teman lainnya, saya menyiapkan sepeda motor untuk berangkat. Maklum, jalur yang ditempuh lumayan akan panjang. Tak ada jeep, motor matic dan bebekpun jadi!

Usai sarapan makan tradisional dari pasar dekat terminal Pancor, kami pun melajukan sepeda motor kami. Perjalanan yang sempat terhenti akibat ban bocor sempat mencemaskan. Perjalan akan jauh dan jalan yang dilalui akan lama; berpasir, berdebu dan berbatu. Tapi karena tekad yang sudah membara, kami pasrahkan semuanya pada tukang tambal ban dan bensin eceran yang semoga banyak kami temui di jalan nanti.

Perjalanan dimulai, melalui kota Selong, tembus ke Klayu dan melewati Tanjung, kami melewati Pantai Suryawangi, Pantai Labuhan Haji dan Pantai Rambang. Di Rambang, sebuah kawasan pantai yang sebagiannya dipakai sebagai landasan udara bagi Angkatan Udara, kami sempat singgah. Gersang dan panas memang. Namun pantai yang bersih, tidak begitu bergelombang membuat kami menyempatkan istirahat dan menikmati suasana di sana. Inilah Rambang, sebuah pantai dengan beberapa pohon bakau dan karang-karang di ujungnya. Pasir putih dan hitam agak tercampur. Pohon-pohon meranggas karena panas. Kami minum air dari botol yang kami bawa dan mengambil foto untuk bernarsis ria sejenak. Berfoto di muara yang mirip danau kecil dekat pantai. Setidaknya nanti bisa dipajang di dinding facebook atau sekadar untuk membuat iri teman yang tak ikut perjalanan ke Lombok. Lanjutkan membaca