Dari Atas Jembatan Penyeberangan

Dari atas jembatan penyeberangan
Kita melihat wajah kota yang tergesa-gesa.
Orang-orang menyeret kakinya dengan buru-buru
Seolah harimau waktu menguntit dan ingin memangsanya.

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin merapatkan segala yang berjauhan
Menggandeng tanganmu,

lalu bercerita masing-masing, tentang buku-buku yang tak habis kita baca.
Atau tentang orang-orang yang lalu lalang dalam kepala dan hari-hari kita

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin menatap matamu yang dalam
Menyaksikan bagaimana kura-kura waktu berenang pelan
Mencegah senja datang terburu-buru
Menutup hidung dari aroma perpisahan yang makin mengental

“Boleh kugandeng tanganmu,” ucapku lirih menatap matamu.
“Kenapa harus bertanya, gandeng saja!”
Lalu kita terdiam,
Dan sadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

Di simpang antrean panjang itu kita berbalik arah. Aku menyentuh bahumu, lalu dari bahumu mengalir sungai panjang, menghanyutkanku menuju rumah. Jauh di kota yang dihantar kereta senja.

Aku pulang, sembari mengenang ‘berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan’ dan mengingat kita yang beberapa kali duduk berhadapan

sembari menyadari ‘mata kaki kita yang sering beradu pandang’

Selamat jalan. Aku pamit pulang

Jakarta, 24 April 2013

Kepulangan Kelima: Padamu Hatiku Berpulang

Seorang pembaca Kepulangan Kelima, Iyut SF membuat sebuh puisi untuk mengapresiasi Album Puisi, Ilustrasi dan Musik tersebut. Iyut adalah seorang aktivis buku dan orang yang konsen dalam komunitas perbukuan di Indonesia, dan juga pemerhati marketing komunikasi, khusunya untuk buku. Puisi ini diambil dari blog pribadinya. Selamat menikmati.

——————————–

entah sudah berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan satu sama lain.
kau ingat tidak, kita seringkali duduk berhadapan tanpa memperdulikan mata hati kita yang saling memeluk.
bahkan tak jarang mata kaki kita sering beradu pandang saat mata kepala kita tak kuasa menatap satu sama lain.

tak banyak kata, hanya bunyi cangkir dan ujung cawan yang beradu ketika senja kita habiskan dengan menikmati jingga.

dalam diam terasa banyak makna tersirat,
dalam diam gejolak rasa kita berpeluh yang kemudian bersenyawa menjadi satu.
hati yang kerap berpindah haluan, berpindah rumah. berpindah majikan.

Hati ini kemudian lelah seperti kota ini yang sebegitu tergesanya,
berpacu seakan-akan hendak menyepikan semua hiruk untuk rasa yang mulai bernapas lega.

Hati yang lega meski waktu menghimpit.
Hati yang lega meski kamu kelak menghilang.
Hati yang lega karena padamu, ia berpulang.

——–

PS. Selamat atas terbitnya buku Kak Irwan Bajang yaitu Buku Kepulangan Kelima ini. Sukses yaa………

 

Rahasia di Balik #KepulanganKelima karya @IrwanBajang

Seorang pembaca Kepulangan Kelima dari Aceh Yelsafahziani sepertinya penasaran sekali dengan sampul buku ini. Ia mencoba mengurai apa saja misteri di balik sampul buku. Bagaimana penerawangannya? Berikut ini sebuah catatan saya ambil di blog pribadinya. Selamat menebak-nebak juga! :D

 

kepulangan kelima#KepulanganKelima adalah album puisi, ilustrasi  dan musik karya Irwan Bajang, Penulis sekaligus Direktur Penerbitan buku indie yang baru saja saya kenal pada jejaring sosial. Berawal dari percakapan insomnia melalui BBM bersama bang Esvan, mahasiswa yang merantau ke Magelang. Awalnya ia memperkenalkan saya pada #eminialbum karya Bagustian Iskandar. Setelah merasa puas mendengar suaranya, akhirnya saya memberanikan diri ngubek-ngubek tab following akun twitter @esvanpan dan menemukan akun Bagustian Iskandar.

Setelah beberapa minggu mengikuti akun mas Bagus, yang baru saja saya ketahui sebagai seorang geliryawan di Indie book corner mempromosikan sebuah buku puisi. Setelah beberapa kali melihat photo yang di-twitpict mas bagus, saya merasa tertarik hendak memilikinya. Desain covernya yang berbeda tarlihat menarik dan memikat. Seakan mengedipkan mata kepada saya untuk segera memilikinya.

Pada akhirnya saya berhasil mendapatkan buku puisi ini dalam waktu yang tidak lama, padahal Jogja – Aceh bukan jarak yang dekat. Tetap saya berterima kasih kepada pengirim yang benar-benar mengirim.

– – –

Entahlah, ada perasaan berdesir yang aneh pada ulu hati saat melihat sampul depan buku ini. Seperti ada nyawa yang melekat erat pada permukaannya. Yang saya tahu pada saat itu adalah saya harus segera membaca dan meresapi kepiluan penulisnya.

– – –

Benar saja, sampulnya membuat saya seolah terkena terhipnotis. Beberapa hari ini saya selalu diliputi penasaran, terlebih pada jam yang menunjukkan pukul 10.00. Apa yang terjadi pada pukul 10.00 yang berkaitan dengan buku ini? Pikiran saya saat itu.

Akhirnya setelah beberapa kali bertanya kepada penulisnya langsung, saya mengetahui bahwa lambang yang tertera pada sampul depan, beserta ilustrasi yang ada pada tiap lembar puisi tersebut memiliki hubungan yang erat. “Sebab semua simbol mewakili beberapa rahasia yang ditabur dalam puisi” kata mas Irwan Bajang kepada saya. Rasa penasaran saya memberontak ingin mengetahui apa makna dibalik simbol-simbol yang sengaja ditekankan mas Irwan pada sampul buku puisinya tersebut, sehingga terciptalah tulisan ini.

Saya mencoba membongkar rahasia sampul buku puisi Mas Irwan disini. (Ps. Mas Irwan, ampunkan saya kalau ada kesalahan. Hehe) :

***

Dimulai pada puisi pertama #KepulanganKelima bait pertama;

Melewati depan rumahmu

lampu desa yang remang mengejekku

halimun turun perlahan

menjadi selimut sepi yang menakutkan

membawa lari

rinduku pada perjumpaan

Adalah pada baris; lampu desa yang remang mengejekku ia menyimpan rahasia pertamanya. Tak ada keberanian yang muncul pada saat ia melewati depan rumah perempuan itu, jalanan begitu lengang. Yang setia berdiri hanya lampu desa, lampu yang seolah mengejek kedatangannya namun tak berani bertemu. Saksi bisu yang mengejek.

itulah sebuah arti yang tersembunyi pada gambar bolham lampu yang terdapat pada sampul depan #KepulanganKelima. Sebuah gambar yang melambangkan betapa memalukannya ‘aku’ saat melewati jalan itu namun tak mampu mempertemukan rindu dengan perjumpaan.

Seperti jalan Protokol

Pukul 10 pagi di Kuala Lumpur

Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku

Adalah simbolisasi jam yang menunjuk angka 10.00 pada sampul buku. Lebih besar pada gambar-gambar yang lain.

Namun sepertinya ingatan yang melekat bukan tentang Jalan Protokol Pukul 10 pagi,  justru kepada Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku. Jalan protokol pukul 10 pagi adalah jam-jam sibuk dimana ribuan manusia berlalu lalang seperti lautan yang dimainkan ombak.

adalah perempuan itu, ingar bingar dalam kepala sang Penulis, Otaknya dipenuhi segala ingatan tentang perempuan itu, seperti kilas balik sebuah cerita film. Perempuan itu menggaruk setiap ingatan yang dimilikinya, memaksanya kembali kemasa lalu dan mengingat semua. Kenangan indah, dan kenangan buruk itu.

Sampai pada bait ke 4 #KepulanganKelima, sebuah kenangan pahit tergores dalam bait ini.

Masih ku ingat kiriman surat terakhirmu

“kau selalu boleh berharap, tapi harapan dan kenyataan,

memang sungguh bukan rumus matematika”

Lalu kukirim balasan terakhir untukmu

“tak ada yang bisa mengkhianati kenangan

meski kita telah menyelamatkan perasaan masing-masing”

Adalah surat yang begitu menghancurkan hati siapapun yang menerimanya. Perempuan itu seperti berkata “Lupakan aku dan jangan pernah berharap banyak. Persoalan hidup adalah bukan hal yang pasti. Aku telah memilih hidupku sendiri, sekarang terserah kau. Terpaku pada aku yang tak memilihmu atau melanjutkan hidupmu.”

Saya seperti merasakan sendiri hati penulis yang hancur sebab surat terakhir yang menyayat hati tersebut, pastilah tak akan pernah dilupakan siapa saja yang mendapatkannya. Begitulah kira-kira makna surat dalam amplop yang disematkan pada sampul buku ini, sekedar pengingat luka. Bahwa ia pernah berusaha.

Jikalau diperhatikan lebih teliti, pada puncak jam terdapat seperti cerobong asap yang mengeluarkan asap hitam. Persis seperti cerobong kereta api. Saya pikir cerobong asap itu tidak memiliki arti, hanya perantara untuk meletakkan gambar yang lain.

namun pada puisi Rumah yang terbakar pada bait ketiga, saya menemukan sebaris kalimat yang membuat saya berpikir ulang;

lihatlah

serigala-serigala hutan dan serigala kota segera datang

memangsa kami

kemana lagi kami harus pergi?

kampung kami terbakar

tanah kami ditembok,

mengepullah asap dari cerobong

Adalah suatu ungkapan memilukan tentang Indonesia, Negara berkembang yang meletakkan segala pabrik sesukanya. Mengusir penduduk dari tanah kelahirannya, membuat mereka kehilangan tempat berteduh kemudian meracunnya melalui cerobong-cerobong asap beracun.

Tragis memang, namun itulah kenyataan yang benar-benar nyata yang mampu dideskripsikan oleh penulis.

Tersisa dua gambar, hati bertuliskan angka 02 beserta gambar sebuah obor. Dua gambar itu adalah gambar sulit saya temukan didalam buku. Entah berapa kali saya ulangi membaca keseluruhan buku. Namun tak ada kata tepat yang bisa menerjemahkannya.

Pada akhirnya, penulis -Mas Irwan Bajang- lah yang benar-benar tahu apa makna tersirat dari dua gambar tersebut. Namun dari keseluruhan isi, hanya ada dua nama perempuan yang disebutkan disana. Adalah Aria dan Rinjani: Perawan Bersungai susu, juga Bertelaga Segara. Membuatku berpikir, merekalah lambang hati yang memiliki angka 02 pada sampul buku. Dua orang perempuan yang tak terlupakan, memiliki kenangan masing-masing dalam benak dan hati penulis. Sungguh beruntung para perempuan itu.

Terakhir, gambar obor dengan nyala api merah. Sedikit saya ketahui tentang penulis, sempat menunda penerbitan buku #KepulanganKelima ini disebabkan beliau tengah bosan berpuisi. Entah karna insiden apa buku ini akhirnya bisa diterbitkan, dilambangkan dengan obor menyala. Seperti seorang pejalan ditengah hutan yang gelap gulita akhirnya mendapatkan penerangan dari sebuah obor yang mampu membuatnya tembus melewati hutan. Seperti mas Bajang yang akhirnya mendapatkan kembali ilham untuk melanjutkan produksi buku ini hingga menjadi buku favorit pada rak buku saya.

Terima kasih

 

(Review) Kepulangan Kelima dan Orang-Orang Terpilih

Berikut ini Review Kepulangan Kelima, Album Puisi, Ilustrasi dan Musik karya saya berkolaburasi dengan Octora Guna Nugraha (ilustrasi) dan Ari KPIN (musik). Tulisan ini dibuat oleh Nuran Wibisono, seorang travel writer dan pemerhati musik. Tulisan diambil dari blognya: Foi Fun! Tulisan ini juga menjadi makalah pada launching buku Kepulangan Kelima, bersama 9 buku lainnya dalam acara ultah Apresiasi Sastra 2 Mei 2012 di Jogjakarta. 

kepulangan kelimaSaya selalu percaya, puisi sangat erat kaitannya dengan musik. Seorang guru semasa SD pernah berujar pada saya, “lirik lagu itu puisi yang diberi musik, atau musik yang diberi puisi.” Saya mempercayainya sampai sekarang.

Ketika saya mengenal The Doors, saya semakin yakin kalau lirik musik itu sama saja dengan puisi. Puisi yang diberi musik. Apalagi saat saya terkesima dengan lagu “The End” (dari album The Doors, 1967). Di lagu sepanjang 10 menit lebih itu, Jim Morrison meracau seperti kerasukan arwah-arwah shaman. Di sana ia berkisah tentang bis biru, menaiki ular sepanjang 7 mil menuju danau purba, hingga bagian yang paling menggidikkan: tentang epos Oedipus yang membunuh ayahnya dan bercinta dengan sang ibu. Selain itu ada banyak lagu yang bertaburan metafora, layaknya sebuah puisi pada umumnya. Seperti “Break on Through” yang bercerita tentang kematian, atau “Light My Fire” yang bercerita tentang drugs dan seks secara implisit.

Kalau begitu, apa bedanya musik dengan musikalisasi puisi? Kebetulan saya tidak ahli puisi, apalagi ahli musik. Namun sepengamatan saya, entah ini benar atau tidak, perbedaannya ada pada proses penciptaan.

Kalau musik, kebanyakan liriknya akan dibuat menyesuaikan dengan musik. Kebanyakan musisi menciptakan musik terlebih dulu, lalu baru membuat liriknya. Itu yang terjadi pada, misalnya, Guns N Roses yang membuat lagu “Sweet Child O Mine.” Slash dan Izzy Stradlin membuat dulu musiknya, jam session, lantas Axl datang dan menambahkan lirik yang teramat puitis sekaligus romantis.

Sedang musikalisasi puisi seringkali lebih rumit ketimbang membuat lagu biasa. Hal ini disebabkan oleh musik yang harus “tunduk” pada kalimat. Seringkali juga, musikalisasi puisi muncul dalam wujud seperti ini: puisi lebih dulu ada, musik menyusul. Musik dalam musikalisasi puisi harus bisa menyesuaikan dengan jumlah kata atau bait dalam puisi. Hal ini masih ditambah rumit dengan cara pembacaan. Seringkali dalam musikalisasi puisi, ada keluputan antara ritme musik dengan cara pembacaan ataupun dengan pemenggalan kata dan bait. Teramat susah.

Dalam hemat saya, orang yang bisa melakukan musikalisasi puisi dengan baik adalah orang-orang yang terpilih. Kalau sekedar memainkan musik lalu ada orang yang membaca puisi dengan serampangan, itu hal yang biasa. Yang susah adalah menyatukan dua elemen: puisi dan musik.

The Doors pernah melakukannya dengan baik (dan hei, mereka memang orang-orang terpilih!). Saat Jim Morrison memasuki fase senjakala, ia ingin kembali ke habitatnya sebagai penyair. Maka ia membuat karya terakhirnya sebagai penyair, An American Prayer (direkam tahun 1969 dan 1970). Setelah ia meninggal, para anggota The Doors yang tersisa langsung membuat aransemen lagu berdasar rekaman Jim saat membacakan puisi-puisi An American Prayer. Dan hasilnya adalah sebuah album musikalisasi puisi yang teramat dahsyat. Musik dan puisi berhasil menyatu dengan padu. Selain itu, jika ditilik lebih lanjut, musiknya sendiri dibuat dengan sangat serius. Ibaratnya, tanpa puisinya pun, musik itu bisa berdiri dengan tegak, mandiri, enak didengar dan seringkali menyusupkan aura magis. Lanjutkan membaca

Pak Raden dan Kepulangan Kelima

Pak Raden si Tokoh di Balik Sosok si Unyil yang fenomenal itu. Pada acara pembukaan pameran sketsanya di Jakarta, saya diundang dan berbagi buku dengan beliau. Beliau senang karena di buku puisi ini, selain ada musik ada juga ilustrasi—katanya, Pak Raden senang ada yang menyukai ilustrasi dan mengawinkannya dengan puisi dan musik.

Berikut ini adalah beberapa foto pose Pak Raden dan #KepulanganKelima. Juga ada Bang Oddie Frente, sahabat saya. Seorang penulis yang produktif sekali.

Ada yang sudah berpose tapi belum upload? Saya tunggu ya.

Tak Ada Jalan Menuju Rumah

Kepada Pramoedya Ananta Toer

 

Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh

(Gadis Pantai. hal. 269)

 

Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah
Pulang ke teduh matamu
Berenang di kolam yang kau beri nama rindu

Aku, ingin kembali
Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman
Memetik tomat di belakang rumah nenek.
Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,
Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur
Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi

Aku ingin kembali ke rumah, Ayah
Tapi nasib memanggilku
Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi
Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata

Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya
Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah
Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada

Maka aku menungganginya
Maka aku menungganginya

Menyusuri hutan-hutan jati
Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya
Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa
Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,
Mencipta banjir dari genangan air mata

Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir
Kota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi dan bangun pagi
Hujan ingin bercerai dengan banjir
Tapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

Orang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamu
Berjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya raya
Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia

Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

 

 

Jogjakarta, 6 Februari 2012