Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu
Menyeberangi awan yang serupa kapas
ia pergi meninggalkanmu

Usia menua
Bisa saja ia lupa
Bumi menua
Tuhan tidak selalu
meberikan senyum pada nasibmu

Tiga samudera ia pergi
dan barangkali melupakanmu
Usia menua dan kau tak pernah tahu,
barangkali ia mencoba menghapus bekas pelukanmu
di dadanya

November 2015

Jika suatu saat kau ingin melupakanku

Jika suatu saat kau ingin melupakanku
ingatlah sesuatu yang pernah kuberikan padamu
sesuatu yang tak akan pernah kusebut
bahkan dalam puisiku ini

Jika suatu saat kau ingin melupakanku
maka sesungguhnya kau pun tahu
aku tak akan pernah bisa melakukan yang sama
sebab setiap punggung yang membelakangiku, menjauh dariku
selalu menjadi dirimu
masuk dalam kepalaku

Dan
jika suatu saat kau benar-benar telah melupakanku
akan kubiarkan matamu–mata dalam kepalaku itu
menatapku selalu
menatap mataku yang selalu berair
mengalirkan derita dari ulu hatiku

 

Jogjakarta, Agustus 2014

 

pesawat-pesawat dari kepalamu

pesawat-pesawat dari kepalamupesawat-pesawat beterbangan keluar dari kepalamu
menembus awan-awan
dan membuat menggigil ingatanku akanmu

rambut-rambutku, landasan yang terbakar
ingatan menyala-nyala mencari jalan pergi,
mencari sisa-sisa jejak yang kau tinggalkan

dalam kepala yang panas,
mendung datang dan hujan segera menderas

begitu cepat segalanya berubah, kekasihku
kedatangan dan kepergian yang seolah menjadi biasa bagi hidup kita
kita dihadapkan pada seteru-seteru
yang selalu saja gagal mengurai banyak kisah gelisah

kita ingin tidur lelap bersama
tapi hantu-hantu masalalu sering datang membangunkan tidurmu

lalu di tengah malam yang gerah
bersama segala rasa yang ingin aku berikan
kusiapkan segelas air putih untuk jiwamu yang dahaga

tidurlah kembali kekasihku
mari bermimpi tentang bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamar kita
Jogjakrta, Maret 2013

Tidak Ditemukan Bidang.

Impresi (Sebuah Puisi untuk Ibu)

Duduk di bawah jam dinding yang berdetak
ada suara yang masuk melesat
kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya
Ia kukuh membawaku pada masa silam
Tanpa peringatan,
menerobos dan mengintimidasi
Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu

Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon
merembes lewat kaca jendela
bersama sisa semilir dan dingin angin
Sementara bulan yang merah muda
menyinar ke dalam kamar, membias gerimis
mencipta melakolia yang durhaka

Aku tak bisa menyaksikan apa-apa
setelah luka yang lama
dalam perjalanan rantau yang juga lama
Setelah batu yang beku
tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu

Aku menutup luka yang ngalir
meraba dada yang bata
panas terbakar api berlama-lama

Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak
menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku
Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu
kini mengalir lunglai perlahan
meminggirkan aku, menepikan bisu
suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga
yang belakang aku tahu
: suara ibu dan masa kecilku

Jogjakarta, Juli 2010

*Puisi ini dimuat di Album Puisi, Musik, dan Ilustrasi Kepulangan Kelima. Pernah juga dimuat di Antologi 100 penyair Indonesia “Karena Aku Tak Lahir Dari Batu (Sastrawelang, 2010)

*Pembaca puisi di Soundcloud adalah Halim Bahriz. Diambil dari Kepulangan Kelima hal. 65.

Membaca Heri Latief dari Dua Sisi

cover heri latief_kecilsemakin lama jadi orang asing,

sampai dia lupa pulang.

padahal, dingin makin menggigit tulang

apa yang dicari selama ini?

merantau, untuk melupakan jalan pulang?

—Jalan Pulang

 

ketidakadilan merajalela, bung

yang miskin makin sengsara

yang kaya membeli perkara

tikus rakus komplotan gayus

jual beli bisnis negeri kasus

—Bisnis Kasus

Seperti dua puisi yang ditulis dengan gaya dan nada yang berbeda di atas, membaca tulisan Heri Latief dalam buku ini, saya seolah dihadapkan pada dua sisi yang berbeda dari sang Penulis. Puisi-puisinya—seperti puisi-puisi Heri Latief yang dulu—berbicara dengan cara yang lugas, kadang keras, mengutuk ketidakadilan, korupsi, pelanggaran hak, orang yang dihilangkan penguasa, kemiskinan dan kerakusan negara. Cap gaya menulis semacam ini sudah menjadi ciri Heri Latief sejak awal kemunculan puisinya di dunia internet. Tapi bukan hanya lantang protes, dalam beberapa puisi, salah satunya Jalan Pulang di atas, juga beberapa puisi lain, Heri Latief memunculkan sisi lain dari diri dan puisi-puisinya. Lebih lembut dan kadang sendu. Selain menulis tentang isu-isu sosial di puisinya, Heri Latief menulis juga puisi kerinduan, cinta, pulang, dan tema sejenis yang kebanyakan ia arahkan juga pada kerinduan akan kampung halamannya.

Di bagian kedua, dalam catatan atau eseinya, Heri Latief jauh lebih berbeda lagi. Kalimat-kalimat dan paragraf yang pendek dan lugas terasa jauh lebih lembut lagi ketimbang puisi-puisinya. Selingan humor sesekali membuat geli, membacanya membuat senyum sendiri. Tapi, selain gaya ungkap, sesungguhnya tak ada yang berbeda antara puisi dan esei Heri, ia tetap saja sosok penulis yang murung, khawatir, dan selalu ingin ambil bagian dalam situasi sosial. Kecenderungan menulis seperti itu tak pernah bisa ia  bendung.

Menghadapi tulisan ini, saya dihadapkan pada dua sisi sang Penulis. Membaca puisi (yang ia sebut puisi berlawan), saya jadi membayangkan Heri Latief memegang megaphone di jalanan terik nan panas. Ia berteriak dengan puisi-puisinya yang siap merangsek masuk ke jantung kekuasaan lalim yang ia kritisi dengan keras. Ia memiliki suara lantang, keras, dan memekik ke telinga dengan sajak-sajak potes sosialnya.  Sementara membaca eseinya, saya merasa seperti diundang bertandang ke beranda rumahnya. Di sana Heri menyuguhkan kue dan teh manis, sembari bercerita tentang bagaimana kampung rantau, keindahan, kebersihan, keteraturan dan segala yang ia ingat. Namun dalam cerita manis itu, ia juga menceritakan kisah-kisah ironi. Misalnya, bagaimana Belanda yang maju, bersih dengan sistem politik yang cenderung stabil, juga memiliki permasalahan menumpuk; kekurangan tempat tinggal penduduk, para bajingan pemabuk yang bersembunyi di bawah gereja dan para gerilyawan yang bergentayangan di malam hari menduduki bangunan-bangunan kosong untuk mereka tinggali bersama gerombolan miskin lainnya.

Heri Latief bercerita tentang kanal sungai yang rapi, kereta yang cepat di Belanda, tapi juga kisah manusia yang tak pernah usai memperjuangkan haknya. Di beranda eseinya ini, Heri lebih lembut bercakap-cakap, tidak garang seperti kebanyakan puisinya. Tapi, sekali lagi, ada yang tetap tidak bisa ia sembunyikan, aura protes yang tak bisa ia pendam. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.