Punk Tidak Perlu Dirazia

Razia di Aceh beberapa waktu lalu menuai komentar yang beragam dari banyak kalangan. Bukan hanya dari dalam negeri, komentar juga berdatangan dari komunitas internasional. Beberapa orang mengecam tindakan ini. Bagi mereka razia yang berujung pada penangkapan, Punkers (sebutan bagi penganut Punk) penggundulan paksa dan penceburan ke kolam oleh polisi adalah pelanggaran HAM. Selain itu, mereka yang terjaring razia dikondisikan di sekolah kepolisian dan dididik ala polisi. Sebuah model didikan rehabilitasi instan, jangka pendek yang tak masuk akal. Golongan lainnya beranggapan bahwa sudah sewajarnya anak-anak Punk jalanan di Aceh ditangkap dan diperlakukan demikian. Mereka berbuat anarkis, sering minta uang dan menggangu pemandangan jalanan di kota. Begitu tanggapan mereka.

“Di Aceh tidak boleh ada komunitas anak Punk, apalagi masyarakat kota Banda Aceh berkomitmen menjalankan hukum syariat Islam dalam kehidupannya sehari-hari.” Illiza Sa`aduddin Djamal, Wakil Wali Kota Banda Aceh.

Komentar Illza yang saya kutip ini, menurut saya adalah komentar paling menarik (baca: aneh). Komentar aneh ini juga adalah sekaligus komentar bodoh. Statement semacam ini menunjukkan bahwa tukang omongnya jelaslah sama sekali tak tahu apa-apa tentang Punk. Bukan rahasia lagi. Para pejabat Indonesia memang sering berkomentar seadanya. Komentar bodoh biasanya dilandasi oleh minimnya pengetahuan, sekaligus gaya angkuh dan ingin terlihat cerdas.
* * Lanjutkan membaca

Sastra, Punk dan Media Alternatif

Punk dan Media Alternatif

JIKA kita berbicara tentang media alternatif, maka kita tak bisa lepas dari sejarah dan perkembangan gerakan punk di dunia. Mungkin punk selalu identik atau popular dengan potongan rambut mohawk, pakaian berantakan, musik berisik dan tradisi nyeleneh lainnya. Namun ada tradisi penting lain yang menjadi identitas punk, yakni Zine!

Tradisi Zine Punk, meskipun tidak murni berasal dari kalangan Punker* (sebutan bagi penganut ideologi punk), namun di kalangan punkerlah zine mendapat tempat yang kian luas dan berkembang. Zine dimulai oleh sekelompok anak punk yang memulai menyebarkan gagasan lewat potongan-potongan kertas berisi protes terhadap situasi. Potongan kertas ini kadang dilipat dengan model tertentu. Satu lembar dilipat 8 atau 16 lipatan bolak-balik untuk menghemat ruang kertas. Selain dilipat, zine ini juga ditempel berupa poster, selebaran dan lain sebagainya. Sistem pengerjaan media alternatif ini adalah dengan memakai sistem cut and paste, yakni mengumpulkan bahan dari koran, majalah atau selebaran, kemudian disusun kembali pada selembar kertas kosong, ditempel dengan lem sehingga membentuk sebuah media yang menarik.

Dalam pengerjaan zine tersebut, punker mengusung semangat DIY, Do It Yourself. DIY tidak hanya dipakai dalam hal zine, tetapi juga musik, film, bahkan pakaian. Mereka menyebarkan gagasan dengan kerja-kerja personal atau kerja kelompok kecil dan membaginya ke banyak orang. Dengan zine, sesungguhnya mereka menemukan sebuah cara yang kreatif bukan hanya dalam menyebarkan gagasan, tapi juga menggandeng banyak orang di sekitar mereka untuk bekerjasama. Dengan landasan kerja DIY, yakni Do It Yourself, mereka mencoba melepaskan diri dari banyaknya ketergantungan kerja, juga ketergantungan pada banyak orang. Mereka mandiri dalam melakukan banyak hal dan tidak harus terkekang pada akuran-aturan baku yang dibuat banyak orang. Lanjutkan membaca