Eka Kurniawan: Masalah Burung yang Tak Bisa Berdiri dan Kemesuman Penulis Stensil

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Sampul Buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Eka Kurniawan
Gramedia Pustaka Utama, 3 April 2014
252 halaman

Editor: Mirna Yulistianti

Akhirnya saya rampung membaca novel terbaru Eka Kurniawan. Novel ini saya baca dalam kurun waktu yang jauh lebih cepat, lebih cepat dari Cantik Itu Luka yang tebal, dan lebih cepat pula dari Lelaki Harimau yang lebih tipis tetapi berkalimat panjang dengan narasi yang juga panjang. Dengan demikian, saya berkesimpulan di awal bahwa novel terbaru Eka ini—Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas—adalah novel dengan gaya bahasa paling ringan dan sederhana di antara novel-novel karangan Eka Kurniawan.

Ajo Kawir, tokoh sentral dalam novel ini pertama kali saya kenal dalam sebuah cerpenTaman Patah Hati yang juga ditulis oleh Eka pada tahun 2009. Dalam cerpen sepanjang 1867 kata ini, Ajo Kawir mendapat peran sebagai seorang politisi yang mendapatkan kekasihnya dari ‘orang pintar’ di kaki Gunung Halimun. Ajo Kawir dalam cerpen adalah seorang yang percaya takhayul, mitos-mitos tempat untuk patah hati, sekaligus orang yang kuat mencoba berbagai macam kemungkinan. Dari cerpen inilah saya menduga karakter Ajo Kawir dalam novel dimunculkan penulisnya. Ajo Kawir dalam novel sama teguhnya dengan tokoh Ajo Kawir yang dalam cerpen mati-matian mencari cara untuk menceraikan istrinya, di novel ini nama yang sama juga punya banyak cara aneh untuk mencoba menghidupkan burungnya (penisnya—red.) yang tertidur. Dua-duanya tak pernah putus asa.

Dalam beberapa adegan, Ajo Kawir mencoba menggosok cabai, menyengat dengan tawon, sampai mengancam memenggal si burung dengan senjata tajam. Hasilnya nihil, si burung yang telanjur tidur karena trauma itu tak kunjung bangun.

Sebelumnya, si burung memutuskan tidur panjang lantaran Ajo Kawir ketahuan mengintip peristiwa pemerkosaan Rona Merah—gadis cantik dan gila—oleh dua orang polisi. Ajo Kawir dipaksa memasukkan burungnya pada liang sanggama wanita itu. Sejak itu, si burung memutuskan untuk tidur panjang dan tak ingin bangun lagi. Semua gara-gara Si Tokek, sahabat mesum yang dengan rasa kesetiakawanan tinggi berjanji untuk tidak akan tidur dengan perempuan mana pun sebelum burung Ajo bangun kembali.

Burung yang tak bisa berdiri ini kemudian membawa Ajo bertualang secara fisik dan spiritual: Jatuh cinta dan patah hati, istri yang hamil dari burung orang lain, berkelahi dan membunuh Si Macan musuh Paman Gembul yang melegenda, semua peristiwa itu membuat Ajo menjadi petarung handal. Sebab seperti kalimat pertama dalam novel ini:  “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati.”

Lanjutkan membaca