Kucing Alien

kucing alienBeberapa hari yang lalu, saat pulang ke rumah, kami menemukan rumah dalam keadaan gelap gulita. Kaget juga rasanya. Ternyata listrik rumah kami mati, padahal rumah tetangga lainnya tidak terlihat ada masalah. Saya agak panik, ada yang korslet, pikir saya. Saya segera mencari kunci pintu depan di dalam tas saya.Di depan rumah, seperti biasa sudah berkumpul kucing-kucing. Mereka terbiasa menyambut kami pulang. Tapi ada yang aneh, biasanya mereka segera berlari ke depan pintu, menunggu saya membuka pintu. Atau kalau tidak sabaran, mereka lompat masuk lewat jendela yang sengaja selalu kami buka. Mereka masih berkumpul, ternyata mengerumuni sebuah benda. Saya perhatikan, ternyata ada kucing asing. Wah, ada tamu baru rupanya.

Kucing baru ini saya taksir usianya 3 bulanan, sama dengan 4 anak kucing kecil kami yang sedang mengepungnya itu. Kedatangannya yang entah dari mana, tampaknya tidak begitu menyenangkan bagi para tuan rumah. Dan lampu rumah yang padam semua di rumah kami membuat saya curiga. Kucing apa ini? Apakah ia alien? Apakah tubuhnya mengandung ion-ion aneh, elektromagnetik, gravitasi, pocari swet? Atau, ia jelmaan seorang prajurit yang dikutuk jadi kucing lantaran suka pada istri tuannya? Batin saya bertanya-tanya. Pikiran saya menyusun banyak kecurigaan tanpa saya sadari.

Ketika kami buka pintu, ia membuntuti para kucing sebayanya. Ikut masuk rumah. Si tamu asing ini berlaku layaknya bukan kucing asing. Ia ikut makan, ikut tiduran, ikut minum dengan nyaman dan santai. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan dan geraman empat kucing kecil lainnya. Seolah dia sedang pakai headset sambil mendengar Bob Marley nyanyi Buffalow Soldier. Duh, gayamu, cing!

Kami punya dua kucing besar. Rudi, induk dari semua kucing di rumah, satu lagi Wiwi, jantan usia enam bulan. Tentu saja Wiwi adalah anak Rudi. Anak gelombang ketiga kalau saya tidak salah ingat. Wiwi punya 4 saudara, lahir 2 hari setelah Pemilu. Nama mereka berempat adalah Jo-Ko-Wi dan Prabowo. Wiwi satu-satunya jantan yang kami miliki sampai agak besar. Jojo dan Koko diadopsi seorang temannya teman, dan Prabowo mati disrepet mobil. Wiwilah yang menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaannya pada si tamu asing tak diundang, alien ini. Ia mengaum mengusir, tapi si tamu asing cuek-cuek kucing. Ia malah mengambil alih bantal kecil tempat biasa para kucing berebut tempat tidur. Sebagai jantan paling berwibawa, Wiwi menyiapkan sebuah cara agar ia dihormati, si alien harus hormat padanya, sebagaimana 4 adik kecilnya menghormati Wiwi!

Kucing tamu ini agak unik memang. Warnanya putih polos, tapi dari kepala sampai ujung ekornya ada garis kuning keemasan. Garis lurus, melintang membelah punggungnya. Beberapa hari ini ia seperti pemilik rumah, manja pada kami, menggesek-gesekkan kepalanya di kaki, ikut lari kalau kami pindah tempat duduk. Tentu saja para kucing marah. Semalam, Wiwi menggamparnya, mirip adegan tamparan di sinetron-sinetron. Wiwi mau makan, si kucing alien mendekat dan ingin bergabung, kemarahan Wiwi memuncak. Seperti memberi peringatan, oi jangan sembrono koe! Wiwi menaikkan kaki kiri depannya, menggampar si alien. Alih-alih pergi, si alien cuma duduk memandangi Wiwi. Kalem. Peringatan pertama dari pejantan tuan rumah tak mempan. Tak dihiraukan.

Malam ini Wiwi berkelakuan aneh. Sebagai kucing jantan dewasa satu satunya, ia jarang sekali bermanja ria pada siapapun. Paling mentok hanya main tali dengan adik-adiknya. Maklumlah, ia ingin jadi sosok kepala keluarga, mengingat bapaknya cuma numpang buang berahi, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Rudi menjadi emak single parent yang galak dan perkasa.

Malam ini Wiwi manja sekali, ikut naik ke kamar dan goleran di keset. Saya ke kamar mandi, ia juga ikut. Ia menggosok gosokkan badannya di kaki saya saat saya duduk. Ada apa ini? Apakah dia mau kawin? Saya agak curiga, tapi toh usianya baru saja 6 bulan, masih terlalu belia untuk belajar kawin. Kucing biasa berahi menjelang usia satu tahun.

Tiba tiba terdengar suara lengkingan. Saya lari ke arah suara. Astaga! Si alien sudah terjerembab di bawah karpet. Bulu Wiwi berdiri semua, ia mengaum, matanya nyalang ke arah alien. Tak perlu jadi ahli kucing untuk paham bahwa Wiwi sedang dalam gejolak emosi, naluri berkelahinya keluar dan ia dapat mangsa yang tepat. Saya melerainya, mengusap-usap kepalanya, sambil berbisik, jangan, Wiwi. Kasian, dia cuma anak kecil. Tapi percuma, Wiwi sudah kadung muntab. Si alien dihajar sekali lagi sampai mental ke pintu. Duh kasian, Wiwi saya tarik dan saya berusaha menjauhkan alien darinya. Alien tampak sedih. Nampaknya malam ini ia mulai sadar bahwa ia tidak disukai. Kasian juga, saya belai dia, dia seolah ingin mengadu. Aku salah apa, mas? Kok dia jahat banget. Hikz. Saya jadi haru sendiri. Mungkin alien mau pulang, tapi ia tak tahu ke mana, ia tersesat di rumah ini. Ia terdampar di tengah gerombolan kucing yang tidak menyukai berbagi bersama kucing yang rada sok cool. Duh, dunia hewan memang aneh!

Saya sebenarnya tidak nyaman juga dengan si alien, kelakuannya terlalu manja. Padahal ia bukanlah siapa-siapa di tengah kami. Ia bahkan membuat para kucing ilfeel dan jarang pulang, jarang makan dan tidur di rumah. Si alien seperti pendatang baru yang igin menguasai. Saya kasiahan padanya, tapi saya juga kasihan pada kucing-kucing lain yang tak merasa nyaman dengan kehadirannya.

Tidak mungkin saya membuangnya. Memeliharanya juga jadi simalakama. Ia tak tahu diri, meskipun ia nampak memang lebih pintar dari kucing kami yang lain. Sebagai tamu, ia tahu di mana pasir tempat eek, tapi ia juga sembrono karena dengan tenang melenggang menuju bak air kecil tempat para penghuni rumah minum bersama. Ia melenggang tanpa menghiraukan pandangan sinis dan curiga para penghuni tempat numpangnya.

Saya tidak mungkin membuangnya, kasian, dia hanyalah kucing 3 bulan yang belum paham sopan santun dan tidak punya alamat untuk saya antar pulang. Tapi saya juga punya 6 kucing, agak repot juga kalau nambah satu lagi. Duh, alien.

 

Jogjakarta, Februari 2015

Ode untuk Almarhum Ufo

Pagi ini saya mendapat kabar tentang UFO yang tewas di pos ronda. Sedih sekali rasanya. Tapi toh tak ada yang perlu disedihkan. Ufo memilih pergi sendiri. Sendirian. ~Sebuah Catatan di HP Saat Idul Fitri 2012.

Ufo datang lebih dari setahun yang lalu. Sekitar bulan Maret tahun 2011. Malam dingin di musim hujan. Ia datang tiba-tiba. Sebab kedatangan tiba-tiba itulah saya memberinya nama Ufo. Merujuk pada unidetificated Object. Nama ini mungkin aneh, apalagi untuk seekor kucing kecil nyaris putih polos yang kira-kira berusia tiga bulan waktu itu.

Ufo datang malam itu, masuk lewat pintu depan yang terbuka. Matanya nyalang namun malu menatap mataku. Kami berpandangan agak lama. Sejak itulah saya tahu, ia suka padaku. “Hei, sini…”  Aku memanggilnya. Ia mendekat. Kututup pintu agar ia tak lari. Lalu aku bergegas mencarikannya makanan di dapur. Makanan sembarangan dan seadanya. Ia menolak. Sebuah perkenalan yang tak begitu penting rupanya bagi si kucing ini.

Malam itu Ufo tidur di ruang depan, bersama buku-buku dekat rak besar koleksi bukuku. Aku khawatir ia akan berak atau kencing, sebab tentulah ia tak paham benar denah rumah, ke mana ia harus keluar, di mana pasir untuk pipis dan di mana makanan aku sediakan.

Bangun pagi-pagi, aku menemukan Ufo sudah kencing di dekat buku. Aih, baunya menyengat sekali. Aku tak menyalahkannya, aku pel sampai bersih. Sukurlah buku yang ia pipisi adalah buku-buku baru yang belum dibuka plastiknya. Buku aman dan Ufo belum kena damprat. Lanjutkan membaca