#5BukuDalamHidupku Hari Pertama

Status

Tepat pukul 00.00 tanggal 12 November yang basah ini akan kita mulai #5BukuDalamHidupku: Sebuah Proyek Mudik Bareng ke Blog Sendiri. Sudah banyak yang daftar. Yuk kita sikat rame-rame!

Tidak Ditemukan Bidang.

#5BukuDalamHidupku: Sebuah Proyek Mudik Bareng ke Blog Sendiri

#5BukuDalamHidupku

Menulis di blog atau sering disebut ngeblog/blogging (merujuk pada blogger sebagai penyedia layanan blog yang sempat paling populer)  sudah menjadi bagian dari generasi terkini. Generasi pengguna internet. Penulis profesional, penulis yang baru belajar sampai penulis catatan harian sudah sangat lumrah dengan aktivitas ini. Saya pribadi mengenal blog pertama kali dari layanan jejaring sosial friendster yang sekarang sudah almarhum, lalu ketika badai internet menyerang Indonesia, saya memulai petualangan pindah dari hati ke hati blog lain. Multiplay, Blogspot, WordPress, Tumblr, Plurk, Wix, sudah pernah disinggahi. Facebook kemudian menggerus banyak sekali blogger ke sebuah ruang interaksi serba lengkap dan cepat dengan fasilitas note yang ia sediakan.

Blog sempat berkurang penggunanya, setidaknya saya salah satunya (jangan tanya statistik ya, ya ya…). Namun bagi blogger setia, kehadiran jejaring sosial yang riuh tetap tidak bisa mengalahkan ruang hening blog, blog adalah rumah untuk pulang dan menepi dari riuhnya jejaring sosial. Saya pribadi lebih menikmati proses blogging sebagai proses kembali ke rumah. Mudik. Rumah di mana kita bisa menulis, membiarkannya menjadi arsip pribadi yang tidah perlu di-tag seperti di note facebook atau fasilitas catatan ramai lainnya yang disediakan Kompasiana, Salingsilang, Kemudian.com dan blog 2.0 lainnya.

Ramainya lalu lintas interaksi di jejaring sosial membuat beberapa blogger yang saya kenal, mengaku merasakan hal serupa. Blog adalah rumah pulang. Rumah sepi di mana penulisnya (agak) mengasingkan diri dengan tulisan yang lebih dalam atau lebih santai, lebih ringan dan diskusi yang tidak sederas lini masa twitter atau facebook.

Kali ini saya ingin mengajak sahabat bloger sekalian untuk pulang. Menyiangi rumput di halaman blog yang terbengkalai, menanamnya dengan tulisan-tulisan yang bisa jadi tak berarti sedikit bagi si penulis dan pengunjung blog.

Proyek kali ini adalah proyek menulis bersama. Saya tidak mau membebani diri terlalu berat dengan misalnya membuat proyek 30 hari menulis. Mungkin banyak yang kuat, saya secara pribadi bukan orang yang tekun dan pasti kalah di seperempat awal proyek  yang direncanakan. Kali ini saya ingin mengajak kalian menulis 5 buku saja. 5 buku paling berpengaruh dalam hidup. Saya teringat program Radiobuku yang mengarsipkan banyak sekali penulis dengan wawancara buku pertamaku, berisi 5 buku paling berpengaruh, atau istilah lebih WOWnya, 5 buku yang mengubah hidup Anda!

Nah, tak usah banyakan pengantar, saya jabarkan langsung teknisnya: Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Dari Atas Jembatan Penyeberangan

Dari atas jembatan penyeberangan
Kita melihat wajah kota yang tergesa-gesa.
Orang-orang menyeret kakinya dengan buru-buru
Seolah harimau waktu menguntit dan ingin memangsanya.

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin merapatkan segala yang berjauhan
Menggandeng tanganmu,

lalu bercerita masing-masing, tentang buku-buku yang tak habis kita baca.
Atau tentang orang-orang yang lalu lalang dalam kepala dan hari-hari kita

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin menatap matamu yang dalam
Menyaksikan bagaimana kura-kura waktu berenang pelan
Mencegah senja datang terburu-buru
Menutup hidung dari aroma perpisahan yang makin mengental

“Boleh kugandeng tanganmu,” ucapku lirih menatap matamu.
“Kenapa harus bertanya, gandeng saja!”
Lalu kita terdiam,
Dan sadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

Di simpang antrean panjang itu kita berbalik arah. Aku menyentuh bahumu, lalu dari bahumu mengalir sungai panjang, menghanyutkanku menuju rumah. Jauh di kota yang dihantar kereta senja.

Aku pulang, sembari mengenang ‘berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan’ dan mengingat kita yang beberapa kali duduk berhadapan

sembari menyadari ‘mata kaki kita yang sering beradu pandang’

Selamat jalan. Aku pamit pulang

Jakarta, 24 April 2013

Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu (Unduh Gratis)

white_hors_by_kruffka

 

Love of my life, you’ve hurt me / You’ve broken my heart and now you leave me / Love of my life, can’t you see? *

Tidakkah kau lihat. Bagaimana luka ini kau hadirkan sebab sebuah kepergian? Kau menyuruhku pulang. Tapi telah kau siapkan bagiku sebuah cara yang sakit untuk sebuah kematian.

Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku selalu membayangkan menunggang kuda. Melintasi jalan-jalan berumput kering, belok kiri di sebuah jalan penuh semak. Turun naik pada bukit-bukit berbatu. Lalu di bukit ketujuh, aku akan melihat rumahmu di bukit seberang. Di sanalah aku akan datang. Di sana kau tinggal dengan anjing kecilmu. Kau hidup di sana, bersama sebuah sumur di belakang rumah yang setia, sebuah pancuran, dan sebuah kolam berisi anak-anak ikan emas yang manis.

Aku membayangkan diriku si penunggang kuda dari desa yang jauh. Hanya berbekal keinginan dan kerinduan, aku mendatangimu.

Lalu aku membayangkan kau keluar. Menatapku dari balik jendelamu. Kau mengganti pakaian, mengenakan pakaian terbaikmu. Mengikat rambut, lalu menutupnya dengan selendang tenun warisan ibumu. Kau berias sebisa kau mampu. Sebentar lagi kudaku akan tiba. Dan demi mendengar derap kudaku datang dari kejauhan, kau akan keluar. Menyiapkan pelukan terhangat untukku. Lanjutkan membaca