Laporan Hari Kedua dan Pembukaan Hari Ketiga #5BukuDalamHidupku

Status

Hari kedua sudah rampung, mari memasuki hari berikutnya.

Hari kedua ini menjadi hari yang lumayan melelahkan bagi saya. Tautan buku di hari kedua untuk program mudik bareng #5BukuDalamHidupku bermunculan di detik pertama setelah pukul 00.00. Luar biasa sekali semangat para blogger ini. Lalu tautan itu bagai hujan sepanjang hari, tak hentinya berduyun-duyun, menderas di lini kala twitter saya dan di dinding facebook, juga bunyi tang ting tang ting notifikasi di surel dan dashboar tumblr juga kompasiana. Ragam buku makin banyak, pagi hari diserang Dragonball, Conan, Doraemon, sebelumnya dini hari diserang naskah teater. Siang hari makin beragam, buku how to, buku agama, fiksi remaja semakin berhamburan tak terbendung. Sore hingga jelang usai hari, buku Goenawan Mohamad, John Steinbeck, Andrea Hirata, Seno Gumira dan kawanan fiksi lain, Djenar, Ayu Utami juga makin banyak dipilih.

Buku agama tulisan Yusuf Mansyur bahkan nongol di detik-detik awal hari kedua tadi. Penutupan ini banyak diisi buku-buku yang tidak saya kenal juga buku-buku yang sekilas saja saya tahu, ada Lupus, Raditya Dhika dan beberapa buku komedi juga masuk. Oh ya, buku pelajaran seperti kamus, RPUL, kamus kanji dan sebagainya juga sangat banyak. Termasuk juga buku berbahasa asing dan catatan perjalanan. Mengagetkannya lagi, BUKU NIKAH juga sudah mulai muncul. Hahaha.

Seperti hari pertama, ratusan tautan dan posting tentang buku sudah menyerang kotak-kotak komunikasi saya. Juga ada beberapa orang yang kecewa karena baru tahu infoproyek ini tadi. Bagaimanapun itu, hari ketiga tentu akan menjadi makin sulit bagi para blogger, mereka akan memilih lagi buku ketiga yang mereka tuliskan. Besok akan tersisa dua buku saja, buku yang tentu akan dipilih dengan sangat hati-hati, sebab dua hari ke depan, terutama hari terakhir adalah hari di mana posting harus dikunci dengan sempurna.

Saya sudah mengantuk, saya sudah membuat databased hari 1 dan hari 2. Mari kita mulai hari ketiga ini dengan harapan tetap sehat dan tetap ikut melaju ke terminal hari keempat dan menuju lokasi pulang dengan gembira. Eh, saya salah, sudah banyak yang memulai hari ketiganya sejak tadi. Laporan aja kalah, semangat betul! Hahaha

Beberapa orang gagal melanjutkan, jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan juga gagal karena gangguan teknis seperti internet mati, kuota habis, terjebak dimacet. Saya sebenarnya ingin berbaik hati, memberi toleransi dan mengajak tetap berjalan setelah kendala teknis itu selesai, tapi saya takut kawan-kawan lain, penumpanng lain. Hmmmm, bagaimanapun, saya salut sama kalian.

Mari persiapkan lebih matang, jangan posting di ujung-ujung waktu, kalau mati listrik? Kalau komputer kalian mati? Kalau kuota internet kalian habis? Kalau kalian tiba-tiba harus kencan atau menikah? Hayo…. hehe. Manfaatkan waktumu, anak muda. Mari kita songsong hari ketiga #5BukuDalamHidupku. Tepuk tangan buat kalian semua.

Salam, Irwan Bajang.

 

Tidak Ditemukan Bidang.

#5BukuDalamHidupku: Panglima Pembangkang dan Anak Kecil yang Membenci Pelajaran Sekolah

kapitan patimura

Gantung si  pembangkang itu alun-alun kota! Biarkan mayatnya menjadi debu. Ini pelajaran bagi masyarakat, siapa yang membangkang akan bernasib sama!

Menulis tokoh satu ini akan panjang bagi saya. Satu tokoh yang sudah saya kenal sejak sekolah dasar. Namanya asing, gelarnya asing, dan saya yang memang kerap tidak paham arah mata angin akan susah mendeteksi di mana tanah kelahirannya. Seram, di mana pulau Seram kelahiran tokoh ini? Guru Geografi juga mungkin tidak tahu, tapi mereka suka pura-pura tahu dan membohongi muridnya.

Sejak SD saya mengaguminya. Dan beruntunglah saya menjadi anak pemalas. Saya menunda-nunda mendaftar masuk sekolah menengah pertama sampai hari terakhir. Jumlah NEM yang lumayan tak mungkin akan membuat saya ditolak masuk SMP itu. Saya mendaftar di hari terakhir. Karena terlambat, saya terdampar di kelas sisa-sisa. Empat ruangan kelas satu sudah penuh, saya ditampung di pojok sekolahan dekat ruang paling seram; ruang Bimbingan Konseling. Ruang BK adalah ruangan neraka, di sana terarsip nama-nama tukang bolos, nama anak-anak bermasalah, nama anak-anak yang tidak akan naik kelas. Ketika kamu dipanggil ke ruangan itu, teman-teman sekelas akan mengejek dan menakutimu. Pernah teman saya ketahuan merokok, ketahuan pacar-pacaran terus, mereka dipanggil untuk menulis nama di Buku Hitam Bimbingan Konseling. Beruntung kelas saya bukan di neraka itu, saya di ruangan sebelahnya, ruangan sisa yang dibelah dua, sebagian jadi kelas, sisanya untuk menumpuk buku: Ruang Perpustakaan SMP 1 Sukamulia.

Bagi anak labil usia 11-12 tahun, berada di ruangan sempit itu adalah kesialan. Saya sial. Kami harus menunggu meja kursi yang baru dibelikan sekolah untuk menempati kelas ini. Saya sempat menyesal terlambat mendaftar.  Tapi enam tahun nanti, saya tahu, hari itu adalah hari yang mengubah seluruh pandangan saya akan sikap hidup. Sikap menghadapi masalah dan mempertahankan hak.

***

Kelas membosankan adalah kelas matematika, IPA dan semua yang berbau hitung-hitungan. Hitungan persentase laba rugi masih bisa saya hitung, tapi kalau diminta menghitung a dikurangi b sama dengan berapa, x bagi z sama dengan berapa, saya selalu memaki dalam hati: kenapa kalian nggak pakai angka aja biar jelas!  Harusnya siswa goblok hitungan seperti saya ini bahagia di pelajaran lain, mengarang misalnya, geografi atau sejarah, atau setidaknya PPKn yang hanya tinggal ngoceh lalu dapat nilai bagus. Matematika membunuhku hingga tamat SMA dengan sin cos tan dan aljabarnya yang sampai sekarang tidak pernah saya mengerti. PPKn membuat saya gila dan tidak bisa berpendapat selain sesuai Pancasila, hukum ditegakkan dan kembalilah ke UUD 45 dan GBHN.  Geografi yang harusnya berisi jalan-jalan asyik keliling dunia imajiner jadi pusat sumber stress karena saya harus menghapal jumlah provinsi, ibukota dan hal absurd lain yang harus dihapalkan. “Jumlah penduduk Indonesia pada sensus penduduk 1995 adalah___________ jiwa. Maaf Bu, saya nggak ikut saat sensus berlangsung!

Pelajaran sejarah membuat saya merasa sekolah menjadi tempat tersial di muka bumi karena saya harus menghapal tanggal, tahun dan nama tokoh! Saya membenci semua pelajaran di bangku SMP itu. Saya ingin segera kuliah, lari dari matematika, melepas seragam, tidak mencukur rambut dan melupakan tanggal-tanggal ulang tahun pahlawan-pahlawan yang bukan kerabat saya. Saya ingin segera kuliah, bisa bangun siang dan masuk kapan saja. Di tengah kebosanan itu saya mulai menghabiskan buku di kelas, kelas yang ditaruh begitu saja di ruangan perpustakaan. Tentu saya tidak akan meminjam resmi di petugas. Lha, buat apa? Kan bisa saya bawa pulang dan saya kembalikan sendiri kalau saya rampung. Lanjutkan membaca

#5BukuDalamHidupku | Sang Penyair: Cinta Monyet Saya dan Cita-Cita Kepenyairan

Sang Penyair Sampul Buku Sang Penyair
Mustafa Lutfi al Manfaluthi
Fiksi
Navila
2012
Paperback
315

81336Apa lagi dibicarakan anak berusia 16 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah, rencana bolos, PR yang menjemukan, Pak Guru yang genit, Bu Guru Tua yang judes dan seorang gebetan yang berencana dipacari? Bisa jadi, les, ekskul, buku paket yang mahal juga bagian dari perbincangan, tapi cinta, kerap kali menjadi bahan dominan dalam obrolan rahasia di kalangan terbatas. Obrolan curhat. Saya pernah SMA, dan saya pernah berada di pusaran arus ragam perbincangan remaja itu. Saya laki-laki, di usia 16 tahun itu saya pernah jatuh cinta dan patah hati.

Seorang guru kelas empat SD pernah memuji karangan bebas saya tentang air dan manfaatnya. Saya menulis karangan pendek itu dengan cepat dan mencomot banyak sekali lirik lagu balada yang sering diputar ayah saya di rumah. Comot sana-sini itu berhasil membuat saya dipuji guru dan mendapat nilai yang bagus di pelajaran bahasa Indonesia. “tulisanmu kayak anak SMA, kelak kamu bisa jadi sastrawan,” ucap guru saya. Pak Kamarudin namanya. Anak SD kelas empat yang belum tumbuh jakunnya itu tersanjung, diam-diam dalam hati ia bercita-cita jadi sastrawan, sebuah cita-cita super absurd bagi seorang anak SD yang kelak ketika berusia dua puluhan tahun sadar betul, bahwa jalan menjadi sastrawan di Indonesia tak sama mulusnya dengan menjadi pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil. Sayalah bocah kecil itu. Bocah yang bahkan belum tahu bagaimana melipat dengan benar celana dalam saya.

***

Ketika guru bahasa memaksa kami yang kelas dua SMA membaca sebuah karya sastra lalu menceritakannya di depan kelas, entah kenapa saya mengambil buku ini di perpustakaan. Tangan dan mata saya memilih sebuah buku yang bisa jadi, dan benar-benar bisa mengubah banyak hal dalam diri saya. ­­Sebuah buku yang kelak akan sangat mempengaruhi hidup, karier, cita-cita, cinta dan menjadi sesuatu yang membuat saya bisa menjaga jarak dengan diri saya. Buku itu berjudul Sang Penyair, sebuah buku prancis yang disadur ke dalam bahasa arab oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, penulis Mesir spesialis penguras air mata. Lanjutkan membaca

#5BukuDalamHidupku: Sebuah Proyek Mudik Bareng ke Blog Sendiri

#5BukuDalamHidupku

Menulis di blog atau sering disebut ngeblog/blogging (merujuk pada blogger sebagai penyedia layanan blog yang sempat paling populer)  sudah menjadi bagian dari generasi terkini. Generasi pengguna internet. Penulis profesional, penulis yang baru belajar sampai penulis catatan harian sudah sangat lumrah dengan aktivitas ini. Saya pribadi mengenal blog pertama kali dari layanan jejaring sosial friendster yang sekarang sudah almarhum, lalu ketika badai internet menyerang Indonesia, saya memulai petualangan pindah dari hati ke hati blog lain. Multiplay, Blogspot, WordPress, Tumblr, Plurk, Wix, sudah pernah disinggahi. Facebook kemudian menggerus banyak sekali blogger ke sebuah ruang interaksi serba lengkap dan cepat dengan fasilitas note yang ia sediakan.

Blog sempat berkurang penggunanya, setidaknya saya salah satunya (jangan tanya statistik ya, ya ya…). Namun bagi blogger setia, kehadiran jejaring sosial yang riuh tetap tidak bisa mengalahkan ruang hening blog, blog adalah rumah untuk pulang dan menepi dari riuhnya jejaring sosial. Saya pribadi lebih menikmati proses blogging sebagai proses kembali ke rumah. Mudik. Rumah di mana kita bisa menulis, membiarkannya menjadi arsip pribadi yang tidah perlu di-tag seperti di note facebook atau fasilitas catatan ramai lainnya yang disediakan Kompasiana, Salingsilang, Kemudian.com dan blog 2.0 lainnya.

Ramainya lalu lintas interaksi di jejaring sosial membuat beberapa blogger yang saya kenal, mengaku merasakan hal serupa. Blog adalah rumah pulang. Rumah sepi di mana penulisnya (agak) mengasingkan diri dengan tulisan yang lebih dalam atau lebih santai, lebih ringan dan diskusi yang tidak sederas lini masa twitter atau facebook.

Kali ini saya ingin mengajak sahabat bloger sekalian untuk pulang. Menyiangi rumput di halaman blog yang terbengkalai, menanamnya dengan tulisan-tulisan yang bisa jadi tak berarti sedikit bagi si penulis dan pengunjung blog.

Proyek kali ini adalah proyek menulis bersama. Saya tidak mau membebani diri terlalu berat dengan misalnya membuat proyek 30 hari menulis. Mungkin banyak yang kuat, saya secara pribadi bukan orang yang tekun dan pasti kalah di seperempat awal proyek  yang direncanakan. Kali ini saya ingin mengajak kalian menulis 5 buku saja. 5 buku paling berpengaruh dalam hidup. Saya teringat program Radiobuku yang mengarsipkan banyak sekali penulis dengan wawancara buku pertamaku, berisi 5 buku paling berpengaruh, atau istilah lebih WOWnya, 5 buku yang mengubah hidup Anda!

Nah, tak usah banyakan pengantar, saya jabarkan langsung teknisnya: Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.