#5BukuDalamHidupku: Panglima Pembangkang dan Anak Kecil yang Membenci Pelajaran Sekolah

kapitan patimura

Gantung si  pembangkang itu alun-alun kota! Biarkan mayatnya menjadi debu. Ini pelajaran bagi masyarakat, siapa yang membangkang akan bernasib sama!

Menulis tokoh satu ini akan panjang bagi saya. Satu tokoh yang sudah saya kenal sejak sekolah dasar. Namanya asing, gelarnya asing, dan saya yang memang kerap tidak paham arah mata angin akan susah mendeteksi di mana tanah kelahirannya. Seram, di mana pulau Seram kelahiran tokoh ini? Guru Geografi juga mungkin tidak tahu, tapi mereka suka pura-pura tahu dan membohongi muridnya.

Sejak SD saya mengaguminya. Dan beruntunglah saya menjadi anak pemalas. Saya menunda-nunda mendaftar masuk sekolah menengah pertama sampai hari terakhir. Jumlah NEM yang lumayan tak mungkin akan membuat saya ditolak masuk SMP itu. Saya mendaftar di hari terakhir. Karena terlambat, saya terdampar di kelas sisa-sisa. Empat ruangan kelas satu sudah penuh, saya ditampung di pojok sekolahan dekat ruang paling seram; ruang Bimbingan Konseling. Ruang BK adalah ruangan neraka, di sana terarsip nama-nama tukang bolos, nama anak-anak bermasalah, nama anak-anak yang tidak akan naik kelas. Ketika kamu dipanggil ke ruangan itu, teman-teman sekelas akan mengejek dan menakutimu. Pernah teman saya ketahuan merokok, ketahuan pacar-pacaran terus, mereka dipanggil untuk menulis nama di Buku Hitam Bimbingan Konseling. Beruntung kelas saya bukan di neraka itu, saya di ruangan sebelahnya, ruangan sisa yang dibelah dua, sebagian jadi kelas, sisanya untuk menumpuk buku: Ruang Perpustakaan SMP 1 Sukamulia.

Bagi anak labil usia 11-12 tahun, berada di ruangan sempit itu adalah kesialan. Saya sial. Kami harus menunggu meja kursi yang baru dibelikan sekolah untuk menempati kelas ini. Saya sempat menyesal terlambat mendaftar.  Tapi enam tahun nanti, saya tahu, hari itu adalah hari yang mengubah seluruh pandangan saya akan sikap hidup. Sikap menghadapi masalah dan mempertahankan hak.

***

Kelas membosankan adalah kelas matematika, IPA dan semua yang berbau hitung-hitungan. Hitungan persentase laba rugi masih bisa saya hitung, tapi kalau diminta menghitung a dikurangi b sama dengan berapa, x bagi z sama dengan berapa, saya selalu memaki dalam hati: kenapa kalian nggak pakai angka aja biar jelas!  Harusnya siswa goblok hitungan seperti saya ini bahagia di pelajaran lain, mengarang misalnya, geografi atau sejarah, atau setidaknya PPKn yang hanya tinggal ngoceh lalu dapat nilai bagus. Matematika membunuhku hingga tamat SMA dengan sin cos tan dan aljabarnya yang sampai sekarang tidak pernah saya mengerti. PPKn membuat saya gila dan tidak bisa berpendapat selain sesuai Pancasila, hukum ditegakkan dan kembalilah ke UUD 45 dan GBHN.  Geografi yang harusnya berisi jalan-jalan asyik keliling dunia imajiner jadi pusat sumber stress karena saya harus menghapal jumlah provinsi, ibukota dan hal absurd lain yang harus dihapalkan. “Jumlah penduduk Indonesia pada sensus penduduk 1995 adalah___________ jiwa. Maaf Bu, saya nggak ikut saat sensus berlangsung!

Pelajaran sejarah membuat saya merasa sekolah menjadi tempat tersial di muka bumi karena saya harus menghapal tanggal, tahun dan nama tokoh! Saya membenci semua pelajaran di bangku SMP itu. Saya ingin segera kuliah, lari dari matematika, melepas seragam, tidak mencukur rambut dan melupakan tanggal-tanggal ulang tahun pahlawan-pahlawan yang bukan kerabat saya. Saya ingin segera kuliah, bisa bangun siang dan masuk kapan saja. Di tengah kebosanan itu saya mulai menghabiskan buku di kelas, kelas yang ditaruh begitu saja di ruangan perpustakaan. Tentu saya tidak akan meminjam resmi di petugas. Lha, buat apa? Kan bisa saya bawa pulang dan saya kembalikan sendiri kalau saya rampung. Lanjutkan membaca