#5BukuDalamHidupku: Sebuah Cerpen yang Meledak dan Tokoh-Tokoh yang Tak Ingin Dikendalikan Penulisnya

sepotong_senja_untuk_pacarku

Bisakah kamu membayangkan ada tokoh yang kamu tulis, lalu tokoh itu hidup dan tidak bisa lagi kamu kendalikan? Lalu bagaimana kalau tokoh itu menghantui dan ingin membunuhmu? Ia tidak terima dengan takdirnya yang kamu permainkan.

Seorang remaja kelas dua SMA sedang kehabisan uang di jeda istirahat sekolahnya. Harusnya ia ke kantin, makan dan bercanda bersama temannya. Motor tua yang ia sayangi macet dan telah menguras uang sakunya ketika berangkat sekolah. Hari itu bisa saja ia nebeng makan pada teman yang lain, tapi tak enak rasanya menggangu. Ia tahu, uang jajan anak SMA paling-paling hanya cukup untuk makan mie rebus dan teh botol. Sisanya buat beli bensin satu liter.

Ia terdampar lagi di perpustakaan. Ia ikut lomba menulis cerpen yang entah diadakan oleh siapa sebulan sebelumnya. Guru bahasa meminta cerpennya untuk dikirim. Sudah sebulan, harusnya ia dapat kabar kemenangan seperti yang ia yakini. Tapi kabar itu sepertinya menjadi kabar yang hanya layak diimpikan. Sejuta tahun menunggu, kabar itu tak akan pernah datang. Cerpen dan tokoh-tokoh itu sudah hilang entah ke mana. Ia juga telah menghancurkan dunia yang ia bangun itu. Membunuh semua tokoh dan melupakannya.

Siang itu ia mencari sejenis buku yang ia harapkan,  Panduan Menulis Cerpen, sukur-sukur kalau ada Bagaimana Mahir Sehari Menulis Cerpen, atau Kiat Jitu Menang Lomba Menulis. Tapi apa lacur, perpustakaan SMA-nya bukan toko buku mewah di jantung ibukota, hanya ada buku pelajaran, beberapa ensiklopedia dan buku-buku sastra buluk yang terbit bahkan jauh sebelum ia lahir. Nama-nama yang itu-itu saja; Hamka, Navis, Tardji, Taufiq, Chairil Anwar dan teman-teman sepermainan mereka. Terkutuklah ia di perpustakaan itu, hasrat yang berlebihan tidak diizinkan tumbuh dari ruang perpustakaan yang jauh dari pulau Jawa. Ia hanya mendapatkan buku seadanya, buku-buku yang tertulis di pelajaran bahasa. Apa boleh buat, buku-buku itulah yang harus disikatnya.

Ia punya cita-cita. Ia ingin menulis cerpen atau novel, lalu menjadi penulis kaya yang terkenal. Kamu berlebihan, Anak Muda! Sana mandi dulu yang lama biar bangun!

Maka dapatlah ia sebuah buku panduan menulis cerpen, entah siapa pengarangnya. Ketika mengenang peristiwa itu, ia sudah berusia separuh abad, sudah satu dekade dari mimpi aneh memenangkan lomba menulis cerpen. Lanjutkan membaca

#5BukuDalamHidupku: Panglima Pembangkang dan Anak Kecil yang Membenci Pelajaran Sekolah

kapitan patimura

Gantung si  pembangkang itu alun-alun kota! Biarkan mayatnya menjadi debu. Ini pelajaran bagi masyarakat, siapa yang membangkang akan bernasib sama!

Menulis tokoh satu ini akan panjang bagi saya. Satu tokoh yang sudah saya kenal sejak sekolah dasar. Namanya asing, gelarnya asing, dan saya yang memang kerap tidak paham arah mata angin akan susah mendeteksi di mana tanah kelahirannya. Seram, di mana pulau Seram kelahiran tokoh ini? Guru Geografi juga mungkin tidak tahu, tapi mereka suka pura-pura tahu dan membohongi muridnya.

Sejak SD saya mengaguminya. Dan beruntunglah saya menjadi anak pemalas. Saya menunda-nunda mendaftar masuk sekolah menengah pertama sampai hari terakhir. Jumlah NEM yang lumayan tak mungkin akan membuat saya ditolak masuk SMP itu. Saya mendaftar di hari terakhir. Karena terlambat, saya terdampar di kelas sisa-sisa. Empat ruangan kelas satu sudah penuh, saya ditampung di pojok sekolahan dekat ruang paling seram; ruang Bimbingan Konseling. Ruang BK adalah ruangan neraka, di sana terarsip nama-nama tukang bolos, nama anak-anak bermasalah, nama anak-anak yang tidak akan naik kelas. Ketika kamu dipanggil ke ruangan itu, teman-teman sekelas akan mengejek dan menakutimu. Pernah teman saya ketahuan merokok, ketahuan pacar-pacaran terus, mereka dipanggil untuk menulis nama di Buku Hitam Bimbingan Konseling. Beruntung kelas saya bukan di neraka itu, saya di ruangan sebelahnya, ruangan sisa yang dibelah dua, sebagian jadi kelas, sisanya untuk menumpuk buku: Ruang Perpustakaan SMP 1 Sukamulia.

Bagi anak labil usia 11-12 tahun, berada di ruangan sempit itu adalah kesialan. Saya sial. Kami harus menunggu meja kursi yang baru dibelikan sekolah untuk menempati kelas ini. Saya sempat menyesal terlambat mendaftar.  Tapi enam tahun nanti, saya tahu, hari itu adalah hari yang mengubah seluruh pandangan saya akan sikap hidup. Sikap menghadapi masalah dan mempertahankan hak.

***

Kelas membosankan adalah kelas matematika, IPA dan semua yang berbau hitung-hitungan. Hitungan persentase laba rugi masih bisa saya hitung, tapi kalau diminta menghitung a dikurangi b sama dengan berapa, x bagi z sama dengan berapa, saya selalu memaki dalam hati: kenapa kalian nggak pakai angka aja biar jelas!  Harusnya siswa goblok hitungan seperti saya ini bahagia di pelajaran lain, mengarang misalnya, geografi atau sejarah, atau setidaknya PPKn yang hanya tinggal ngoceh lalu dapat nilai bagus. Matematika membunuhku hingga tamat SMA dengan sin cos tan dan aljabarnya yang sampai sekarang tidak pernah saya mengerti. PPKn membuat saya gila dan tidak bisa berpendapat selain sesuai Pancasila, hukum ditegakkan dan kembalilah ke UUD 45 dan GBHN.  Geografi yang harusnya berisi jalan-jalan asyik keliling dunia imajiner jadi pusat sumber stress karena saya harus menghapal jumlah provinsi, ibukota dan hal absurd lain yang harus dihapalkan. “Jumlah penduduk Indonesia pada sensus penduduk 1995 adalah___________ jiwa. Maaf Bu, saya nggak ikut saat sensus berlangsung!

Pelajaran sejarah membuat saya merasa sekolah menjadi tempat tersial di muka bumi karena saya harus menghapal tanggal, tahun dan nama tokoh! Saya membenci semua pelajaran di bangku SMP itu. Saya ingin segera kuliah, lari dari matematika, melepas seragam, tidak mencukur rambut dan melupakan tanggal-tanggal ulang tahun pahlawan-pahlawan yang bukan kerabat saya. Saya ingin segera kuliah, bisa bangun siang dan masuk kapan saja. Di tengah kebosanan itu saya mulai menghabiskan buku di kelas, kelas yang ditaruh begitu saja di ruangan perpustakaan. Tentu saya tidak akan meminjam resmi di petugas. Lha, buat apa? Kan bisa saya bawa pulang dan saya kembalikan sendiri kalau saya rampung. Lanjutkan membaca

#5BukuDalamHidupku | Sang Penyair: Cinta Monyet Saya dan Cita-Cita Kepenyairan

Sang Penyair Sampul Buku Sang Penyair
Mustafa Lutfi al Manfaluthi
Fiksi
Navila
2012
Paperback
315

81336Apa lagi dibicarakan anak berusia 16 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah, rencana bolos, PR yang menjemukan, Pak Guru yang genit, Bu Guru Tua yang judes dan seorang gebetan yang berencana dipacari? Bisa jadi, les, ekskul, buku paket yang mahal juga bagian dari perbincangan, tapi cinta, kerap kali menjadi bahan dominan dalam obrolan rahasia di kalangan terbatas. Obrolan curhat. Saya pernah SMA, dan saya pernah berada di pusaran arus ragam perbincangan remaja itu. Saya laki-laki, di usia 16 tahun itu saya pernah jatuh cinta dan patah hati.

Seorang guru kelas empat SD pernah memuji karangan bebas saya tentang air dan manfaatnya. Saya menulis karangan pendek itu dengan cepat dan mencomot banyak sekali lirik lagu balada yang sering diputar ayah saya di rumah. Comot sana-sini itu berhasil membuat saya dipuji guru dan mendapat nilai yang bagus di pelajaran bahasa Indonesia. “tulisanmu kayak anak SMA, kelak kamu bisa jadi sastrawan,” ucap guru saya. Pak Kamarudin namanya. Anak SD kelas empat yang belum tumbuh jakunnya itu tersanjung, diam-diam dalam hati ia bercita-cita jadi sastrawan, sebuah cita-cita super absurd bagi seorang anak SD yang kelak ketika berusia dua puluhan tahun sadar betul, bahwa jalan menjadi sastrawan di Indonesia tak sama mulusnya dengan menjadi pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil. Sayalah bocah kecil itu. Bocah yang bahkan belum tahu bagaimana melipat dengan benar celana dalam saya.

***

Ketika guru bahasa memaksa kami yang kelas dua SMA membaca sebuah karya sastra lalu menceritakannya di depan kelas, entah kenapa saya mengambil buku ini di perpustakaan. Tangan dan mata saya memilih sebuah buku yang bisa jadi, dan benar-benar bisa mengubah banyak hal dalam diri saya. ­­Sebuah buku yang kelak akan sangat mempengaruhi hidup, karier, cita-cita, cinta dan menjadi sesuatu yang membuat saya bisa menjaga jarak dengan diri saya. Buku itu berjudul Sang Penyair, sebuah buku prancis yang disadur ke dalam bahasa arab oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, penulis Mesir spesialis penguras air mata. Lanjutkan membaca

Review Halim Bahriz: Irwan Bajang Dan Puisi-Puisi Yang Dibuntuti Kepulangan

Sebuah review #KepulanganKelima yang lumayan panjang datang dari Halim Bahriz, seorang penggiat komunitas sastra cum penyair dan esais di Jember. Review ini ia tulis di blognya Remang di Persipangan. Selamat membaca.

kepulangan kelima

 

Membaca, tentu menjadi bagian dari upaya menjalin relasi spesifik dengan teks. Pembacaan, hampir selalu mengancam kita; jatuh cinta (atau sebaliknya), memiliki keinginan bersetubuh (atau membunuh) lalu melahirkan (atau menguburkan) “sesuatu” setelahnya. Untuk melahirkan, sebuah relasi spesifik memiliki kebutuhan mutlak atas persetubuhan. Mungkin,lewat persetubuhan itu, kita akan diperkenalkan pada dua hal: “tubuh-yang-natural”dan “tubuh-yang-kultural”.

Persetubuhan natural tergerak dari hasrat biologis murni tanpa memberi kesempatan bagi konsepsi relasi diperbincangkan lagi, dikonstruksi ulang, sebelum pada akhirnya tersusun kembali sebagai kitab suci yang baru: realitas pola relasi telah saling mengasah dengan pemahaman diri yang maksimal. Dalam persetubuhan natural, birahi ditukar terburu lalu meledak di tubuh masing-masing. Persetubuhan macam begini, tidak mengalami prosedur perkenalan yang kompleks, apalagi menghasilkan produk yang percaya diri.Tentu, banyak hal akan luput bahkan terancam gagal untuk sekedar terpilih menjadi ingatan.

Menuliskan pembacaan atas Kepulangan Kelima untuk bahan perbincangan kita malam ini, memberi kesempatan lebih pada cara persetubuhan yang natural itu. Ritus penelanjangan berlangsung lekas, atau bisa jadi ada lembaran-lembaran pakaian yang belum lepas, ada bagian-bagian tubuh yang belum dijamah sungguh-sungguh, ada konsekuensi kultural yang mesti ditanggung tetapi tak sempat masuk hitungan. Sementara birahi telah lebih dulu meledak. Meski begitu, proses persetubuhan kami beralaskan kerelaan, bukan pemaksaan seperti yang sering kita alami dalam institusi pendidikan formal: Persetubuhan adalah pemerkosaan. Entah, siapa yang diperkosa, teks atau pembaca.

Terkadang, ritus pembacaan teks membutuhkan waktu yang tak sebentar. Semisal, untuk merasakan grafitasi puitik sebaris /Mati kau dikoyak-koyak sepi/ milik Chairil Anwar bisa jadi membutuhkan durasi hingga berbulan-bulan. Akan tetapi, ada pula yang hanya melewati beberapa detik untuk memasuki ruang bergrafitasi puitik dari kata-kata Si Binatang Jalang yang bertahuan-tahun telah dikandangkan dalam kurikulum pendidikan formal sejak sekolah dasar itu. Mungkin, pemahaman atas wacana-wacana sastra yang berpengaruh besar atas terbentuknya batas-batas kemampuan seseorang mengalami grafitasi puitik itu. Meski jelas, hal itu tak sepenuhnya benar.

Pada suatu malam, saat angin kemarau mengeras dalam pori kulit, warung kopi langganan tengah didatangi bos-bos Philip Morris berambut pirang yang blepotan berbicara dalam bahasa Indonesia. Semua bungkus rokok ditukar dengan produk dari Philip Morris. Sebungkus Gudang Garam Surya milik teman yang masih tersisa tiga batang di dalamnya mereka ambil, lalu seorang lelaki berkulit seperti bayi babi menginjaknya sambil berkata: “This is not good!”. Tiba-tiba ada jantung yang berdenyut dengan cara berbeda. Ada kepala yang menyusun kata: “Inikah puisi? Apakah telah terjadi gempa puisi? Atau jangan-jangan, ruangan ini tengah bergrafitasi puitik?”

Lanjutkan membaca

Review: Kepulangan Kelima, Kerinduan Itu Menyergap

Saya menemukan sebuah review #KepulanganKelima di reverserunning.wordpress.com/ semoga menarik bagi yang mau baca.

kepulangan kelima

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah album musikalisasi puisi yang cukup menarik. Karya Irwan Bajang yang juga seorang pemilik Indie Book Publishing Yogyakarta dengan label; Indie Book Corner. Irwan juga dikenal sebagai penggiat sastra. Ini adalah proyek kolaborasi yang tergolong unik. Tak banyak penyair berani memproduksi album musik puisi sendiri seperti yang Irwan lakukan hari ini. Ari KPIN penggiat musik puisi asal Bandung dan Illustrator Oktora Guna Nugraha menjadi kawan kolaborasi Irwan. Sekilas melihat cover album ini tadinya aku mengira ini cuma musikalisasi puisi saja, ternyata tidak, ia lebih dari itu; bisa dibaca, didengar, dan dilihat.

Seketika pun gaungan komposisinya mengingatkanku pada Iwan Fals era 90′an yang dimix dengan Mukti-Mukti Mimesis Soul. Juga tak luput sentuhan maut Jeff Buckley menyadur Led Zepelin dalam melodi dan petikan gitar yang minimalis. Sendu-liris-merindu. Dibalut dengan balada rawkustik yang menghadirkan senyawa sunyi-sepi yang maksimal. Suara Ari KPIN yang khas terasa pas dilatari deklamasi puisi Irwan. Seketika juga menyeret isi kepalaku pada sebuah romantisme akan kampung halaman dibawah kaki ciremai sana. Aku hanya mampu merasai apa yang diperdengarkan dari track ke track yang terdapat di album ini. Bukan menafsirkan puisi-puisi didalamnya.

And this is the effect… Lanjutkan membaca

Review Buku: Tentang sebuah buku berjudul “Kepulangan Kelima”

Menemukan sebuah review dari @nadyaaisyah_ di blog tumblernya. Berikut ini review Album puisi, musik dan ilustrasi #KepulanganKelima yang ia tulis. Selamat membaca

kepulangan kelima

Kepulangan Kelima (April, 2013) sebuah buku berisi kumpulan puisi yang ditulis oleh Irwan Bajang (@Irwanbajang), yang diterbitkan oleh Indie Book Corner (@indiebookcorner). Sebagai penikmat buku, rasanya senang sekali bisa bertemu penulis dan mendapatkan buku langsung dari tangan penulisnya. Judul buku ini mengingatkanku bahwa ternyata keberadaanku di Jogjakarta pun sudah memasuki tahun kelima. Bacaan yang cocok untuk perantau yang mencoba berani menjajaki memori mereka akan kampung halaman, seperti salah satu puisi di dalamnya yang juga berjudul Kepulangan Kelima. Jadi perantau memang tak selalu indah, karena kenangan memang tak dapat bersahabat dengan waktu, toh kembali kepada situasi dan kondisi yang sama juga tidak mungkin, bukan?

Lanjutkan membaca